Kedamaian Situ Gunung dan Curug Sawer

Situ Gunung? Rasa penasaran muncul ketika saya mencari informasi di Google mengenai Situ Gunung, sebuah danau (situ) yang ikonik di Sukabumi. Beberapa foto yang dimunculkan mesin pencari menunjukkan danau ini sangat istimewa, khususnya di kalangan pecinta fotografi.

Makanya, ketika ada tawaran dari salah satu travel untuk mengikuti wisata ke Situ Gunung dan Curug Sawer, saya tertarik ikut serta. Jumat malam, kami berkumpul di salah satu mal di Slipi, Jakarta. Satu mobil ELF terisi penuh oleh peserta dan berangkat sekira jam 20.00 WIB.

Continue reading

Advertisements

Ekspedisi Maritim GMT 2016 ke Belitung

Pada 8-10 Maret lalu saya mengikuti Ekspedisi Maritim Gerhana Matahari Total 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya Republik Indonesia. Event ini diikuti oleh 1.100 pelajar, mahasiswa, dan mitra maritim termasuk beberapa instansi lain, seperti BMKG, LAPAN, dan Bosscha. Ekspedisi ini memiliki misi edukasi selain untuk memperkenalkan kekayaan maritim dan pariwisata Indonesia.

image

Selasa, 8 Maret 2016 pukul 07.00 WIB kami sudah berkumpul di Terminal Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam ekspedisi ini, kami menggunakan KM Kelud, kapal milik PT Pelni yang berkapasitas 2.000 penumpang, menuju Pelabuhan Tanjung Batu di Belitung.

Continue reading

Museum Peranakan di Tengah Pasar Lama, Tangerang

Museum Benteng Heritage yang terletak di Jalan Cilame No 18-20 di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten adalah salah satu bangunan tertua di Tangerang. Uniknya, pengunjung harus rela ‘blusukan’ melewati pasar tradisional yang disebut Pasar Lama sebelum menemukan museum ini.

Museum yang diresmikan pada 11 November 2011 ini merupakan titik nol kota Tangerang di mana terdapat benteng yang dibuat VOC untuk melindungi kota dari serangan Kerajaan Banten.

Benteng 1
Pintu masuk Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum yang disebut sebagai the pearl of Tangerang alias mutiaranya kota Tangerang ini dimiliki oleh Udaya Halim, seorang peranakan Cina Benteng yang tertarik membeli rumah tua yang berada di seberang rumah orang tuanya. Restorasi bangunan kuno ini berlangsung selama 2009-2011 dengan biaya mandiri dari kantong pribadi Udaya.

Benteng 2
Loket tempat penjualan tiket di Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu pada pukul 10.00-17.00 WIB dan libur pada hari Senin. Harga tiket masuk di museum ini Rp 20.000 untuk umum, Rp 10.000 untuk pelajar/mahasiswa, dan Rp 50.000 untuk English Language Tour.

Ketika tiba di sana, sudah ada guide yang menyambut kita untuk menjelaskan sejarah dan artefak-artefak yang disimpan di museum tersebut. Maksimal peserta untuk setiap tour adalah 20 orang. Di dalam bangunan museum yang kental dengan ornamen ukiran dan pernak-pernik khas peranakan, kita bisa melihat ruangan apa saja yang biasa dimiliki sebuah rumah milik Cina Benteng.

Selain itu, ada replika kapal jung yang digunakan oleh armada Cheng Ho dari Tiongkok ke Nusantara. Armada yang mendarat di Teluk Naga yang menjadi cikal-bakal warga Cina Benteng di Tangerang dipimpin oleh Chen Ci Lung.

Di lantai kedua bangunan ini, disimpan beberapa barang antik, seperti phonograph Edisson buatan tahun 1890 dan beberapa kamera zaman dahulu. Bangunan di lantai kedua masih mempertahankan ciri-ciri arsitektur asli, termasuk pintu kayu dengan pasak pengunci yang besar yang sangat sulit diterobos maling.

Tour berlangsung sekitar 30-45 menit. Di museum ini pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh khas Tangerang, yakni Kecap Nomor Satu yang diproduksi sejak tahun 1882. Setelah puas berkeliling museum, kami juga sempat mengunjungi Kelenteng Boon Tek Bio yang merupakan kelenteng tertua di Tangerang. Kelenteng yang berada di Jl Bhakti No 14, Pasar Lama, Tangerang ini diperkirakan dibangun pada 1684.

Pasar Lama 2
Boon Tek Bio, kelenteng tertua di Tangerang.

 

Ah Poong, ‘Pasar Terapung’ di Sentul & Eco Art Park

Sekali lagi cerita tentang perjalanan singkat ke Sentul. Mungkin tulisan ini akan berguna untuk pembaca yang ingin mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus selain Gunung Pancar atau Jungleland Sentul.

Ah Poong merupakan kawasan wisata kuliner di Sentul City yang menampilkan pemandangan ke sungai Cikeas. Letaknya tidak jauh dari pintu keluar tol Sentul. Di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner lalu mencoba naik perahu yang ada di sungai atau danau buatan di kawasan ini jadi sebenarnya bukan benar-benar pasar terapung seperti di Lok Baintan, Kalimantan Selatan.

Ahpoong5
Pasar Ah Poong, Sentul City.

Pengunjung bisa memilih duduk di bangku-bangku yang menghadap ke sungai atau di bagian lain yang menghadap ke danau buatan. Untuk membeli makanan di Ah Poong, pengunjung harus menukar sejumlah uang dengan kartu yang dikeluarkan oleh pengelola. Kartu inilah yang menjadi alat pembayaran.

Setelah memesan makanan, saldo kartu diserahkan ke kasir dan saldo akan berkurang sesuai harga makanan. Saldo minimum di kartu ini kalau tidak salah Rp 15.000. Jadi, saldo harus di-top up jika sudah menyentuh batas minimum. Setelah selesai makan, pengunjung bisa mengembalikan kartu ke kasir utama dan mendapatkan sisa saldonya. Memang sedikit merepotkan bagi yang belum terbiasa.

Ahpoong7
Berbagai kios makanan yang bisa dipilih pengunjung di Ah Poong.

Ada macam-macam makanan mulai dari mie kocok, bakso Malang, soto mie, gado-gado, sate, hingga sop duren ada di sini. Tinggal pilih sesuai selera. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000.

Ahpoong9
Naik perahu di danau buatan Ah Poong.

Di danau buatan yang ada di Ah Poong, pengunjung bisa memberi makan ikan koi dan ikan mas yang dipelihara di sini. Lalu mengelilingi danau dengan perahu, berikan uang tip yang sekiranya pantas untuk tukang dayung perahu karena mereka tidak menetapkan tarif.

Ahpoong8
Sepeda air bisa disewa untuk mengelilingi danau buatan di Ah Poong.

Jika sudah puas makan-makan dan main air di Ah Poong, mampir juga ke Eco Art Park yang ada di sebelah kawasan kuliner ini. Area Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul dihubungkan oleh jembatan berlantai kayu dengan lengkungan yang cukup ikonik. Jembatan ini sering menjadi arena selfie atau welfie para pengunjung.

Ahpoong6
Menyeberangi jembatan berlantai kayu yang menghubungkan Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul.

Di Eco Art Park yang teduh karena dinaungi pepohonan besar, ada berbagai patung yang menarik. Ada patung Sumo, ada juga patung yang terbuat dari susunan ban bekas mirip robot dalam film Transformer. Anak-anak senang berfoto di dekat patung-patung ini.

Ahpoong4
Transformer ala Eco Art Park, Sentul.

Ada juga peraga alat komunikasi, semacam parabola berwarna-warni dan sepeda yang bisa dijalankan di atas seutas tambang baja.

Ahpoong2
Parabola warna-warni di Eco Art Park.

Nah, sekian dulu cerita tentang Ah Poong dan Eco Art Park. Selamat jalan-jalan ke Sentul!

Agrowisata Hambalang, Citereup

Pintu masuk Agrowisata Villa Bukit Hambalang
Pintu masuk Agrowisata Villa Bukit Hambalang

Mendengar kata Hambalang, mungkin pembaca akan teringat kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet, Hambalang yang beberapa tahun lalu ramai diberitakan. Padahal Hambalang juga memiliki tempat wisata, yakni agrowisata Bukit Hambalang.

Jika berangkat dari Jakarta melalui tol Jagorawi, Anda bisa keluar di exit tol Sentul kemudian ambil yang ke arah Sirkuit Sentul. Setelah melewati kawasan sirkuit, ikuti terus jalan yang ke arah Hambalang.

Anda akan menemukan jalanan beton yang lebar, melalui kompleks Indonesian Defense University alias Universitas Pertahanan Indonesia hingga menemukan jalan kampung yang terus menanjak. Jika sudah melewati bangunan Wisma Atlet yang kini terbengkalai, sekitar 300 meter kemudian akan terlihat gerbang Agrowisata Villa Bukit Hambalang.

Untuk memasuki kawasan ini, pengunjung harus membayar tiket Rp 10.000 per orang. Di kawasan seluas 150 hektare ini terdapat fasilitas kolam renang, outbound, jogging track, dan penginapan. Beberapa bagian kawasan ini masih terlihat belum rimbun karena pohon buah-buahan yang ditanam belum tumbuh tinggi.

Hambalang2
Kolam renang di kawasan agrowisata Villa Bukit Hambalang.

Ada beberapa gazebo yang disediakan sebagai tempat untuk melepas lelah. Dari depan penginapan, kita bisa melihat pemandangan ke arah perbukitan Citereup yang menjadi area penambangan salah satu perusahaan semen.

Hambalang6
Pemandangan ke arah bukit kapur Citereup.

Ketika kami sedang beristirahat, ada beberapa mobil offroad melintasi jalanan di depan kami. Ternyata, untuk pengunjung yang datang dalam group dan mengikuti kegiatan outbound juga disiapkan paket offroad dengan mobil-mobil 4×4 yang gagah.

Hambalang7
Kawasan Villa Bukit Hambalang yang baru ditanami.

Jadi, kalau kebetulan Anda berada di sekitar kawasan Sentul, mungkin Villa Bukit Hambalang bisa jadi alternatif wisata Anda. (*)

Mercusuar Cikoneng, Anyer Saksi Sejarah Kedahsyatan Krakatau

Perjalanan kami ke Mercusuar Cikoneng di Anyer, Banten berlalu hampir 4,5 tahun yang lalu. Saya ingin menuliskan perjalanan ini ketika membuka-buka kembali album foto di Facebook. Bertiga kami berangkat dari halte bus RS Harapan Kita, Jakarta menunggu bus Jakarta-Merak yang akan membawa kami.

Bus yang kami tumpangi cukup padat dengan penumpang meskipun saat itu belum pukul 07.00 pagi. Sekitar dua jam kemudian kami tiba di pinggiran kota Cilegon karena bus tidak masuk ke dalam kota maka kami harus melanjutkan perjalanan naik mobil angkot ke Simpang Cilegon. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan mobil angkot menuju Cikoneng, Anyer (just make sure you ask the driver that the car goes to that destination).

Perjalanan dari Cilegon ke Anyer terasa lambat, belum lagi jalanan yang rusak/berlubang yang membuat angkot kami berjalan terseok-seok. Hampir satu jam kemudian, sopir memberi tahu kami telah sampai di tujuan.

Angin membawa aroma asin air laut. Suasana di sekitar mercusuar masih sepi. Kami berjalan menuju pantai yang berada di kawasan mercusuar ini, menghirup udara segar pantai.

image

Kami beristirahat sejenak, menikmati bekal yang kami bawa dari Jakarta. Setelah melihat-lihat sekeliling pantai, kami segera menuju ke mercusuar.

Mercusuar Cikoneng pernah saya sebut di tulisan saya tentang Belitung, ya mercusuar ini adalah saudara kembar mercusuar yang ada di Pulau Lengkuas, Belitung. Mercusuar yang dibangun pada 1806 oleh Pemerintah Hindia Belanda ini rusak parah pada 1883 terhantam batu yang dikeluarkan oleh erupsi Gunung Krakatau. Mercusuar roboh ke arah timur, adapun batu yang menghantam mercusuar itu jatuh di Sungai Kampung Bojong, Anyer.

Mercusuar Cikoneng memiliki peran yang sangat penting bagi kapal-kapal dagang VOC yang melintasi Selat Sunda, jalur pelayaran internasional pada waktu itu. Pada masa pemerintahan ZM Willem III tahun1885, mercusuar ini dibangun kembali agak menjauh dari pantai untuk menghindari abrasi.

Kami menemui penjaga mercusuar dan meminta izin untuk naik hingga ke puncak. Tidak ada tiket resmi untuk berkunjung ke mercusuar, kami hanya diminta memberi sumbangan seikhlasnya untuk perawatan mercusuar. Jika sepi pengunjung, mercusuar ini dikunci. Rumah penjaganya ada di sebelah mercusuar.

image

Bagian dalam mercusuar agak remang-remang, perlahan-lahan kami menaiki tangga besi dari lantai satu menuju puncak mercusuar di lantai 16 dan 17. Perjalanan menuju puncak mercusuar cukup melelahkan. Kami berhenti beberapa kali, di lantai 14 ada jendela terbuka yang menunjukkan pemandangan ke laut lepas.

image

Akhirnya sampai juga kami ke lantai 16. Di lantai ini ada deck di mana kita bisa melihat pemandangan laut maupun daratan di sekitar mercusuar. Indahnya, serasa hilang rasa capek ketika menaiki tangga tadi.

image

image

Lalu, di lantai 17 atau lantai teratas ada apa? Lantai teratas adalah tempat lampu mercusuar berada. Lampu inilah yang memandu kapal-kapal agar tidak menabrak karang.

image

Di kawasan ini juga terdapat penginapan berupa rumah- rumah panggung dari kayu yang berwarna natural. Kelihatannya nyaman, sayang kami belum sempat survei lebih dekat ke penginapan tersebut. Namanya Wisma Primkokarmar dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla). Informasi lebih lengkap tentang wisma ini bisa dilihat di http://www.anyerpedia.com/wisma-primkokarmar-anyer/

image

Salatiga: Sebuah Esai Foto

Kelenteng
Kelenteng Hok Tek Bio, di Jalan Letjen Sukowati, Salatiga

Salatiga adalah kota yang istimewa buat saya, bukan saja karena kota ini adalah kota kelahiran saya tetapi juga karena kota ini bisa dibilang tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit. Tidak ada mal yang mencolok. Bahkan, tidak ada gedung bioskop karena tiga gedung bioskop yang dahulu pernah dimiliki kota ini, yakni Reksa Theater, Madya Theater, dan Salatiga Theater sudah gulung tikar sejak bertahun-tahun lalu.

 

Salatiga
Salah satu sudut di jalan utama kota Salatiga.

Saya suka melihat kesibukan di pasar tradisional Salatiga meskipun becek, padat, dan terlihat kurang teratur tetapi ada banyak hal menarik yang tidak bisa dilihat di supermarket modern.

Labu
Labu air besar dijajakan oleh pedagang sayuran di pasar tradisional Salatiga.
Bunga
Kios pedagang bunga segar di pasar Salatiga.
Terompet
Pedagang terompet di pasar Salatiga, sehari sebelum Tahun Baru 2016.
Kuthuk
Anak ayam yang diberi berbagai warna untuk menarik perhatian anak-anak.
Los buah
Los pedagang buah di Jalan A Yani, Salatiga.

Semua keistimewaan dan kesederhanaan kota ini membuat saya selalu rindu untuk kembali. (*)