Keliling Jakarta Naik Citytour Bus

Libur telah tiba

Libur telah tiba

Hore…hore…hore!

Liburan sekolah telah dimulai beberapa hari yang lalu. Banyak pilihan untuk mengisi liburan tanpa harus menguras kantong. Salah satunya wisata keliling Jakarta naik Citytour Bus. Bus bertingkat (double decker) yang disediakan Pemda DKI Jakarta bekerja sama dengan CSR beberapa perusahaan ini jumlahnya cukup banyak, nyaman, dan gratis. 

Ada dua titik utama keberangkatan bus ini, yakni dari halte Masjid Istiqlal untuk bus yang menuju Kota Tua Jakarta dan halte Balaikota untuk bus yang menuju RPTRA Kali Jodo.  Selain dua halte tersebut, penumpang bisa menunggu bus di beberapa halte yang bertanda Citytour Bus, misalnya di halte Sarinah, Plaza Indonesia, Monumen Nasional (Museum Gajah), Pecenongan, dan Pasar Baroe. 

Jajaran Citytour Bus di Halte Istiqlal

Sejauh ini, saya sudah beberapa kali mencoba naik Citytour Bus ini menuju Kota Tua dan Pasar Baroe. Untuk ke RPTRA Kali Jodo, saya belum beruntung. Sejam menunggu di halte Sarinah, busnya tak kunjung datang.

Tempat duduk di lantai atas Citytour Bus Jakarta

Bus ini unik karena semua pengemudinya adalah perempuan. Saat naik bus, kita akan mendapatkan tiket bertuliskan layanan bus wisata gratis. Setelah itu, bebas memilih tempat duduk di bawah atau di atas dan menikmati perjalanan.

Jika Anda berangkat dari halte Sarinah atau Plaza Indonesia, singgah dulu di Museum Gajah atau ke Monas. Setelah puas berkeliling, Anda bisa kembali ke halte dan naik bus berikutnya menuju Kota Tua. Sepanjang perjalanan menuju Kota Tua, penumpang dapat menikmati pemandangan kawasan Pecinan dari Gajah Mada sampai Glodok. Di antara ruko-ruko dan bangunan modern, bisa kita lihat bangunan-bangunan tua yang menarik. 

Bus akan berhenti di halte Museum Bank Indonesia di Kawasan Kota Tua, Jakarta. Di museum ini terdapat penjelasan mengenai peran Bank Indonesia dalam perjalanan Republik Indonesia. Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur nasional. 

Tidak jauh dari Museum Bank Indonesia, terdapat Museum Bank Mandiri. Di sana terdapat koleksi benda-benda kuno terkait sejarah perbankan dan sejarah Bank Mandiri. 

Masih di Kawasan Kota Tua, hanya beberapa menit berjalan kaki dari Museum BI, kita akan sampai di Taman Fatahillah. Halaman Museum Fatahillah ini selalu ramai. Pengunjung bisa menyewa sepeda yang berwarna-warni untuk berkeliling kawasan ini. Selain Museum Fatahillah, ada juga Museum Wayang dan Museum Seni Rupa yang bisa Anda kunjungi di sini.

Di sekeliling Taman Fatahillah kita bisa melihat para seniman jalanan yang berperan bak patung tentara berwarna hijau atau keemasan, ada yang berpakaian seperti Pangeran Diponegoro hingga Noni Belanda. Ada juga yang berpakaian seram ala Kuntilanak atau Pocong di malam hari. Mereka dengan senang hati diajak berswafoto dengan imbalan uang tentunya. 

Setelah puas berkeliling museum, pulangnya Anda bisa menunggu Citytour Bus di halte depan BNI 46 (sebelah Stasiun Kota Beos). Bus terakhir dari Kota Tua akan kembali ke halte Istiqlal sekitar pukul 18.00 WIB. 

Nah, selamat bersenang-senang!

Menelusuri Lorong Waktu di Kampung Naga, Tasikmalaya

Kampung Naga yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya adalah sebuah kampung adat Sunda yang memegang teguh tradisi nenek moyangnya. Tidak jelas dari mana asal nama Kampung Naga, yang jelas tidak ada naga di kampung ini. Warga Kampung Naga menyebut sejarah kampungnya dengan Pareum Obor. Dalam bahasa Indonesia, pareum berarti gelap sedangkan obor adalah obor atau penerangan. Pareum Obor berarti matinya penerangan, seperti sejarah Kampung Naga yang tidak diketahui karena dokumen lama mengenai kampung ini terbakar dalam tragedi pembakaran kampung yang dilakukan organisasi DI/TII.

KNaga5
Tugu Kujang Pusaka di Kampung Naga, Tasikmalaya.

Perjalanan kami ke Kampung Naga dimulai dari kota Garut, sekitar 26 km dari jalan raya Garut-Tasikmalaya. Lokasi tepatnya di sini. Memasuki kawasan Kampung Naga, kita bisa melihat bangunan rumah yang ada di kampung ini hampir mirip dan semuanya terbuat dari material kayu dan bambu.

Kami disambut oleh salah satu warga Kampung Naga yang menjadi guide kami untuk berkeliling kampung. Menurut Ujang, guide kami, Kampung Naga mulai dibuka untuk kunjungan wisatawan pada tahun 1990-an. Sentuhan pembangunan terlihat pada irigasi yang ada di sungai Ciwulan dan tangga dari semen dan batu kali yang disebut sengked.

KNaga4
Sengked atau tangga dari batu kali dan semen menuju Kampung Naga. 

Sengked yang memiliki kemiringan 45 derajat ini jumlahnya kalau saya tidak salah menghitung ada 133 undakan sepanjang 500 meter. Dari atas tangga ini kita bisa melihat persawahan yang dikelola secara tradisional dan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu, bambu, dan beratapkan ijuk.

KNaga1
Panen padi di Kampung Naga, Tasikmalaya.

Setelah menuruni tangga, pengunjung harus melewati jalan setapak yang berada di tepi sawah dan empang menuju kampung adat. Di kampung adat ini tidak ada listrik. Kegiatan memasak dan penerangan masih menggunakan peralatan tradisional. Menyusuri kampung adat ini seolah kita masuk ke dalam lorong waktu karena tidak akan kita temui peralatan atau teknologi modern di sana.

Kami diajak masuk ke salah satu rumah penduduk. Di dalam rumah tidak ada perabotan, tamu akan duduk di atas lantai beralas tikar. Setelah beramah-tamah sebentar dengan pemilik rumah, kami melanjutkan kegiatan berkeliling kampung. Di salah satu sudut kampung terdapat ibu-ibu yang menjual hasil kerajinan sebagai cendera mata (souvenir), seperti kalung, gelang, tas dari anyaman, dan kerajinan dari bambu.

KNaga2
Berbagai kerajinan yang dijual sebagai souvenir di Kampung Naga.

Penduduk Kampung Naga mengandalkan bertani dan beternak sebagai mata pencaharian utama. Kandang hewan ternak terletak di dalam gubuk-gubuk yang dibangun di dekat sawah. Mereka juga memelihara ikan di empang.

KNaga3
Sungai Ciwulan yang mengairi persawahan di Kampung Naga.

Setelah berkeliling sekitar satu jam, tour kami berakhir. Kami beristirahat sebentar, menikmati air kelapa muda untuk menghilangkan dahaga, sebelum kembali ke Jakarta. Kampung Naga yang unik dan indah, izinkan kami untuk kembali lagi suatu saat nanti.

KNaga6
Gubuk penyimpan kayu bakar di tepi empang di Kampung Naga.

 

Bertemu Goku dan Satria Baja Hitam di Little Tokyo

Pada 14-15 Mei 2016 lalu di kawasan Blok M, Jakarta diselenggarakan Ennichisai 2016 dengan tema Miracle, Power of Love. Ennichisai merupakan festival tahunan kuliner, seni, dan kebudayaan Jepang tradisional maupun modern yang diselenggarakan sejak 2010.

Kawasan Blok M disebut sebagai Little Tokyo karena di daerah tersebut terdapat banyak restoran Jepang dan klub malam yang sebagian besar pengunjungnya adalah ekspatriat dari negeri matahari terbit tersebut. Setiap tahun diperkirakan pengunjung festival Ennichisai mencapai 200.000 orang.

Continue reading “Bertemu Goku dan Satria Baja Hitam di Little Tokyo”

Misteri di Pulau Onrust

Bagian II dari 3 tulisan

Pulau Onrust adalah pulau terbesar di antara ketiga pulau yang kami kunjungi. Pulau ini tidak memiliki pasir yang indah seperti di Pulau Kelor. Kita akan melihat beton-beton pemecah ombak di pantai pulau ini. Ketika perahu kami merapat ke dermaga, sampah-sampah terapung mengotori air laut di dermaga. Semoga saja pengelolaan sampah di pulau ini diperbaiki seiring dengan rencana pengembangan pulau ini..

Teduh, itulah kesan pertama kami ketika menyusuri Pulau Onrust. Di pulau ini terdapat banyak pohon besar, seperti pohon beringin, pohon cemara, hingga pohon saga. Di pulau ini kita bisa melihat reruntuhan bangunan yang dahulu difungsikan sebagai tempat cuci umum para jemaah haji. Ada juga sumur penampungan air, penjara, makam Belanda, dan makam pribumi.

Continue reading “Misteri di Pulau Onrust”

Benteng Martelo di Pulau Kelor

Bagian I dari 3 tulisan

Seorang teman mengajak saya bergabung dengan trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir. Wisata yang diselenggarakan oleh Rani Journey ini ditawarkan seharga Rp 95.000 per orang, sudah termasuk donasi untuk sekolah gratis Smart Ekselensia Dompet Dhuafa. Anda bisa melihat informasinya di http://www.ranijourney.com.

Hari Minggu, 24 April 2016 kami ditunggu di Dermaga Kamal Muara, Jakarta Utara pada pukul 08.00 WIB oleh guide kami, Toto. Rombongan saya ada 6 orang, kami berangkat dari Sawangan, Depok dengan mobil sewaan yang mengantar dan menjemput kami. Sewa mobil dihitung-hitung lebih murah dibandingkan dengan naik taksi atau transportasi daring semacam Grab Car dan Uber. Untuk sewa mobil 24 jam, biayanya Rp 600.000. Ini belum termasuk tol dan bensin.

Continue reading “Benteng Martelo di Pulau Kelor”

Review Inacraft 2016: From Small Village to Global Market

Event tahunan Inacraft 2016 mengusung tema The Splendour of Minangkabau, From Small Village to Global Market. Kali ini BNI sebagai penyelenggara membawa Sumatera Barat sebagai ikon gelaran ini. Ada 32 mitra binaan BNI dari berbagai Kampoeng BNI di seluruh Indonesia yang diikutsertakan dalam Inacraft 2016 yang berlangsung 20-24 April 2016 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta. Mitra-mitra binaan tersebut antara lain, Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, Kampoeng BNI Tenun Sumatera Selatan, Kampoeng BNI Tenun Silungkang, Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek, dll.

Sebenarnya saya berniat mengunjungi Inacraft pada hari pembukaan event ini, yakni pada 20 April 2016. Akan tetapi karena saya pikir hari pertama akan ramai, apalagi pembukaan dilakukan oleh Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla, kemungkinan penjagaannya bakal ketat. Akhirnya baru pada hari kedua kemarin saya bisa berkeliling Inacraft 2016.

Continue reading “Review Inacraft 2016: From Small Village to Global Market”