Ah Poong, ‘Pasar Terapung’ di Sentul & Eco Art Park

Sekali lagi cerita tentang perjalanan singkat ke Sentul. Mungkin tulisan ini akan berguna untuk pembaca yang ingin mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus selain Gunung Pancar atau Jungleland Sentul.

Ah Poong merupakan kawasan wisata kuliner di Sentul City yang menampilkan pemandangan ke sungai Cikeas. Letaknya tidak jauh dari pintu keluar tol Sentul. Di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner lalu mencoba naik perahu yang ada di sungai atau danau buatan di kawasan ini jadi sebenarnya bukan benar-benar pasar terapung seperti di Lok Baintan, Kalimantan Selatan.

Ahpoong5

Pasar Ah Poong, Sentul City.

Pengunjung bisa memilih duduk di bangku-bangku yang menghadap ke sungai atau di bagian lain yang menghadap ke danau buatan. Untuk membeli makanan di Ah Poong, pengunjung harus menukar sejumlah uang dengan kartu yang dikeluarkan oleh pengelola. Kartu inilah yang menjadi alat pembayaran.

Setelah memesan makanan, saldo kartu diserahkan ke kasir dan saldo akan berkurang sesuai harga makanan. Saldo minimum di kartu ini kalau tidak salah Rp 15.000. Jadi, saldo harus di-top up jika sudah menyentuh batas minimum. Setelah selesai makan, pengunjung bisa mengembalikan kartu ke kasir utama dan mendapatkan sisa saldonya. Memang sedikit merepotkan bagi yang belum terbiasa.

Ahpoong7

Berbagai kios makanan yang bisa dipilih pengunjung di Ah Poong.

Ada macam-macam makanan mulai dari mie kocok, bakso Malang, soto mie, gado-gado, sate, hingga sop duren ada di sini. Tinggal pilih sesuai selera. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000.

Ahpoong9

Naik perahu di danau buatan Ah Poong.

Di danau buatan yang ada di Ah Poong, pengunjung bisa memberi makan ikan koi dan ikan mas yang dipelihara di sini. Lalu mengelilingi danau dengan perahu, berikan uang tip yang sekiranya pantas untuk tukang dayung perahu karena mereka tidak menetapkan tarif.

Ahpoong8

Sepeda air bisa disewa untuk mengelilingi danau buatan di Ah Poong.

Jika sudah puas makan-makan dan main air di Ah Poong, mampir juga ke Eco Art Park yang ada di sebelah kawasan kuliner ini. Area Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul dihubungkan oleh jembatan berlantai kayu dengan lengkungan yang cukup ikonik. Jembatan ini sering menjadi arena selfie atau welfie para pengunjung.

Ahpoong6

Menyeberangi jembatan berlantai kayu yang menghubungkan Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul.

Di Eco Art Park yang teduh karena dinaungi pepohonan besar, ada berbagai patung yang menarik. Ada patung Sumo, ada juga patung yang terbuat dari susunan ban bekas mirip robot dalam film Transformer. Anak-anak senang berfoto di dekat patung-patung ini.

Ahpoong4

Transformer ala Eco Art Park, Sentul.

Ada juga peraga alat komunikasi, semacam parabola berwarna-warni dan sepeda yang bisa dijalankan di atas seutas tambang baja.

Ahpoong2

Parabola warna-warni di Eco Art Park.

Nah, sekian dulu cerita tentang Ah Poong dan Eco Art Park. Selamat jalan-jalan ke Sentul!

Advertisements

Mencicipi Kuliner Banyumas di Umaeh Inyong

Belum lama ini di media massa ramai pembicaraan tentang mendoan, salah satu makanan khas Banyumas, yang menjadi hak merk bagi perorangan sehingga menimbulkan banyak protes. Post ini tidak akan banyak menyinggung soal mendoan, tempe yang diiris tipis lalu digoreng dengan lapisan tepung terigu yang biasanya dinikmati dengan dicocol ke sambal kecap itu.

Saya ingin bercerita tentang Umaeh Inyong, salah satu rumah makan di Purwokerto yang menyajikan masakan khas Banyumas. Umaeh Inyong atau dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Saya, berada di Jl A Yani No 47, Purwokerto.

Bangunan restoran ini adalah rumah kuno dengan interior bergaya tempo doloe. Di halaman samping, ada vespa berwarna merah yang menghiasi salah satu sudut restoran ini. Ketika memasuki restoran ini, ternyata halaman belakangnya cukup luas dan asri. Pengunjung bisa memilih makan di area rumah atau di joglo yang ada di halaman belakang.

Menurut teman saya, Umaeh Inyong dimiliki oleh salah satu artis terkenal jaman dulu, Yati Octavia. Rumah tinggal itu diubah menjadi resto beberapa tahun yang lalu.

image

Di halaman belakang Umaeh Inyong ada joglo

image

Ada becak yang menjadi aksen di halaman belakang Umaeh Inyong

Siang itu udara cukup panas tetapi di halaman belakang Umaeh Inyong angin bertiup sepoi-sepoi bikin ngantuk. Saya memesan nasi rames Banyumasan dan es cincau, sedangkan teman saya memesan oseng dage lombok ijo.

image

Nasi rames Banyumas ala Umaeh Inyong

Nasi rames Banyumasan ini cukup lengkap, ada nasi putih, serundeng, telur rebus, suwiran daging ayam, mie goreng, kering kentang, dan potongan timun. Es cincaunya berisi cincau hijau dengan santan dan gula merah yang dimasak dengan daun pandan. Oseng dage lombok ijo terbuat dari tempe gembus yang ditumis dengan bumbu kecap dan cabai hijau besar, rasanya cukup pedas dan khas. Menu lain yang tersedia di resto ini tentu saja ada mendoan, sega bandem, pepes bandeng, dan lain-lain. Harga makanan dan minuman mulai Rp 4.000- Rp 160 ribu untuk paket.

image

Es cincau dengan santan dan gula merah

Di rumah makan ini juga dijual oleh-oleh Banyumas seperti soklat (cokelat) khas Banyumas, sayangnya saya belum sempat mencicipi. Ada juga batik dengan motif Banyumasan.

image

Batik dengan motif Banyumasan di Omaeh Inyong

Menurut informasi, resto ini juga menawarkan kelas membuat cokelat ala Banyumas untuk anak-anak pada hari tertentu. Sekian dulu laporan saya tentang Umaeh Inyong. Kalau suatu saat Anda berkunjung ke Purwokerto, Jawa Tengah, mungkin Anda bisa mampir ke Umaeh Inyong :mrgreen:

Kuliner Bogor: Toge Goreng dan Lumpia Basah

Bogor yang terkenal sebagai Kota Hujan dan Kota Seribu Angkot punya berbagai kuliner khas yang memikat. Selain asinan sayur dan asinan buah, ada banyak pilihan bagi wisatawan yang ingin menggoyang lidah.

Seperti Rabu lalu ketika saya singgah di Bogor. Perjalanan dengan commuter line dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Bogor memakan waktu sekira 1,5 jam. Tengah hari benar saya sampai di Stasiun Bogor yang sibuk. Perut keroncongan. Ketika keluar dari stasiun, berjejer-jejer angkot yang ingin menarik penumpang. Saya menyeberang jalan, lalu berjalan mencari bakal makan siang.

Di sebelah SMP 1 Bogor, ada banyak penjual makanan, semacam kantin kaki lima. Saya tertarik mencoba Toge Goreng yang dijajakan di salah satu warung. Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya pesan es kelapa muda dari warung di sebelahnya.

image

Satu porsi toge goreng siap disantap

Es kelapa yang saya pesan, biasa saja bahkan cenderung terlalu manis untuk lidah saya. Nah, akhirnya toge goreng yang ditunggu-tunggu datang juga. Porsinya cukup besar. Di dalam piring ada toge, mie, tahu goreng yang dipotong kecil-kecil, dan potongan ketupat yang kemudian disiram dengan bumbu tauco, cabe, dan kecap. Hmm…rasanya mantap dan pedasnya pas. Harga seporsi toge goreng ini cukup ditebus Rp 10 ribu saja, murah kan…

Sebenarnya toge goreng ini dijual di banyak tempat di Bogor, tidak terlalu sulit mencarinya. Di Jakarta, kadang-kadang bisa kita jumpai penjual toge goreng dengan pikulannya yang khas tapi itupun jarang sekali.

Setelah kenyang makan siang dan menyelesaikan urusan di Bogor, saya harus kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju Stasiun Bogor, ada penjual jajanan yang cukup ramai pelanggannya di trotoar yang berada di depan Gereja Bethlehem, di Jalan Suryakencana, Bogor.

Di situ ada Soto Mie, Siomay, dan yang menarik perhatian saya adalah Lumpia Basah. Saya memesan satu porsi lumpia basah yang pedas. Semula saya pikir lumpia basah ala Bogor ini sama seperti lumpia basah Semarang. Ternyata penampakannya berbeda.

image

Lumpia basah yang ini berbeda dengan lumpia basah ala Semarang.

Ketika pesanan saya datang, ada campuran telur, toge (tauge), dan semacam kwetiau yang ditutup dengan selimut kulit lumpia, disajikan di atas piring kecil beralas daun pisang. Untuk menikmatinya, gunakan sumpit.

Ketika dibuka kulit lumpianya, terlihat toge, telur, dan kwetiaunya berpadu dengan bumbu yang pedas dari cabe, bawang putih, dan kecap manis. Orang Bogor itu kreatif, ya. Nyatanya dari toge saja bisa diolah menjadi toge goreng dan lumpia basah. Oya, kalau lumpia basah versi Semarang, isinya adalah tumisan rebung yang dikombinasikan dengan daging ayam, sapi atau udang. Jadi, kedua versi lumpia basah ini benar-benar berbeda meskipun memiliki julukan yang sama.

image

Abang tukang lumpianya terima pesanan juga lho

Satu porsi lumpia basah ini harganya murah saja, cuma Rp 6 ribu. Ehm…wisata kuliner singkat di Bogor kali ini sangat menyenangkan dan mengenyangkan. Kapan-kapan saya akan jalan-jalan lagi ke Bogor dan mencoba makanan khas yang lain. (*)

Hunting Kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango

Festival Jajanan Bango (FJB) 2015 merupakan salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta kuliner Nusantara. Event tahun ini genap sepuluh tahun FJB diselenggarakan. Minggu (14/6) sore, saya menuju Plaza Barat Senayan untuk icip-icip berbagai kuliner yang dijajakan di sana. Kabarnya, ada sekitar 50 jenis makanan yang hadir di FJB 2015 ini.

Kawasan Gelora Bung Karno hari itu sangat ramai. Maklum, beberapa event diselenggarakan bersamaan, antara lain Pasar Rakyat Syariah-OJK, Burtok (Bursa Toyota Kita), Indonesia Cellular Show (ICS) 2015, dan FJB 2015.

Ketika sampai di Plaza Barat Senayan sekitar pukul 17.00 WIB, pengunjung FJB 2015 sudah ramai. Beberapa outlet dipadati antrean panjang, misalnya Sate Klathak, Ketan Susu, Nasi Goreng Rempah Mafia, dan lain-lain.

Pengunjung rela antre untuk mencicipi kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2015

Pengunjung rela antre untuk mencicipi kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2015

Sebenarnya saya penasaran dengan sate klathak Jogja dan nasi goreng rempah mafia tetapi melihat antrean yang sangat panjang, saya memilih outlet yang antreannya tidak terlalu panjang. Semua makanan di outlet yang ada di FJB 2015 ini dibanderol Rp 20 ribu per porsi, langsung bayar cash di outlet. Untuk pengunjung yang mengundung aplikasi FJB 2015 di Google Store, diberikan voucher senilai Rp 5 ribu yang bisa ditukarkan di bagian informasi. Jadi, lumayan bisa lebih murah sedikit untuk porsi pertama cicip-mencicip 🙂

Thengkleng Klewer Bu Edi, kuliner yang khas dari Solo

Thengkleng Klewer Bu Edi, kuliner yang khas dari Solo

Ini dia makanan yang pertama saya cicip, thengkleng Klewer Bu Edi dari Solo, Jawa Tengah. Thengkleng adalah makanan semacam gule dengan isi potongan daging sapi tetapi kuahnya tidak terlalu pekat. Menurut saya, thengkleng ini kurang nendang bumbunya, mungkin karena mangkuk saya ini adalah porsi kesekian ratus hehe.

Semakin sore, pengunjung terus bertambah. Ruang gerak semakin sempit, kadang-kadang kami harus berdesak-desakan untuk bergerak dari satu outlet ke outlet yang lain. Dari Indonesia Tengah, saya ingin mencoba masakan Indonesia Barat atau Timur. Pilihan jatuh pada Roti Cane Kuah Kari dari Resto Seulawah (Bendungan Hilir, Jakarta Pusat).

Roti cane kuah kari dari Resto Seulawah yang rasanya mantap

Roti cane kuah kari dari Resto Seulawah yang rasanya mantap

Hari mulai gelap. Antrean pengunjung semakin menyemut. Pilihan saya rupanya tepat. Saya menjadi salah satu dari enam pengantre yang mendapatkan porsi terakhir roti cane kuah kari Seulawah. Roti canenya mantap, terasa manis dan gurih margarine, tidak terlalu tebal, dan pinggirannya renyah. Ketika roti dicelup ke dalam kuah kental kari khas Aceh, mantap benar rasa gurih, manis, dan rempah-rempah kari beradu.

Malam hari, pengunjung FJB 2015 semakin banyak.

Malam hari, pengunjung FJB 2015 semakin banyak.

Sayang sekali, saya tidak sempat mencicip kuliner lainnya. Jumlah pengunjung yang semakin banyak membuat lokasi FJB 2015 semakin padat. Udara panas membuat saya kegerahan.

Sebelum pulang, mampir dulu ke lokasi foto-foto dan pajangan makanan yang ada di salah satu sudut FJB 2015.

Pengunjung melihat dari dekat display makanan 'palsu' yang terbuat dari lilin.

Pengunjung melihat dari dekat display makanan ‘palsu’ yang terbuat dari lilin.

Ini dia 'makanan' yang menggoda, tapi awas tertipu :)

Ini dia ‘makanan’ yang menggoda, tapi awas tertipu 🙂

Display makanan dari berbagai daerah di Nusantara terlihat menggoda dan sangat mirip dengan aslinya. Padahal, ‘makanan’ itu terbuat dari lilin. Meskipun ada peringatan agar pengunjung tidak menyentuh display makanan tersebut, masih ada beberapa pengunjung yang mungkin tidak sengaja menyentuh karena penasaran.

Pengunjung berfoto di salah satu diorama Kecap Bango

Pengunjung berfoto di salah satu diorama Kecap Bango

Rasanya, satu hari tidak cukup untuk mencoba semua kuliner Nusantara yang ada di FJB 2015. Mungkin penyelenggara bisa mempertimbangkan untuk memperpanjang waktu festival untuk tahun-tahun berikutnya agar pengunjung bisa lebih puas menikmati jajanan yang ada.

Kampung Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa

Dirgahayu Jakarta! Usia Jakarta menginjak 487 tahun pada 22 Juni lalu. Kampung Betawi ini sudah menjadi megapolitan, melting pot dari berbagai etnis. Jakarta adalah cermin Indonesia mini.

Untuk yang kangen dengan suasana kampung Betawi, mungkin bisa menyambangi Kampung Betawi yang ada di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selain bisa menikmati pertunjukan budaya Betawi pada hari-hari tertentu, wisata kuliner dan wisata keluarga di sekitar Setu Babakan juga boleh dilirik.

Di pinggir Setu Babakan terdapat banyak warung penjual makanan tradisional Indonesia, dari ketoprak, toge goreng, gado-gado, laksa, hingga kerak telor.

Di pinggir Setu Babakan terdapat banyak warung penjual makanan tradisional Indonesia, dari ketoprak, toge goreng, gado-gado, laksa, hingga kerak telor.

Setu Babakan

Pemandangan dari pinggir danau atau setu pada siang hari

Naik perahu naga seperti ini untuk mengelilingi Setu Babakan, biayanya Rp 10 ribu per orang.

Naik perahu naga seperti ini untuk mengelilingi Setu Babakan, biayanya Rp 10 ribu per orang.

Sepeda air

Berwisata bersama keluarga di Setu Babakan juga bisa dilakukan dengan menyewa sepeda air untuk mengelilingi setu.

Rumah tradisional Betawi yang ada di Kampung Betawi Setu Babakan, Jagakarsa

Rumah tradisional Betawi yang ada di Kampung Betawi Setu Babakan, Jagakarsa

Panggung pertunjukan tarian atau lenong atau kesenian Betawi lainnya. Biasanya ditampilkan di hari Minggu atau hari libur nasional.

Panggung pertunjukan tarian atau lenong atau kesenian Betawi lainnya. Biasanya ditampilkan di hari Minggu atau hari libur nasional.

Di kampung ini juga dijual berbagai cenderamata, seperti baju dari kain batik corak khas Betawi

Di kampung ini juga dijual berbagai cenderamata, seperti baju dari kain batik corak khas Betawi

Penjual kerak telor di Setu Babakan, Jagakarsa. Pembeli bisa memilih telur ayam atau telur bebek untuk kerak telornya.

Penjual kerak telor di Setu Babakan, Jagakarsa. Pembeli bisa memilih telur ayam atau telur bebek untuk kerak telornya.

Menikmati Gangan dan Kopi

Berkunjung ke Belitung belum lengkap jika belum mencoba kuliner khasnya, sop ikan yang dikenal dengan nama Gangan. Salah satu masakan Gangan yang direkomendasikan adalah Gangan ala Ruma Makan Belitong Timpo Duluk, di Jalan Mas Daud, Kampung Parit, Tanjung Pandan.

Ornamen antik di dinding Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Ornamen antik di dinding Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Bangunan rumah makan ini merupakan rumah kayu tradisional Belitung yang disebut Simpor Bedulang. Interior di rumah makan ini terkesan jadul. Di salah satu dindingnya terpasang sepeda dengan keranjang bambu, ada juga jam dinding antik dan peralatan untuk menangkap ikan. Di sisi lain, ada cetakan kue jaman dulu hingga bakiak yang terpajang apik di dalam pigura raksasa.

Berbagai kuliner Belitong, sup gangan disajikan di dalam batok kelapa

Berbagai kuliner Belitong, sup gangan disajikan di dalam batok kelapa

Ikan yang digunakan dalam Gangan biasanya ikan kakap merah, ikan ketarap atau ikan bulat. Bumbu kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, lengkuas, sereh dan asam berpadu dengan potongan buah nenas yang memberi sensasi manis-asam. Sup ikan dengan kuah berwarna kuning itu semakin istimewa karena disajikan di dalam batok kelapa muda. Nasi hangat yang dibungkus daun simpor segera kami buka dan diguyur kuah gangan, segar disantap di siang yang panas.

Nasi putih yang dibungkus daun simpor

Nasi putih yang dibungkus daun simpor

Kopi Ake

Selain mencoba makanan khas, kami juga sempat mencicipi kopi racikan khas di Kedai Kopi Ake yang merupakan kedai kopi tertua di Tanjung Pandan. Lokasi kedai kopi ini agak tersembunyi, di dalam gang sempit di belakang ruko kawasan Kafe Senang yang tidak jauh dari Tugu Satam di pusat kota Tanjung Pandan.

Tempatnya tidak istimewa, malah mirip rumah biasa. Akiong, pemilik Kedai Kopi Ake, menyambut kami dengan ramah. Di bercerita, lokasi kedainya ini hanya sementara, karena kedai kopi yang berada di kawasan Kafe Senang sedang direnovasi.

Kedai Kopi Ake sudah berjalan selama tiga generasi, sejak tahun 1922. Abok, kakek Akiong, yang memulai bisnis itu di era penambangan timah zaman kolonial Belanda.

Anda bisa memesan kopi hitam, kopi susu, es kopi atau teh susu (teh tarik) jika Anda tidak terbiasa minum kopi. Beberapa teman memesan telur ayam kampung setengah matang sebagai pendamping minum kopi. Kedai kopi ini tidak menyediakan makanan lain atau kue-kue sebagai pendamping kopi, jadi kunjungan ini hanya benar-benar untuk menikmati kopi.

Akiong terlihat sangat terampil menyeduh bubuk kopi, kemudian memasukkannya ke dalam saringan yang terbuat dari kain tipis yang elastis. Kopi berpindah beberapa kali ke cangkir lalu ke dalam saringan, seperti yang dilakukan di warung-warung kopi di Aceh.

Kopi disaring dengan saringan yang terbuat dari kain

Kopi disaring dengan saringan yang terbuat dari kain

Kopi robusta produk Tanjung Pandan itu akhirnya dituang ke dalam gelas-gelas sederhana. Segelas kopi dengan aroma yang harum khas bau tanah, membentuk lapisan di atas susu kental manis, menunggu untuk diaduk. Itu kopi susu pesanan saya. Rasanya mantap dan tidak asam, tidak ada ampas kopi di dasar gelas karena kopi sudah melalui proses penyaringan.

Tak terasa kami harus segera kembali ke Jakarta. Ketika kami berpamitan, Akiong meminta kami untuk datang lagi suatu saat nanti. (*)