Review Inacraft 2016: From Small Village to Global Market

Event tahunan Inacraft 2016 mengusung tema The Splendour of Minangkabau, From Small Village to Global Market. Kali ini BNI sebagai penyelenggara membawa Sumatera Barat sebagai ikon gelaran ini. Ada 32 mitra binaan BNI dari berbagai Kampoeng BNI di seluruh Indonesia yang diikutsertakan dalam Inacraft 2016 yang berlangsung 20-24 April 2016 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta. Mitra-mitra binaan tersebut antara lain, Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, Kampoeng BNI Tenun Sumatera Selatan, Kampoeng BNI Tenun Silungkang, Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek, dll.

Sebenarnya saya berniat mengunjungi Inacraft pada hari pembukaan event ini, yakni pada 20 April 2016. Akan tetapi karena saya pikir hari pertama akan ramai, apalagi pembukaan dilakukan oleh Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla, kemungkinan penjagaannya bakal ketat. Akhirnya baru pada hari kedua kemarin saya bisa berkeliling Inacraft 2016.

Continue reading “Review Inacraft 2016: From Small Village to Global Market”

Advertisements

Mencicipi Kuliner Banyumas di Umaeh Inyong

Belum lama ini di media massa ramai pembicaraan tentang mendoan, salah satu makanan khas Banyumas, yang menjadi hak merk bagi perorangan sehingga menimbulkan banyak protes. Post ini tidak akan banyak menyinggung soal mendoan, tempe yang diiris tipis lalu digoreng dengan lapisan tepung terigu yang biasanya dinikmati dengan dicocol ke sambal kecap itu.

Saya ingin bercerita tentang Umaeh Inyong, salah satu rumah makan di Purwokerto yang menyajikan masakan khas Banyumas. Umaeh Inyong atau dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Saya, berada di Jl A Yani No 47, Purwokerto.

Bangunan restoran ini adalah rumah kuno dengan interior bergaya tempo doloe. Di halaman samping, ada vespa berwarna merah yang menghiasi salah satu sudut restoran ini. Ketika memasuki restoran ini, ternyata halaman belakangnya cukup luas dan asri. Pengunjung bisa memilih makan di area rumah atau di joglo yang ada di halaman belakang.

Menurut teman saya, Umaeh Inyong dimiliki oleh salah satu artis terkenal jaman dulu, Yati Octavia. Rumah tinggal itu diubah menjadi resto beberapa tahun yang lalu.

image
Di halaman belakang Umaeh Inyong ada joglo
image
Ada becak yang menjadi aksen di halaman belakang Umaeh Inyong

Siang itu udara cukup panas tetapi di halaman belakang Umaeh Inyong angin bertiup sepoi-sepoi bikin ngantuk. Saya memesan nasi rames Banyumasan dan es cincau, sedangkan teman saya memesan oseng dage lombok ijo.

image
Nasi rames Banyumas ala Umaeh Inyong

Nasi rames Banyumasan ini cukup lengkap, ada nasi putih, serundeng, telur rebus, suwiran daging ayam, mie goreng, kering kentang, dan potongan timun. Es cincaunya berisi cincau hijau dengan santan dan gula merah yang dimasak dengan daun pandan. Oseng dage lombok ijo terbuat dari tempe gembus yang ditumis dengan bumbu kecap dan cabai hijau besar, rasanya cukup pedas dan khas. Menu lain yang tersedia di resto ini tentu saja ada mendoan, sega bandem, pepes bandeng, dan lain-lain. Harga makanan dan minuman mulai Rp 4.000- Rp 160 ribu untuk paket.

image
Es cincau dengan santan dan gula merah

Di rumah makan ini juga dijual oleh-oleh Banyumas seperti soklat (cokelat) khas Banyumas, sayangnya saya belum sempat mencicipi. Ada juga batik dengan motif Banyumasan.

image
Batik dengan motif Banyumasan di Omaeh Inyong

Menurut informasi, resto ini juga menawarkan kelas membuat cokelat ala Banyumas untuk anak-anak pada hari tertentu. Sekian dulu laporan saya tentang Umaeh Inyong. Kalau suatu saat Anda berkunjung ke Purwokerto, Jawa Tengah, mungkin Anda bisa mampir ke Umaeh Inyong :mrgreen:

Jangan Sampai Kalap Belanja di Inacraft :)

Belum punya ide untuk jalan-jalan akhir pekan ini? Bagaimana kalau mengunjungi Inacraft 2015 yang berlangsung pada 8-12 April 2015 di Jakarta Convention Centre (JCC)?

Hari ini saya berkunjung dan berkeliling ke beberapa stand yang ada di Inacraft 2015. Kebetulan kantor saya tidak terlalu jauh dari JCC sehingga bisa jalan kaki saja ke venue pameran tersebut.

Inacraft merupakan event tahunan dan tahun ini mengusung tema “From Smart Village to Global Market”. Beragam produk kerajinan (handycraft), batik, kain tradisional, fashion, hingga batu permata dan perhiasan bisa ditemui di pameran ini. Oya, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk seharga Rp 20 ribu untuk memasuki kawasan pameran.

Harga produk yang dijual di Inacraft 2015 sangat beragam, mulai dari Rp 20 ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Jika Anda mengunjungi Inacraft pada Sabtu-Minggu besok, kemungkinan pengunjung akan lebih padat. Lebih baik jika Anda bisa memanfaatkan transportasi umum mengingat keterbatasan lahan parkir dan kemungkinan kemacetan panjang dari dan ke kawasan JCC pada weekend ini.

Berikut beberapa inspirasi yang mungkin menarik minat Anda untuk mengunjungi Inacraft 2015. Jangan sampai kalap belanja di Inacraft, ya 🙂

Produk tas dan pernak-pernik bordir dari Bali
Produk tas dan pernak-pernik bordir dari Bali
Seorang ibu penjaga stand batik lawasan Jogja sedang menikmati makan siang.
Seorang ibu penjaga stand batik lawasan Jogja sedang menikmati makan siang.
Salah satu favorit saya: stool dengan dudukan berbahan denim.
Salah satu favorit saya: stool dengan dudukan berbahan denim.
So cute, aren't they? boneka dan tas owl berbahan batik dari Batik Bocah.
So cute, aren’t they? boneka dan tas owl berbahan batik dari Batik Bocah.
Pakaian berbahan kain tradisional dengan warna-warna cerah.
Pakaian berbahan kain tradisional dengan warna-warna cerah.
Berbagai pernak-pernik rumah tangga dengan nuansa vintage dan batik.
Berbagai pernak-pernik rumah tangga dengan nuansa vintage dan batik.