Salatiga: Sebuah Esai Foto

Kelenteng
Kelenteng Hok Tek Bio, di Jalan Letjen Sukowati, Salatiga

Salatiga adalah kota yang istimewa buat saya, bukan saja karena kota ini adalah kota kelahiran saya tetapi juga karena kota ini bisa dibilang tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit. Tidak ada mal yang mencolok. Bahkan, tidak ada gedung bioskop karena tiga gedung bioskop yang dahulu pernah dimiliki kota ini, yakni Reksa Theater, Madya Theater, dan Salatiga Theater sudah gulung tikar sejak bertahun-tahun lalu.

 

Salatiga
Salah satu sudut di jalan utama kota Salatiga.

Saya suka melihat kesibukan di pasar tradisional Salatiga meskipun becek, padat, dan terlihat kurang teratur tetapi ada banyak hal menarik yang tidak bisa dilihat di supermarket modern.

Labu
Labu air besar dijajakan oleh pedagang sayuran di pasar tradisional Salatiga.
Bunga
Kios pedagang bunga segar di pasar Salatiga.
Terompet
Pedagang terompet di pasar Salatiga, sehari sebelum Tahun Baru 2016.
Kuthuk
Anak ayam yang diberi berbagai warna untuk menarik perhatian anak-anak.
Los buah
Los pedagang buah di Jalan A Yani, Salatiga.

Semua keistimewaan dan kesederhanaan kota ini membuat saya selalu rindu untuk kembali. (*)

Main di Taman Kelinci dan Pecel Mbak Toen, Muncul

Masih liburan bareng keponakan di Salatiga, Jawa Tengah. Kali ini kami pergi ke Taman Kelinci yang berlokasi di kawasan wisata Muncul, tepatnya di jalur alternatif Ambarawa-Salatiga km 11.

Di Taman Kelinci ini ada banyak wahana permainan outbound, seperti flying fox, jembatan tali, meniti bambu, dan lain-lain. Ada juga perosotan, ayunan, kolam renang yang ukurannya tidak terlalu besar, kolam ikan, dan kandang kelinci dengan beberapa jenis kelinci yang lucu.

image

Kawasan wisata Taman Kelinci ini tidak terlalu luas tetapi cukup menantang untuk anak-anak. Udara yang sejuk dan hijaunya pepohonan membuat kami betah bermain di sana. Oya, tiket masuk ke Taman Kelinci Rp 5.000 per orang dan tiket parkir Rp 1.000 per sepeda motor, Rp 3.000 untuk mobil. Jika ingin berenang, pengunjung harus membayar tiket terpisah seharga Rp 5.000 per orang sedangkan untuk flying fox Rp 10.000 per orang.

Untuk paket grup atau rombongan, aktivitas yang ditawarkan lebih banyak lagi, seperti bercocok tanam, membatik, river tubing hingga offroad.

image

Semula keponakan saya agak takut-takut mencoba berbagai permainan outbound di sini. Tapi melihat anak-anak yang lain berani menjajal wahana tersebut, dia mulai tertarik untuk bermain. Anak-anak tetap harus didampingi orang dewasa dalam permainan ini.

Lama-kelamaan keponakan saya sudah berani mencoba wahana outbound yang lain, seperti jembatan yang terbuat dari tong, yang dilewati dengan cara merangkak. Bahkan dia berani mencoba flying fox yang tingginya sekira 20 meter, yay :mrgreen:

image

Permainan outbound yang ada di Taman Kelinci ini melatif fisik sekaligus keberanian dan kepercayaan diri anak.

Flying fox

Pengunjung dewasa yang mendampingi anak-anak bisa duduk-duduk di gazebo atau tempat lesehan yang ada di kawasan wisata ini. Beberapa pengunjung terlihat membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, jadi serasa piknik di taman. Buat yang enggak mau repot, di sini juga ada restoran yang menawarkan berbagai masakan.

Di mana kelincinya? Ketika kami berkunjung ke sana, kandang kelinci belum selesai dibersihkan sehingga kami tidak leluasa melihat kelinci-kelinci yang lucu. Informasi lebih lanjut soal Taman Kelinci bisa dilihat di http://www.taman-kelinci.com

Kelinci

Puas bermain di Taman Kelinci, kami sengaja tidak makan siang di sana. Kami ingin mampir ke Warung Pecel Mbak Toen yang berada tidak jauh dari Taman Kelinci, yakni di depan Pemandian Muncul (kolam renang dengan sumber air alami).

Mbak Toen

Meski bukan hari libur, siang itu Warung Pecel Mba Toen ramai oleh pengunjung. Kami memesan pecel mujair, pecel keong, dan kolak ketan. Pecel (Indonesian vegetables salad with peanut sauce) yang disajikan bersama nasi putih berisi kol, bayam, tauge, dan mie kuning yang disiram bumbu kacang encer. Lauknya ada tumis keong, mujair goreng, dan banyak pilihan lauk lainnya. Di warung ini juga menjual berbagai jenis peyek, keripik bayam, dan wader goreng (crispy baby fish).

image

image

Selepas menyantap pecel dan ikan mujair yang gurih, giliran kolak ketan kami cicipi. Kolak ketan di warung ini adalah kolak pisang yang disajikan dengan beras ketan putih.

image

Waaah, kenyang…alhamdulillah :mrgreen: Untuk tiga porsi nasi pecel, dua ikan mujair goreng yang besar (satu ekor mujair goreng akhirnya kami bungkus dan bawa pulang), dan dua mangkuk kolak ketan, total harganya Rp 75.000 saja. Kapan-kapan jika Anda ke Salatiga, jangan lupa cobain pecel dan kolak Mbak Toen, ya. (*)

Liburan Bersama Si Kecil

Liburan panjang akhir tahun seperti saat ini saya mengajak keponakan bermain di sejumlah ruang terbuka hijau yang ada di Salatiga, kota kecil yang sejuk di kaki Gunung Merbabu. Kota ini berada di antara perlintasan jalur Semarang-Solo.

Sore hari, paling cocok jalan-jalan ke Lapangan Pancasila yang merupakan alun-alun kota Salatiga. Lapangan ini berada tidak jauh dari Kantor Walikota dan Masjid Agung Salatiga. Di sini banyak disewakan otoped, mobil Upin-Ipin, dan mini ATV. Banyak juga penjual makanan dan mainan yang menawarkan dagangannya di pinggir Lapangan Pancasila.

Harga sewa otoped selama 50 menit adalah Rp 10.000 sedangkan untuk mobil-mobilan yang dijalankan dengan cara dikayuh (mobil Upin-Ipin) yang bentuknya mirip VW Kodok ini dibanderol Rp 20 ribu.

image
Bermain otoped di Lapangan Pancasila, Salatiga

Selain di Lapangan Pancasila, ada taman kota yang belum lama ini diresmikan, yakni Taman Kota Tingkir, yang berada di Kecamatan Tingkir, Salatiga. Sebelum menjadi taman kota, lahan tersebut adalah lapangan sepak bola.

Saat ini pepohonan yang ada di Taman Tingkir memang belum rindang karena masih kecil-kecil. Kolam ikan yang disiapkan juga belum diisi air. Namun tempat bermain untuk anak-anak sudah dapat dinikmati, antara lain ayunan, jungkat-jungkit, dan komidi putar manual. Di taman ini juga terdapat lapangan voli dan di bagian tengah ada semacam arena terbuka dengan jalur berbatu untuk refleksi kaki maupun jalur paving block.

image
Taman Tingkir, taman kota yang belum lama ini diresmikan di Salatiga

Pada pagi dan sore hari, taman ini ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Sebagaimana di Lapangan Pancasila, di kawasan taman ini juga bisa ditemui penyewaan otoped, motor trail mini, hingga odong-odong. Jogging track-nya lebar, malah banyak yang memanfaatkannya untuk bersepeda atau bermain sepatu roda dan skateboard.

image
Terdapat jalur berbatu-batu untuk refleksi di Taman Tingkir, Salatiga

Pengunjung taman tidak perlu membayar untuk menikmati fasilitas taman ini. Biaya parkir sepeda motor pun hanya Rp 1.000. Tidak perlu khawatir merasa haus dan lapar, ada banyak penjual makanan dan minuman dari kelas pedagang kaki lima hingga restoran di kawasan ini.

Satu lagi ruang terbuka hijau yang bisa jadi tempat nongkrong yang asyik bersama teman atau keluarga adalah Selasar Kartini yang berada di sepanjang Jl Kartini, Salatiga. Dahulu tempat ini hanya pedestrian biasa. Sejak beberapa tahun lalu, kawasan ini bersolek dan ditata rapi. Pedestriannya lebih lebar, ada banyak tempat untuk duduk-duduk di sepanjang jalan yang teduh karena dinaungi banyak pohon besar.

image
Selasar Kartini, pedestrian yang nyaman

Di salah satu sudut Selasar Kartini, tidak jauh dari gerbang SMU 3 Salatiga, ada kios kecil yang disediakan oleh Perpustakaan dan Arsip Daerah (Persipda) Salatiga agar pengunjung bisa meminjam dan membaca buku secara gratis sembari duduk-duduk di Selasar Kartini. Anak-anak juga bisa bermain dengan sepeda motor mini, sepatu roda, atau otoped yang disewakan di kawasan ini. Boleh juga selfie atau welfie di tempat yang asri ini, biar kekinian 😁
Semoga cerita kali ini bisa menjadi inspirasi untuk mengisi liburan bersama keluarga. (*)