Teluk Ijo, Pantai Tersembunyi di Banyuwangi

Perjalanan kami dari Kawah Ijen dilanjutkan ke Banyuwangi. Kami ingin mengunjungi Teluk Ijo atau Teluk Hijau atau Green Bay menurut sebutan wisatawan asing. Rute menuju Teluk Ijo dari Kawah Ijen adalah melalui Jalan Banyuwangi-Jember, kurang lebih jaraknya 103 kilometer.

Dari kota Banyuwangi menuju kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini ditempuh sekitar tiga jam. Memasuki wilayah PTPN XII, jalanan semakin menyempit dan berbatu-batu. Di kanan dan kiri jalan, kita bisa melihat tanaman kakao yang menjadi produk utama di PTPN XII.

Ketika sampai di Pos Penjaga yang ada di Taman Nasional Meru Betiri, pengunjung diminta mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk. Untuk hari Senin-Jumat, tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 5.000 per orang/hari dan untuk wisatawan asing Rp 150 ribu per orang/hari. Untuk weekend, tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 7.500 per orang/hari dan untuk wisatawan asing Rp 225.000 per orang/hari. Untuk pengunjung yang membawa kendaraan bermotor, harus membayar Rp 5.000 per unit/hari sedangkan untuk kendaraan bermotor roda empat Rp 10.000 per unit/hari.

Dari pos tersebut, kami masih harus melalui jalan perkampungan menuju Pantai Rajegwesi. Untuk mencapai Teluk Ijo, pengunjung bisa menggunakan dua cara. Pertama, melalui jalan setapak melewati hutan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Kedua, naik kapal dari Pantai Rajegwesi dengan biaya Rp 15.000 per orang untuk sekali jalan.

Sebelum mencapai Teluk Ijo, pengunjung akan melewati Pantai Batu.

Sebelum mencapai Teluk Ijo, pengunjung akan melewati Pantai Batu.

Jalan setapak diawali dengan jalan berundak-undak yang cukup menanjak, lalu mendatar dan menurun. Jalan tanah tersebut kadang kala becek dan licin setelah hujan. Itu sebabnya di beberapa turunan terdapat tali yang bisa digunakan untuk berpegangan ketika menuruni atau menaiki jalan setapak tersebut.

Jalan setapak melewati hutan, sesekali terdengar suara monyet dan serangga hutan. Sebelum mencapai Teluk Ijo, pengunjung akan melewati Pantai Batu. Pantai ini diberi nama sesuai dengan banyaknya batu yang ada di pinggir pantai. Sebagian besar batu yang ada di pantai tersebut berbentuk oval, halus seperti pebble stone.

Memasuki Teluk Hijau, pengunjung akan melihat papan nama dan koordinat pantai tersebut.

Memasuki Teluk Hijau, pengunjung akan melihat papan nama dan koordinat pantai tersebut.

Akhirnya setelah berjalan cukup lama, kami mulai melihat pantai dengan pasir coklat yang bersih. Pantai yang ada di Teluk Hijau ini ibarat pantai perawan. Lokasinya yang berada di antara tebing-tebing batu seolah tersembunyi. Ketika kami sampai di sana, tidak ada pengunjung lain yang terlihat. Benar-benar serasa berada di pantai pribadi!

Pantai dengan pasir yang halus dan bersih ini sepi pengunjung. Serasa berada di private beach.

Pantai dengan pasir yang halus dan bersih ini sepi pengunjung. Serasa berada di private beach.

Di pinggir pantai ini terdapat sebuah gubuk kecil yang bisa digunakan untuk beristirahat. Ada sebatang pohon dan ayunan yang terbuat dari karet bekas ban mobil. Ombak di pantai ini cukup bersahabat, tetapi jika ingin berenang atau bermain air tetap waspada untuk tidak terlalu ke tengah.

Cuaca yang sedikit mendung tidak mengurangi keindahan pantai di Teluk Hijau. Kami berpapasan dengan beberapa penduduk yang ingin memancing di pantai ini. Mereka bergerak jauh hingga ke tebing karang yang cukup terjal untuk dinaiki.

Air terjun kecil di tepi pantai yang kering di kala kemarau.

Air terjun kecil di tepi pantai yang kering di kala kemarau.

Di pinggir pantai ini juga terdapat bekas aliran air di tebing. Ketika kami berkunjung ke sana, memang saat kemarau. Pada musim hujan, aliran air di tebing tersebut akan lebih deras dan menjadi semacam air terjun mini. Wah, pasti pemandangannya lebih indah.

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini sangat luas. Selain Teluk Ijo, terdapat beberapa pantai lainnya, seperti Pantai Bandealit, Pantai Rajegwesi, dan Pantai Sukamade. Perlu beberapa hari untuk bisa mengeksplorasi kawasan ini. Sayangnya, waktu kami tidak banyak. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali ke sini untuk menjelajah pantai-pantai lainnya.

Pemandangan Teluk Hijau dari atas tebing.

Pemandangan Teluk Hijau dari atas tebing.

Advertisements

Pesona Pantai Batu Granit Belitung

Penerbangan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta ke Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung hari itu cukup ramai. Setelah terbang sekitar satu jam, pesawat mendarat di bandara yang tidak seberapa besar.

Udara siang itu panas. Tidak ada bagasi yang harus saya tunggu. Di luar, ada rombongan yang menjemput keluarga atau teman yang datang. Ada juga para pengelola paket perjalanan (travel) yang menawarkan sewa kendaraan dengan mobil minibus atau ELF, siap membawa Anda berkeliling Pulau Belitung.

Rombongan kami sekitar 25 orang, disambut oleh Dewi, seorang pemandu wisata yang kemudian menggiring kami ke bus pariwisata yang telah menunggu. Belitung menjadi salah satu destinasi wisata domestik favorit seiring popularitas novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang kemudian diangkat ke layar lebar.

Kami menuju Pantai Tanjung Tinggi, sekitar 30 kilometer dari Tanjung Pandan. Pantai ini juga disebut sebagai Pantai Laskar Pelangi karena menjadi lokasi syuting film tersebut. Udara panas ditingkahi angin sepoi-sepoi ketika bus memasuki tempat parkir di pantai ini. Banyak pohon besar yang menahan terik matahari, ada juga pohon yang usianya terlihat cukup tua, akar-akarnya menjulur memeluk batu-batu granit besar yang ada di sekitarnya.

Pantai Tanjung Tinggi, lokasi syuting film Laskar Pelangi

Pantai Tanjung Tinggi, lokasi syuting film Laskar Pelangi

Batu granit dalam ukuran raksasa bertebaran di pantai ini. Dewi bilang batu-batu itu muncul dari dalam tanah. Ada juga teori yang menyatakan batu-batu itu merupakan hasil erupsi vulkanis Gunung Krakatau.

Gagahnya granit bersanding dengan pasir putih yang lembut, hampir mirip tepung.  Air laut berwarna biru kehijauan dan jernih, ombak di pantai ini pun bersahabat, cocok untuk bermain air, snorkeling atau mencoba perahu kayak. Pantai Tanjung Tinggi ini relatif sepi jika Anda datang bukan di hari libur.

Batu-batu granit menghiasi pantai ini

Batu-batu granit menghiasi pantai ini

Setelah puas menyusuri Pantai Tanjung Tinggi, kami menuju Bukit Berahu. Ini adalah salah satu spot favorit bagi warga Tanjung Pandan untuk menghabiskan sore, menunggu matahari terbenam.

Di Bukit Berahu sudah ada semacam resort, Anda bisa menginap di cottage atau pondok-pondok kayu yang ada di pinggir pantai ini. Dari atas bukit, setelah menuruni hampir seratus anak tangga, Anda akan sampai di bibir pantai. Batu-batu granit masih terlihat di pantai ini, namun tidak sebanyak di Pantai Tanjung Tinggi.

Pondok kayu yang berada di tepi pantai

Pondok kayu yang berada di tepi pantai

 

Pasir Pantai Bukit Berahu juga putih dan lembut. Dari kejauhan, terlihat kapal-kapal nelayan maupun kapal yang lebih besar. Saya menyusuri sisi lain dari pantai ini, yang pasirnya lebih pekat, untuk melihat perahu-perahu nelayan lebih dekat. Ada peringatan yang tertempel di pohon agar pengunjung berhati-hati berenang di pantai ini karena banyak ubur-ubur, sengatnya bisa menimbulkan rasa gatal dan panas seperti terbakar. Sayang, sore itu kurang sempurna karena mendung menutup semburat merah senja.

Pasir putih juga terlihat di Pantai Bukit Berahu

Pasir putih juga terlihat di Pantai Bukit Berahu

Senja di Bukit Berahu diliputi mendung

Senja di Bukit Berahu diliputi mendung

Pergi ke Pulau

Hari kedua di Tanjung Pandan. Destinasi berikutnya adalah Pantai Tanjung Kelayang. Pantai ini lebih ramai dibanding Tanjung Tinggi atau Bukit Berahu. Dari pantai ini, kami akan menuju Pulau Lengkuas, di sana terdapat mercusuar.

Perahu berjajar di tepi pantai

Perahu berjajar di tepi pantai

Perahu-perahu bermotor berjajar di tepi pantai. Biasanya pemilik atau operator perahu bekerja sama dengan pengelola paket perjalanan. Sewa perahu kecil mulai dari Rp 450 ribu sedangkan untuk perahu besar Rp 750 ribu, harga ini sudah termasuk sewa pelampung (life jacket) untuk masing-masing penumpang. Perahu yang besar bisa mengangkut hingga 12 orang penumpang.

Udara yang cerah mendukung aktivitas island hopping kami. Sepanjang perjalanan, kami melewati beberapa spot yang menarik. Batu Garuda adalah salah satu ikon Pantai Tanjung Kelayang. Susunan batu granit dari jauh terlihat seperti burung dengan paruhnya yang lancip, sejenis tanaman semak yang tumbuh di atas batu membuat burung itu seolah-olah berjambul.

Ikon Pantai Tanjung Kelayang

Ikon Pantai Tanjung Kelayang

Selain batu Garuda, ada juga Pulau Pasir atau Pulau Gosong. Ini adalah pulau pasir putih yang kecil, tidak ada vegetasi, bebatuan atau bangunan di atasnya.

Perahu motor melaju cepat di tengah ombak, dari perairan dangkal yang biru jernih dan terlihat dasar lautnya, kami menuju perairan yang lebih dalam. Warna air laut berubah lebih gelap, ombak yang lebih besar mulai terasa. Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di Pulau Lengkuas.

Pantai di Pulau Lengkuas, Desa Tanjung Binga, Belitung ini sama seperti pantai-pantai sebelumnya, dihiasi pasir putih dan batu-batu granit. Satu sisi pantai yang landai menjadi tempat perahu-perahu bermotor merapat. Sisi lainnya yang berbatu-batu jadi sasaran pengunjung yang ingin berfoto di atas batu granit.

Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang merupakan kembaran mercusuar yang ada di Pantai Anyer, Banten

Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang merupakan kembaran mercusuar yang ada di Pantai Anyer, Banten

Saya merasa seperti deja vu. Ini kali pertama saya ke Belitung, tetapi mercusuar itu seperti pernah saya kunjungi. Seorang petugas penjaga mercusuar mengatakan, mercusuar ini adalah kembaran dari mercusuar yang ada di Anyer, Banten. Pantas saja saya merasa seperti pernah berkunjung ke mercusuar ini.

Mercusuar ini dibangun pada tahun 1882. Itu bisa Anda baca pada plakat yang ditempel di badan mercusuar ini: Veervaardicd door LI Enthoven & Co, Fabrikanten te Gravenhage 1882.

Penjaga akan meminta Anda melepas alas kaki dan mencuci kaki sebelum mendaki 18 lantai menuju puncak mercusuar. Ini dilakukan untuk menjaga kelestarian mercusuar yang usianya sudah 132 tahun.

Siapkan nafas dan tenaga yang cukup untuk mendaki tangga menuju puncak mercusuar. Pemandangan 360 derajat yang terlihat dari puncak mercusuar memang luar biasa. Gugusan pulau-pulau, putihnya pasir pantai dan gradasi warna air laut, serta kapal-kapal kayu yang berlayar memang memukau. Tetaplah berhati-hati karena hembusan angin cukup kuat di puncak mercusuar.

Bagi pecinta snorkeling, laut dangkal di sekitar Pulau Lengkuas ini juga bisa jadi spot menarik. Namun jika ombak mulai tinggi, sebaiknya tunda aktivitas snorkeling  Anda karena banyak bulu babi (sea urchin) berkeliaran. Jangan sampai duri yang beracun dari si bulu babi melukai kulit Anda, karena bisa menimbulkan bengkak granuloma. Segera tuangkan amonia cair pada kulit yang tersengat duri bulu babi. Untuk mengurangi nyeri, luka bisa dikompres dengan air hangat. Mintalah suntikan anti tetanus untuk mencegah infeksi.

Masih betah rasanya berlama-lama di Pulau Lengkuas, tapi perahu sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke Tanjung Kelayang. Selamat tinggal Belitung, suatu saat kami akan kembali. (*)

Menikmati Keindahan Alami Sawarna (2): Tanjung Layar

Setelah main-main ke Goa Lalay, kami kembali ke penginapan. Matahari sudah tinggi, panasnya cukup menyengat.

Setelah menyantap makan siang, kami punya waktu beberapa jam untuk beristirahat. Udara di luar cukup panas, kipas angin yang ada di dinding kamar tak mampu mengusir gerah. Tapi siang itu kami sempat tidur sebentar, mungkin karena lelah sehabis tracking ke goa.

Ba’da Ashar, kami bersiap untuk menuju Pantai Tanjung Layar. Seperti yang sudah-sudah, kami berjalan kaki dari penginapan menuju Pantai Tanjung Layar. Sebenarnya bisa saja Anda menyewa ojek untuk ke Pantai Tanjung Layar. Tapi jalan kaki pun tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 30-45 menit. Tiket masuk ke Pantai Tanjung Layar ini seharga Rp 5.000 per orang.

Kami menyusuri jalan tanah yang tidak terlalu lebar menuju Pantai Tanjung Layar.

Kami menyusuri jalan tanah yang tidak terlalu lebar menuju Pantai Tanjung Layar.

Inilah batu karang yang mirip layar sehingga pantai ini dinamai Pantai Tanjung Layar

Inilah batu karang yang mirip layar sehingga pantai ini dinamai Pantai Tanjung Layar

Akhirnya kami sampai juga di Pantai Tanjung Layar, sambil menunggu sunset. Kami bermain air dan berfoto di dekat karang tersebut.

Sesekali ombak memecah di karang yang ada di pantai ini

Sesekali ombak memecah di karang yang ada di pantai ini

Kami terlalu asyik bermain air, sampai tak sadar air mulai pasang. Kami buru-buru ke pinggir pantai. Ups, saya tergelincir dan kamera saya pun masuk ke dalam air. Kisah sedih bermula di sini. Ah, kamera saya pasti rusak kemasukan air.

Ketika sampai di pantai, segera saya keluarkan baterai dari kamera dan mengeringkannya sebisa mungkin. Ah, padahal sebentar lagi sunset…

Maafkan, foto-foto berikutnya mungkin kurang bagus karena diambil dengan kamera Blackberry.

Ombak tinggi menerpa karang

Ombak tinggi menerpa karang

 

Matahari sebentar lagi tenggelam

Matahari sebentar lagi tenggelam

Menunggu sunset memang harus sabar, tapi ketika sunset datang. Wow, benar-benar indah. Sebuah penantian yang berbuah manis.

Sinar matahari keemasan, senja begitu indah di Tanjung Layar

Sinar matahari keemasan, senja begitu indah di Tanjung Layar

 

Ketika senja semakin sempurna, rasanya tak ingin beranjak dari tempatku memandang sang surya tenggelam.

Ketika senja semakin sempurna, rasanya tak ingin beranjak dari tempatku memandang sang surya tenggelam.