Museum Peranakan di Tengah Pasar Lama, Tangerang

Museum Benteng Heritage yang terletak di Jalan Cilame No 18-20 di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten adalah salah satu bangunan tertua di Tangerang. Uniknya, pengunjung harus rela ‘blusukan’ melewati pasar tradisional yang disebut Pasar Lama sebelum menemukan museum ini.

Museum yang diresmikan pada 11 November 2011 ini merupakan titik nol kota Tangerang di mana terdapat benteng yang dibuat VOC untuk melindungi kota dari serangan Kerajaan Banten.

Benteng 1

Pintu masuk Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum yang disebut sebagai the pearl of Tangerang alias mutiaranya kota Tangerang ini dimiliki oleh Udaya Halim, seorang peranakan Cina Benteng yang tertarik membeli rumah tua yang berada di seberang rumah orang tuanya. Restorasi bangunan kuno ini berlangsung selama 2009-2011 dengan biaya mandiri dari kantong pribadi Udaya.

Benteng 2

Loket tempat penjualan tiket di Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu pada pukul 10.00-17.00 WIB dan libur pada hari Senin. Harga tiket masuk di museum ini Rp 20.000 untuk umum, Rp 10.000 untuk pelajar/mahasiswa, dan Rp 50.000 untuk English Language Tour.

Ketika tiba di sana, sudah ada guide yang menyambut kita untuk menjelaskan sejarah dan artefak-artefak yang disimpan di museum tersebut. Maksimal peserta untuk setiap tour adalah 20 orang. Di dalam bangunan museum yang kental dengan ornamen ukiran dan pernak-pernik khas peranakan, kita bisa melihat ruangan apa saja yang biasa dimiliki sebuah rumah milik Cina Benteng.

Selain itu, ada replika kapal jung yang digunakan oleh armada Cheng Ho dari Tiongkok ke Nusantara. Armada yang mendarat di Teluk Naga yang menjadi cikal-bakal warga Cina Benteng di Tangerang dipimpin oleh Chen Ci Lung.

Di lantai kedua bangunan ini, disimpan beberapa barang antik, seperti phonograph Edisson buatan tahun 1890 dan beberapa kamera zaman dahulu. Bangunan di lantai kedua masih mempertahankan ciri-ciri arsitektur asli, termasuk pintu kayu dengan pasak pengunci yang besar yang sangat sulit diterobos maling.

Tour berlangsung sekitar 30-45 menit. Di museum ini pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh khas Tangerang, yakni Kecap Nomor Satu yang diproduksi sejak tahun 1882. Setelah puas berkeliling museum, kami juga sempat mengunjungi Kelenteng Boon Tek Bio yang merupakan kelenteng tertua di Tangerang. Kelenteng yang berada di Jl Bhakti No 14, Pasar Lama, Tangerang ini diperkirakan dibangun pada 1684.

Pasar Lama 2

Boon Tek Bio, kelenteng tertua di Tangerang.

 

Advertisements

Mercusuar Cikoneng, Anyer Saksi Sejarah Kedahsyatan Krakatau

Perjalanan kami ke Mercusuar Cikoneng di Anyer, Banten berlalu hampir 4,5 tahun yang lalu. Saya ingin menuliskan perjalanan ini ketika membuka-buka kembali album foto di Facebook. Bertiga kami berangkat dari halte bus RS Harapan Kita, Jakarta menunggu bus Jakarta-Merak yang akan membawa kami.

Bus yang kami tumpangi cukup padat dengan penumpang meskipun saat itu belum pukul 07.00 pagi. Sekitar dua jam kemudian kami tiba di pinggiran kota Cilegon karena bus tidak masuk ke dalam kota maka kami harus melanjutkan perjalanan naik mobil angkot ke Simpang Cilegon. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan mobil angkot menuju Cikoneng, Anyer (just make sure you ask the driver that the car goes to that destination).

Perjalanan dari Cilegon ke Anyer terasa lambat, belum lagi jalanan yang rusak/berlubang yang membuat angkot kami berjalan terseok-seok. Hampir satu jam kemudian, sopir memberi tahu kami telah sampai di tujuan.

Angin membawa aroma asin air laut. Suasana di sekitar mercusuar masih sepi. Kami berjalan menuju pantai yang berada di kawasan mercusuar ini, menghirup udara segar pantai.

image

Kami beristirahat sejenak, menikmati bekal yang kami bawa dari Jakarta. Setelah melihat-lihat sekeliling pantai, kami segera menuju ke mercusuar.

Mercusuar Cikoneng pernah saya sebut di tulisan saya tentang Belitung, ya mercusuar ini adalah saudara kembar mercusuar yang ada di Pulau Lengkuas, Belitung. Mercusuar yang dibangun pada 1806 oleh Pemerintah Hindia Belanda ini rusak parah pada 1883 terhantam batu yang dikeluarkan oleh erupsi Gunung Krakatau. Mercusuar roboh ke arah timur, adapun batu yang menghantam mercusuar itu jatuh di Sungai Kampung Bojong, Anyer.

Mercusuar Cikoneng memiliki peran yang sangat penting bagi kapal-kapal dagang VOC yang melintasi Selat Sunda, jalur pelayaran internasional pada waktu itu. Pada masa pemerintahan ZM Willem III tahun1885, mercusuar ini dibangun kembali agak menjauh dari pantai untuk menghindari abrasi.

Kami menemui penjaga mercusuar dan meminta izin untuk naik hingga ke puncak. Tidak ada tiket resmi untuk berkunjung ke mercusuar, kami hanya diminta memberi sumbangan seikhlasnya untuk perawatan mercusuar. Jika sepi pengunjung, mercusuar ini dikunci. Rumah penjaganya ada di sebelah mercusuar.

image

Bagian dalam mercusuar agak remang-remang, perlahan-lahan kami menaiki tangga besi dari lantai satu menuju puncak mercusuar di lantai 16 dan 17. Perjalanan menuju puncak mercusuar cukup melelahkan. Kami berhenti beberapa kali, di lantai 14 ada jendela terbuka yang menunjukkan pemandangan ke laut lepas.

image

Akhirnya sampai juga kami ke lantai 16. Di lantai ini ada deck di mana kita bisa melihat pemandangan laut maupun daratan di sekitar mercusuar. Indahnya, serasa hilang rasa capek ketika menaiki tangga tadi.

image

image

Lalu, di lantai 17 atau lantai teratas ada apa? Lantai teratas adalah tempat lampu mercusuar berada. Lampu inilah yang memandu kapal-kapal agar tidak menabrak karang.

image

Di kawasan ini juga terdapat penginapan berupa rumah- rumah panggung dari kayu yang berwarna natural. Kelihatannya nyaman, sayang kami belum sempat survei lebih dekat ke penginapan tersebut. Namanya Wisma Primkokarmar dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). Informasi lebih lengkap tentang wisma ini bisa dilihat di http://www.anyerpedia.com/wisma-primkokarmar-anyer/

image

Menikmati Keindahan Alami Sawarna (2): Tanjung Layar

Setelah main-main ke Goa Lalay, kami kembali ke penginapan. Matahari sudah tinggi, panasnya cukup menyengat.

Setelah menyantap makan siang, kami punya waktu beberapa jam untuk beristirahat. Udara di luar cukup panas, kipas angin yang ada di dinding kamar tak mampu mengusir gerah. Tapi siang itu kami sempat tidur sebentar, mungkin karena lelah sehabis tracking ke goa.

Ba’da Ashar, kami bersiap untuk menuju Pantai Tanjung Layar. Seperti yang sudah-sudah, kami berjalan kaki dari penginapan menuju Pantai Tanjung Layar. Sebenarnya bisa saja Anda menyewa ojek untuk ke Pantai Tanjung Layar. Tapi jalan kaki pun tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 30-45 menit. Tiket masuk ke Pantai Tanjung Layar ini seharga Rp 5.000 per orang.

Kami menyusuri jalan tanah yang tidak terlalu lebar menuju Pantai Tanjung Layar.

Kami menyusuri jalan tanah yang tidak terlalu lebar menuju Pantai Tanjung Layar.

Inilah batu karang yang mirip layar sehingga pantai ini dinamai Pantai Tanjung Layar

Inilah batu karang yang mirip layar sehingga pantai ini dinamai Pantai Tanjung Layar

Akhirnya kami sampai juga di Pantai Tanjung Layar, sambil menunggu sunset. Kami bermain air dan berfoto di dekat karang tersebut.

Sesekali ombak memecah di karang yang ada di pantai ini

Sesekali ombak memecah di karang yang ada di pantai ini

Kami terlalu asyik bermain air, sampai tak sadar air mulai pasang. Kami buru-buru ke pinggir pantai. Ups, saya tergelincir dan kamera saya pun masuk ke dalam air. Kisah sedih bermula di sini. Ah, kamera saya pasti rusak kemasukan air.

Ketika sampai di pantai, segera saya keluarkan baterai dari kamera dan mengeringkannya sebisa mungkin. Ah, padahal sebentar lagi sunset…

Maafkan, foto-foto berikutnya mungkin kurang bagus karena diambil dengan kamera Blackberry.

Ombak tinggi menerpa karang

Ombak tinggi menerpa karang

 

Matahari sebentar lagi tenggelam

Matahari sebentar lagi tenggelam

Menunggu sunset memang harus sabar, tapi ketika sunset datang. Wow, benar-benar indah. Sebuah penantian yang berbuah manis.

Sinar matahari keemasan, senja begitu indah di Tanjung Layar

Sinar matahari keemasan, senja begitu indah di Tanjung Layar

 

Ketika senja semakin sempurna, rasanya tak ingin beranjak dari tempatku memandang sang surya tenggelam.

Ketika senja semakin sempurna, rasanya tak ingin beranjak dari tempatku memandang sang surya tenggelam.