Benteng Martelo di Pulau Kelor

Bagian I dari 3 tulisan

Seorang teman mengajak saya bergabung dengan trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir. Wisata yang diselenggarakan oleh Rani Journey ini ditawarkan seharga Rp 95.000 per orang, sudah termasuk donasi untuk sekolah gratis Smart Ekselensia Dompet Dhuafa. Anda bisa melihat informasinya di http://www.ranijourney.com.

Hari Minggu, 24 April 2016 kami ditunggu di Dermaga Kamal Muara, Jakarta Utara pada pukul 08.00 WIB oleh guide kami, Toto. Rombongan saya ada 6 orang, kami berangkat dari Sawangan, Depok dengan mobil sewaan yang mengantar dan menjemput kami. Sewa mobil dihitung-hitung lebih murah dibandingkan dengan naik taksi atau transportasi daring semacam Grab Car dan Uber. Untuk sewa mobil 24 jam, biayanya Rp 600.000. Ini belum termasuk tol dan bensin.

Continue reading

Advertisements

Review Inacraft 2016: From Small Village to Global Market

Event tahunan Inacraft 2016 mengusung tema The Splendour of Minangkabau, From Small Village to Global Market. Kali ini BNI sebagai penyelenggara membawa Sumatera Barat sebagai ikon gelaran ini. Ada 32 mitra binaan BNI dari berbagai Kampoeng BNI di seluruh Indonesia yang diikutsertakan dalam Inacraft 2016 yang berlangsung 20-24 April 2016 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta. Mitra-mitra binaan tersebut antara lain, Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, Kampoeng BNI Tenun Sumatera Selatan, Kampoeng BNI Tenun Silungkang, Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek, dll.

Sebenarnya saya berniat mengunjungi Inacraft pada hari pembukaan event ini, yakni pada 20 April 2016. Akan tetapi karena saya pikir hari pertama akan ramai, apalagi pembukaan dilakukan oleh Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla, kemungkinan penjagaannya bakal ketat. Akhirnya baru pada hari kedua kemarin saya bisa berkeliling Inacraft 2016.

Continue reading

Kedamaian Situ Gunung dan Curug Sawer

Situ Gunung? Rasa penasaran muncul ketika saya mencari informasi di Google mengenai Situ Gunung, sebuah danau (situ) yang ikonik di Sukabumi. Beberapa foto yang dimunculkan mesin pencari menunjukkan danau ini sangat istimewa, khususnya di kalangan pecinta fotografi.

Makanya, ketika ada tawaran dari salah satu travel untuk mengikuti wisata ke Situ Gunung dan Curug Sawer, saya tertarik ikut serta. Jumat malam, kami berkumpul di salah satu mal di Slipi, Jakarta. Satu mobil ELF terisi penuh oleh peserta dan berangkat sekira jam 20.00 WIB.

Continue reading

Ekspedisi Maritim GMT 2016 ke Belitung

Pada 8-10 Maret lalu saya mengikuti Ekspedisi Maritim Gerhana Matahari Total 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya Republik Indonesia. Event ini diikuti oleh 1.100 pelajar, mahasiswa, dan mitra maritim termasuk beberapa instansi lain, seperti BMKG, LAPAN, dan Bosscha. Ekspedisi ini memiliki misi edukasi selain untuk memperkenalkan kekayaan maritim dan pariwisata Indonesia.

image

Selasa, 8 Maret 2016 pukul 07.00 WIB kami sudah berkumpul di Terminal Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam ekspedisi ini, kami menggunakan KM Kelud, kapal milik PT Pelni yang berkapasitas 2.000 penumpang, menuju Pelabuhan Tanjung Batu di Belitung.

Continue reading

Museum Peranakan di Tengah Pasar Lama, Tangerang

Museum Benteng Heritage yang terletak di Jalan Cilame No 18-20 di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten adalah salah satu bangunan tertua di Tangerang. Uniknya, pengunjung harus rela ‘blusukan’ melewati pasar tradisional yang disebut Pasar Lama sebelum menemukan museum ini.

Museum yang diresmikan pada 11 November 2011 ini merupakan titik nol kota Tangerang di mana terdapat benteng yang dibuat VOC untuk melindungi kota dari serangan Kerajaan Banten.

Benteng 1
Pintu masuk Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum yang disebut sebagai the pearl of Tangerang alias mutiaranya kota Tangerang ini dimiliki oleh Udaya Halim, seorang peranakan Cina Benteng yang tertarik membeli rumah tua yang berada di seberang rumah orang tuanya. Restorasi bangunan kuno ini berlangsung selama 2009-2011 dengan biaya mandiri dari kantong pribadi Udaya.

Benteng 2
Loket tempat penjualan tiket di Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu pada pukul 10.00-17.00 WIB dan libur pada hari Senin. Harga tiket masuk di museum ini Rp 20.000 untuk umum, Rp 10.000 untuk pelajar/mahasiswa, dan Rp 50.000 untuk English Language Tour.

Ketika tiba di sana, sudah ada guide yang menyambut kita untuk menjelaskan sejarah dan artefak-artefak yang disimpan di museum tersebut. Maksimal peserta untuk setiap tour adalah 20 orang. Di dalam bangunan museum yang kental dengan ornamen ukiran dan pernak-pernik khas peranakan, kita bisa melihat ruangan apa saja yang biasa dimiliki sebuah rumah milik Cina Benteng.

Selain itu, ada replika kapal jung yang digunakan oleh armada Cheng Ho dari Tiongkok ke Nusantara. Armada yang mendarat di Teluk Naga yang menjadi cikal-bakal warga Cina Benteng di Tangerang dipimpin oleh Chen Ci Lung.

Di lantai kedua bangunan ini, disimpan beberapa barang antik, seperti phonograph Edisson buatan tahun 1890 dan beberapa kamera zaman dahulu. Bangunan di lantai kedua masih mempertahankan ciri-ciri arsitektur asli, termasuk pintu kayu dengan pasak pengunci yang besar yang sangat sulit diterobos maling.

Tour berlangsung sekitar 30-45 menit. Di museum ini pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh khas Tangerang, yakni Kecap Nomor Satu yang diproduksi sejak tahun 1882. Setelah puas berkeliling museum, kami juga sempat mengunjungi Kelenteng Boon Tek Bio yang merupakan kelenteng tertua di Tangerang. Kelenteng yang berada di Jl Bhakti No 14, Pasar Lama, Tangerang ini diperkirakan dibangun pada 1684.

Pasar Lama 2
Boon Tek Bio, kelenteng tertua di Tangerang.

 

Ah Poong, ‘Pasar Terapung’ di Sentul & Eco Art Park

Sekali lagi cerita tentang perjalanan singkat ke Sentul. Mungkin tulisan ini akan berguna untuk pembaca yang ingin mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus selain Gunung Pancar atau Jungleland Sentul.

Ah Poong merupakan kawasan wisata kuliner di Sentul City yang menampilkan pemandangan ke sungai Cikeas. Letaknya tidak jauh dari pintu keluar tol Sentul. Di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner lalu mencoba naik perahu yang ada di sungai atau danau buatan di kawasan ini jadi sebenarnya bukan benar-benar pasar terapung seperti di Lok Baintan, Kalimantan Selatan.

Ahpoong5
Pasar Ah Poong, Sentul City.

Pengunjung bisa memilih duduk di bangku-bangku yang menghadap ke sungai atau di bagian lain yang menghadap ke danau buatan. Untuk membeli makanan di Ah Poong, pengunjung harus menukar sejumlah uang dengan kartu yang dikeluarkan oleh pengelola. Kartu inilah yang menjadi alat pembayaran.

Setelah memesan makanan, saldo kartu diserahkan ke kasir dan saldo akan berkurang sesuai harga makanan. Saldo minimum di kartu ini kalau tidak salah Rp 15.000. Jadi, saldo harus di-top up jika sudah menyentuh batas minimum. Setelah selesai makan, pengunjung bisa mengembalikan kartu ke kasir utama dan mendapatkan sisa saldonya. Memang sedikit merepotkan bagi yang belum terbiasa.

Ahpoong7
Berbagai kios makanan yang bisa dipilih pengunjung di Ah Poong.

Ada macam-macam makanan mulai dari mie kocok, bakso Malang, soto mie, gado-gado, sate, hingga sop duren ada di sini. Tinggal pilih sesuai selera. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000.

Ahpoong9
Naik perahu di danau buatan Ah Poong.

Di danau buatan yang ada di Ah Poong, pengunjung bisa memberi makan ikan koi dan ikan mas yang dipelihara di sini. Lalu mengelilingi danau dengan perahu, berikan uang tip yang sekiranya pantas untuk tukang dayung perahu karena mereka tidak menetapkan tarif.

Ahpoong8
Sepeda air bisa disewa untuk mengelilingi danau buatan di Ah Poong.

Jika sudah puas makan-makan dan main air di Ah Poong, mampir juga ke Eco Art Park yang ada di sebelah kawasan kuliner ini. Area Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul dihubungkan oleh jembatan berlantai kayu dengan lengkungan yang cukup ikonik. Jembatan ini sering menjadi arena selfie atau welfie para pengunjung.

Ahpoong6
Menyeberangi jembatan berlantai kayu yang menghubungkan Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul.

Di Eco Art Park yang teduh karena dinaungi pepohonan besar, ada berbagai patung yang menarik. Ada patung Sumo, ada juga patung yang terbuat dari susunan ban bekas mirip robot dalam film Transformer. Anak-anak senang berfoto di dekat patung-patung ini.

Ahpoong4
Transformer ala Eco Art Park, Sentul.

Ada juga peraga alat komunikasi, semacam parabola berwarna-warni dan sepeda yang bisa dijalankan di atas seutas tambang baja.

Ahpoong2
Parabola warna-warni di Eco Art Park.

Nah, sekian dulu cerita tentang Ah Poong dan Eco Art Park. Selamat jalan-jalan ke Sentul!

Agrowisata Hambalang, Citereup

Pintu masuk Agrowisata Villa Bukit Hambalang
Pintu masuk Agrowisata Villa Bukit Hambalang

Mendengar kata Hambalang, mungkin pembaca akan teringat kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet, Hambalang yang beberapa tahun lalu ramai diberitakan. Padahal Hambalang juga memiliki tempat wisata, yakni agrowisata Bukit Hambalang.

Jika berangkat dari Jakarta melalui tol Jagorawi, Anda bisa keluar di exit tol Sentul kemudian ambil yang ke arah Sirkuit Sentul. Setelah melewati kawasan sirkuit, ikuti terus jalan yang ke arah Hambalang.

Anda akan menemukan jalanan beton yang lebar, melalui kompleks Indonesian Defense University alias Universitas Pertahanan Indonesia hingga menemukan jalan kampung yang terus menanjak. Jika sudah melewati bangunan Wisma Atlet yang kini terbengkalai, sekitar 300 meter kemudian akan terlihat gerbang Agrowisata Villa Bukit Hambalang.

Untuk memasuki kawasan ini, pengunjung harus membayar tiket Rp 10.000 per orang. Di kawasan seluas 150 hektare ini terdapat fasilitas kolam renang, outbound, jogging track, dan penginapan. Beberapa bagian kawasan ini masih terlihat belum rimbun karena pohon buah-buahan yang ditanam belum tumbuh tinggi.

Hambalang2
Kolam renang di kawasan agrowisata Villa Bukit Hambalang.

Ada beberapa gazebo yang disediakan sebagai tempat untuk melepas lelah. Dari depan penginapan, kita bisa melihat pemandangan ke arah perbukitan Citereup yang menjadi area penambangan salah satu perusahaan semen.

Hambalang6
Pemandangan ke arah bukit kapur Citereup.

Ketika kami sedang beristirahat, ada beberapa mobil offroad melintasi jalanan di depan kami. Ternyata, untuk pengunjung yang datang dalam group dan mengikuti kegiatan outbound juga disiapkan paket offroad dengan mobil-mobil 4×4 yang gagah.

Hambalang7
Kawasan Villa Bukit Hambalang yang baru ditanami.

Jadi, kalau kebetulan Anda berada di sekitar kawasan Sentul, mungkin Villa Bukit Hambalang bisa jadi alternatif wisata Anda. (*)