Pulau Cipir, Bekas Rumah Sakit yang Jadi Spot Fotografi

Bagian III dari 3 tulisan (habis)

Perhentian terakhir kami adalah Pulau Cipir. Kalau di awal perjalanan pemandu kami berkata kami bisa berenang atau main air di pulau ini, saya tidak setuju. Kenyataannya, pantai di Pulau Kelor lebih bersih dan lebih representatif untuk berenang dan bermain air dibandingkan dengan pulau ini. Ombak di pulau ini juga cenderung lebih besar.

Pulau Cipir memiliki pantai yang tidak terlalu luas, di beberapa bagian air laut tampak jernih tetapi pada bagian lainnya masih ada sampah-sampah terapung meskipun tidak sebanyak sampah di dermaga Pulau Onrust.

Continue reading →

Misteri di Pulau Onrust

Bagian II dari 3 tulisan

Pulau Onrust adalah pulau terbesar di antara ketiga pulau yang kami kunjungi. Pulau ini tidak memiliki pasir yang indah seperti di Pulau Kelor. Kita akan melihat beton-beton pemecah ombak di pantai pulau ini. Ketika perahu kami merapat ke dermaga, sampah-sampah terapung mengotori air laut di dermaga. Semoga saja pengelolaan sampah di pulau ini diperbaiki seiring dengan rencana pengembangan pulau ini..

Teduh, itulah kesan pertama kami ketika menyusuri Pulau Onrust. Di pulau ini terdapat banyak pohon besar, seperti pohon beringin, pohon cemara, hingga pohon saga. Di pulau ini kita bisa melihat reruntuhan bangunan yang dahulu difungsikan sebagai tempat cuci umum para jemaah haji. Ada juga sumur penampungan air, penjara, makam Belanda, dan makam pribumi.

Continue reading →

Benteng Martelo di Pulau Kelor

Bagian I dari 3 tulisan

Seorang teman mengajak saya bergabung dengan trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir. Wisata yang diselenggarakan oleh Rani Journey ini ditawarkan seharga Rp 95.000 per orang, sudah termasuk donasi untuk sekolah gratis Smart Ekselensia Dompet Dhuafa. Anda bisa melihat informasinya di http://www.ranijourney.com.

Hari Minggu, 24 April 2016 kami ditunggu di Dermaga Kamal Muara, Jakarta Utara pada pukul 08.00 WIB oleh guide kami, Toto. Rombongan saya ada 6 orang, kami berangkat dari Sawangan, Depok dengan mobil sewaan yang mengantar dan menjemput kami. Sewa mobil dihitung-hitung lebih murah dibandingkan dengan naik taksi atau transportasi daring semacam Grab Car dan Uber. Untuk sewa mobil 24 jam, biayanya Rp 600.000. Ini belum termasuk tol dan bensin.

Continue reading →

Mercusuar Cikoneng, Anyer Saksi Sejarah Kedahsyatan Krakatau

Perjalanan kami ke Mercusuar Cikoneng di Anyer, Banten berlalu hampir 4,5 tahun yang lalu. Saya ingin menuliskan perjalanan ini ketika membuka-buka kembali album foto di Facebook. Bertiga kami berangkat dari halte bus RS Harapan Kita, Jakarta menunggu bus Jakarta-Merak yang akan membawa kami.

Bus yang kami tumpangi cukup padat dengan penumpang meskipun saat itu belum pukul 07.00 pagi. Sekitar dua jam kemudian kami tiba di pinggiran kota Cilegon karena bus tidak masuk ke dalam kota maka kami harus melanjutkan perjalanan naik mobil angkot ke Simpang Cilegon. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan mobil angkot menuju Cikoneng, Anyer (just make sure you ask the driver that the car goes to that destination).

Perjalanan dari Cilegon ke Anyer terasa lambat, belum lagi jalanan yang rusak/berlubang yang membuat angkot kami berjalan terseok-seok. Hampir satu jam kemudian, sopir memberi tahu kami telah sampai di tujuan.

Angin membawa aroma asin air laut. Suasana di sekitar mercusuar masih sepi. Kami berjalan menuju pantai yang berada di kawasan mercusuar ini, menghirup udara segar pantai.

image

Kami beristirahat sejenak, menikmati bekal yang kami bawa dari Jakarta. Setelah melihat-lihat sekeliling pantai, kami segera menuju ke mercusuar.

Mercusuar Cikoneng pernah saya sebut di tulisan saya tentang Belitung, ya mercusuar ini adalah saudara kembar mercusuar yang ada di Pulau Lengkuas, Belitung. Mercusuar yang dibangun pada 1806 oleh Pemerintah Hindia Belanda ini rusak parah pada 1883 terhantam batu yang dikeluarkan oleh erupsi Gunung Krakatau. Mercusuar roboh ke arah timur, adapun batu yang menghantam mercusuar itu jatuh di Sungai Kampung Bojong, Anyer.

Mercusuar Cikoneng memiliki peran yang sangat penting bagi kapal-kapal dagang VOC yang melintasi Selat Sunda, jalur pelayaran internasional pada waktu itu. Pada masa pemerintahan ZM Willem III tahun1885, mercusuar ini dibangun kembali agak menjauh dari pantai untuk menghindari abrasi.

Kami menemui penjaga mercusuar dan meminta izin untuk naik hingga ke puncak. Tidak ada tiket resmi untuk berkunjung ke mercusuar, kami hanya diminta memberi sumbangan seikhlasnya untuk perawatan mercusuar. Jika sepi pengunjung, mercusuar ini dikunci. Rumah penjaganya ada di sebelah mercusuar.

image

Bagian dalam mercusuar agak remang-remang, perlahan-lahan kami menaiki tangga besi dari lantai satu menuju puncak mercusuar di lantai 16 dan 17. Perjalanan menuju puncak mercusuar cukup melelahkan. Kami berhenti beberapa kali, di lantai 14 ada jendela terbuka yang menunjukkan pemandangan ke laut lepas.

image

Akhirnya sampai juga kami ke lantai 16. Di lantai ini ada deck di mana kita bisa melihat pemandangan laut maupun daratan di sekitar mercusuar. Indahnya, serasa hilang rasa capek ketika menaiki tangga tadi.

image

image

Lalu, di lantai 17 atau lantai teratas ada apa? Lantai teratas adalah tempat lampu mercusuar berada. Lampu inilah yang memandu kapal-kapal agar tidak menabrak karang.

image

Di kawasan ini juga terdapat penginapan berupa rumah- rumah panggung dari kayu yang berwarna natural. Kelihatannya nyaman, sayang kami belum sempat survei lebih dekat ke penginapan tersebut. Namanya Wisma Primkokarmar dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). Informasi lebih lengkap tentang wisma ini bisa dilihat di http://www.anyerpedia.com/wisma-primkokarmar-anyer/

image

Teluk Ijo, Pantai Tersembunyi di Banyuwangi

Perjalanan kami dari Kawah Ijen dilanjutkan ke Banyuwangi. Kami ingin mengunjungi Teluk Ijo atau Teluk Hijau atau Green Bay menurut sebutan wisatawan asing. Rute menuju Teluk Ijo dari Kawah Ijen adalah melalui Jalan Banyuwangi-Jember, kurang lebih jaraknya 103 kilometer.

Dari kota Banyuwangi menuju kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini ditempuh sekitar tiga jam. Memasuki wilayah PTPN XII, jalanan semakin menyempit dan berbatu-batu. Di kanan dan kiri jalan, kita bisa melihat tanaman kakao yang menjadi produk utama di PTPN XII.

Ketika sampai di Pos Penjaga yang ada di Taman Nasional Meru Betiri, pengunjung diminta mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk. Untuk hari Senin-Jumat, tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 5.000 per orang/hari dan untuk wisatawan asing Rp 150 ribu per orang/hari. Untuk weekend, tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 7.500 per orang/hari dan untuk wisatawan asing Rp 225.000 per orang/hari. Untuk pengunjung yang membawa kendaraan bermotor, harus membayar Rp 5.000 per unit/hari sedangkan untuk kendaraan bermotor roda empat Rp 10.000 per unit/hari.

Dari pos tersebut, kami masih harus melalui jalan perkampungan menuju Pantai Rajegwesi. Untuk mencapai Teluk Ijo, pengunjung bisa menggunakan dua cara. Pertama, melalui jalan setapak melewati hutan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Kedua, naik kapal dari Pantai Rajegwesi dengan biaya Rp 15.000 per orang untuk sekali jalan.

Sebelum mencapai Teluk Ijo, pengunjung akan melewati Pantai Batu.

Sebelum mencapai Teluk Ijo, pengunjung akan melewati Pantai Batu.

Jalan setapak diawali dengan jalan berundak-undak yang cukup menanjak, lalu mendatar dan menurun. Jalan tanah tersebut kadang kala becek dan licin setelah hujan. Itu sebabnya di beberapa turunan terdapat tali yang bisa digunakan untuk berpegangan ketika menuruni atau menaiki jalan setapak tersebut.

Jalan setapak melewati hutan, sesekali terdengar suara monyet dan serangga hutan. Sebelum mencapai Teluk Ijo, pengunjung akan melewati Pantai Batu. Pantai ini diberi nama sesuai dengan banyaknya batu yang ada di pinggir pantai. Sebagian besar batu yang ada di pantai tersebut berbentuk oval, halus seperti pebble stone.

Memasuki Teluk Hijau, pengunjung akan melihat papan nama dan koordinat pantai tersebut.

Memasuki Teluk Hijau, pengunjung akan melihat papan nama dan koordinat pantai tersebut.

Akhirnya setelah berjalan cukup lama, kami mulai melihat pantai dengan pasir coklat yang bersih. Pantai yang ada di Teluk Hijau ini ibarat pantai perawan. Lokasinya yang berada di antara tebing-tebing batu seolah tersembunyi. Ketika kami sampai di sana, tidak ada pengunjung lain yang terlihat. Benar-benar serasa berada di pantai pribadi!

Pantai dengan pasir yang halus dan bersih ini sepi pengunjung. Serasa berada di private beach.

Pantai dengan pasir yang halus dan bersih ini sepi pengunjung. Serasa berada di private beach.

Di pinggir pantai ini terdapat sebuah gubuk kecil yang bisa digunakan untuk beristirahat. Ada sebatang pohon dan ayunan yang terbuat dari karet bekas ban mobil. Ombak di pantai ini cukup bersahabat, tetapi jika ingin berenang atau bermain air tetap waspada untuk tidak terlalu ke tengah.

Cuaca yang sedikit mendung tidak mengurangi keindahan pantai di Teluk Hijau. Kami berpapasan dengan beberapa penduduk yang ingin memancing di pantai ini. Mereka bergerak jauh hingga ke tebing karang yang cukup terjal untuk dinaiki.

Air terjun kecil di tepi pantai yang kering di kala kemarau.

Air terjun kecil di tepi pantai yang kering di kala kemarau.

Di pinggir pantai ini juga terdapat bekas aliran air di tebing. Ketika kami berkunjung ke sana, memang saat kemarau. Pada musim hujan, aliran air di tebing tersebut akan lebih deras dan menjadi semacam air terjun mini. Wah, pasti pemandangannya lebih indah.

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini sangat luas. Selain Teluk Ijo, terdapat beberapa pantai lainnya, seperti Pantai Bandealit, Pantai Rajegwesi, dan Pantai Sukamade. Perlu beberapa hari untuk bisa mengeksplorasi kawasan ini. Sayangnya, waktu kami tidak banyak. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali ke sini untuk menjelajah pantai-pantai lainnya.

Pemandangan Teluk Hijau dari atas tebing.

Pemandangan Teluk Hijau dari atas tebing.

Berburu Api Biru ke Kawah Ijen

Setelah turun dari Gunung Bromo, jeep membawa kami kembali ke Cemoro Lawang ke tempat kami berganti kendaraan. Di rumah tempat kami transit, kami mandi dan istirahat sejenak. Di desa ini suasana siang hari relatif sepi karena kebanyakan penduduk pergi ke ladang. Di rumah tidak terdengar suara televisi. Rupanya setelah jam 06.00 pagi hingga sekitar pukul 17.00 listrik mati, begitulah adanya setiap hari.

Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Paltuding, pos perhentian sebelum naik ke Kawah Ijen. Jarak dari Bromo menuju Paltuding melalui Probolinggo dan Bondowoso sekitar 207 kilometer. Kami singgah di Probolinggo untuk makan siang dan shalat. Masih di Probolinggo, kami sekaligus mencari bekal untuk makan malam di Paltuding karena perkiraan kami sampai di sana setelah magrib.

Penginapan sederhana di Paltuding yang disediakan untuk para pengunjung yang hendak naik ke Kawah Ijen pada dini hari. (foto diambil setelah turun dari Kawah Ijen)

Penginapan sederhana di Paltuding yang disediakan untuk para pengunjung yang hendak naik ke Kawah Ijen pada dini hari.

Seperti perkiraan, kami memasuki kawasan hutan di kaki Gunung Ijen selepas magrib. Teman saya langsung menghubungi penjaga penginapan yang ada di kawasan ini. Kami ingin beristirahat sejenak menunggu dini hari sebelum mulai trekking ke Kawah Ijen. Biaya penginapan Rp 75 ribu per orang/malam.

Di penginapan ini ada dua kamar dan satu ruang tamu yang cukup luas. Satu kamar bisa diisi dua-tiga orang. Kamar tamu juga bisa dipakai untuk ruang tidur jika Anda membawa sleeping bag atau cukup menggelar tikar dan selimut. Di dalam kamar terdapat kamar mandi. Siapkan senter, karena tidak ada lampu di dalam kamar mandi.

Pos Paltuding yang menjadi titik awal pendakian ke Kawah Ijen. (foto diambil setelah turun dari Kawah Ijen)

Pos Paltuding yang menjadi titik awal pendakian ke Kawah Ijen.

Kami bangun ketika alarm berbunyi, sekitar pukul 02.30 dini hari. Kami bersiap-siap untuk memulai tracking ke Kawah Ijen dan berharap bisa sampai di sana sebelum subuh untuk menyaksikan api biru (blue fire). Fenomena api biru ini merupakan fenomena langka yang hanya ada dua di dunia, yakni di Kawah Ijen dan di Islandia.

Untuk trekking, siapkan senter dan barang bawaan seperlunya saja. Ada kalanya Kawah Ijen sedang aktif dan mengeluarkan gas berbahaya sehingga pengunjung dilarang mendekati kawah. Kami beruntung, saat itu Kawah Ijen sedang tenang sehingga kami boleh mendaki ke kawah.

Jarak dari Pos Paltuding, yang berada di ketinggian 1.850 meter di atas permukaan laut, ke Kawah Ijen yang berada di ketinggian 2.386 meter dpl adalah 3 kilometer dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Suhu udara pagi itu cukup bersahabat, dingin tetapi tidak sedingin udara di Bromo yang berangin.

Setiap rombongan pendaki didampingi oleh pemandu. Biaya pemandu biasanya tergantung negosiasi awal sebelum memulai pendakian. Hari itu ada beberapa rombongan yang memulai pendakian ke Kawah Ijen. Pada awalnya track cukup landai tetapi lama kelamaan menanjak. Beberapa kali saya berhenti untuk mengambil nafas, ketahuan jarang berolahraga sehingga pendakian seperti ini cukup membuat saya ngos-ngosan.

Rombongan sampai di pos timbangan (tempat para penambang menimbang belerangnya) menjelang subuh. Saya meminta teman-teman saya melanjutkan perjalanan lebih dahulu karena saya sudah cukup menghambat laju mereka akibat terlalu sering berhenti. Banyak juga anggota rombongan lain yang beristirahat di pos itu. Setelah minum dan beristirahat sejenak, saya ditemani pemandu melanjutkan perjalanan.

“Sebentar lagi kita sampai,” ujar pemandu kami. Saya bersyukur dia cukup sabar menunggu jalan saya yang lambat seperti siput. Jalan setapak semakin sempit. Salah satu sisi jalan adalah jurang, sehingga kami harus berhati-hati. Sebelum sampai ke kawah, tiba-tiba angin bertiup kencang. Kami menghentikan langkah. Tidak ada orang lain di belakang kami. “Itu sapaan dari penunggu gunung,” kata pemandu kami.

Setelah setengah jam berjalan dari Pos Timbang, kami mulai melihat cahaya kebiruan dari kejauhan. Itu dia, api biru! Teman-teman saya yang berjalan lebih dahulu, turun ke kawah mendekati api biru. Saya tidak ikut turun ke kawah karena jalur untuk kembali sangat curam dan terjal, sulit didaki. Saya mengukur kemampuan diri dan merasa lebih baik menyaksikan dari jauh. Oya, jika Anda ingin turun ke kawah, lebih baik memakai masker untuk mencegah gas beracun terhirup.

Cukup lama kami menyaksikan fenomena api biru ini sebelum matahari terbit menyapa. Beberapa pengunjung berkumpul di sisi kawah, menunggu keluarga atau teman yang turun ke kawah.

Fenomena api biru di Kawah Ijen hanya bisa disaksikan pada dini hari.

Fenomena api biru hanya bisa disaksikan pada dini hari.

Setelah matahari terbit, kecantikan Kawah Ijen mulai terlihat.

Setelah matahari terbit, kecantikan Kawah Ijen mulai terlihat.

Kawah Ijen mengepulkan asap berbau belerang

Kawah Ijen mengepulkan asap berbau belerang.

Kawah Ijen sungguh memesona. Kepulan asap putih berbau belerang muncul dari kawah yang memiliki danau berwarna hijau tosca. Langit yang berwarna biru cerah menambah indah pemandangan. Sungguh, ciptaan Allah yang luar biasa. Rasa penat dan lelah ketika tracking seketika hilang.

Saya bertemu beberapa rombongan wisatawan asing, dari Prancis, Thailand, dan Jepang. Ada yang pergi bersama keluarga, ada juga yang datang berdua. Mereka mengaku habis berlibur ke Bali lalu menyempatkan mengunjungi Kawah Ijen dan Gunung Bromo.

Sembari menunggu teman-teman saya kembali dari dasar kawah, saya melihat beberapa penambang belerang yang dengan lincah mendaki jalan setapak padahal di pundaknya terdapat dua keranjang belerang.

Seorang penambang mengangkut belerang dari Kawah Ijen.

Seorang penambang mengangkut belerang dari Kawah Ijen.

Batang pohon yang mati di Kawah Ijen menjadi pemandangan unik.

Batang pohon yang mati di Kawah Ijen menjadi pemandangan unik.

Matahari sudah cukup tinggi. Kami memutuskan untuk turun ke Paltuding karena menurut pemandu kami, siang hari cuaca sering tidak bisa dipastikan.

Perjalanan turun dari Kawah Ijen, serasa berjalan di antara awan putih.

Perjalanan turun dari Kawah Ijen, serasa berjalan di antara awan putih.

Turun dari Kawah Ijen, kami berhenti sejenak di Pos Timbang. Saat ini warung kecil yang ada di pos ini ramai oleh pengunjung yang ingin memesan mie instant atau kopi. Menu spesial di warung ini adalah kopi luwak (civet coffee) seharga Rp 25 ribu per cangkir.

Seorang pekerja sedang menimbang belerang di Pos Timbang.

Seorang pekerja sedang menimbang belerang di Pos Timbang.

Di Pos Timbang ini para penambang juga menawarkan souvenir berupa belerang yang diukir dengan berbagai macam bentuk. Ada yang bertuliskan Kawah Ijen, ada juga bentuk binatang dan karakter Hello Kitty.

Jalur pendakian di Kawah Ijen lebih ramai pada siang hari walaupun pengunjung tidak bisa menyaksikan api biru. Setelah beres-beres dan mandi, kami siap check out dari penginapan. Sekitar jam 09.00 pagi kami meninggalkan kawasan Kawah Ijen.

Dalam perjalanan menuju Banyuwangi, belum terlalu jauh dari Kawah Ijen, kami mampir ke Banyu Pait (Sungai Pahit/bitter water). Banyu Pait adalah aliran sungai yang airnya berasal dari Kawah Ijen. Air sungai ini memiliki tingkat keasaman cukup tinggi sehingga tidak ada ikan yang hidup di sungai tersebut.

Banyu Pait, aliran airnya berasal dari Kawah Ijen.

Banyu Pait, aliran airnya berasal dari Kawah Ijen.