Bertemu Goku dan Satria Baja Hitam di Little Tokyo

Pada 14-15 Mei 2016 lalu di kawasan Blok M, Jakarta diselenggarakan Ennichisai 2016 dengan tema Miracle, Power of Love. Ennichisai merupakan festival tahunan kuliner, seni, dan kebudayaan Jepang tradisional maupun modern yang diselenggarakan sejak 2010.

Kawasan Blok M disebut sebagai Little Tokyo karena di daerah tersebut terdapat banyak restoran Jepang dan klub malam yang sebagian besar pengunjungnya adalah ekspatriat dari negeri matahari terbit tersebut. Setiap tahun diperkirakan pengunjung festival Ennichisai mencapai 200.000 orang.

Continue reading “Bertemu Goku dan Satria Baja Hitam di Little Tokyo”

Pulau Cipir, Bekas Rumah Sakit yang Jadi Spot Fotografi

Bagian III dari 3 tulisan (habis)

Perhentian terakhir kami adalah Pulau Cipir. Kalau di awal perjalanan pemandu kami berkata kami bisa berenang atau main air di pulau ini, saya tidak setuju. Kenyataannya, pantai di Pulau Kelor lebih bersih dan lebih representatif untuk berenang dan bermain air dibandingkan dengan pulau ini. Ombak di pulau ini juga cenderung lebih besar.

Pulau Cipir memiliki pantai yang tidak terlalu luas, di beberapa bagian air laut tampak jernih tetapi pada bagian lainnya masih ada sampah-sampah terapung meskipun tidak sebanyak sampah di dermaga Pulau Onrust.

Continue reading “Pulau Cipir, Bekas Rumah Sakit yang Jadi Spot Fotografi”

Misteri di Pulau Onrust

Bagian II dari 3 tulisan

Pulau Onrust adalah pulau terbesar di antara ketiga pulau yang kami kunjungi. Pulau ini tidak memiliki pasir yang indah seperti di Pulau Kelor. Kita akan melihat beton-beton pemecah ombak di pantai pulau ini. Ketika perahu kami merapat ke dermaga, sampah-sampah terapung mengotori air laut di dermaga. Semoga saja pengelolaan sampah di pulau ini diperbaiki seiring dengan rencana pengembangan pulau ini..

Teduh, itulah kesan pertama kami ketika menyusuri Pulau Onrust. Di pulau ini terdapat banyak pohon besar, seperti pohon beringin, pohon cemara, hingga pohon saga. Di pulau ini kita bisa melihat reruntuhan bangunan yang dahulu difungsikan sebagai tempat cuci umum para jemaah haji. Ada juga sumur penampungan air, penjara, makam Belanda, dan makam pribumi.

Continue reading “Misteri di Pulau Onrust”

Benteng Martelo di Pulau Kelor

Bagian I dari 3 tulisan

Seorang teman mengajak saya bergabung dengan trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir. Wisata yang diselenggarakan oleh Rani Journey ini ditawarkan seharga Rp 95.000 per orang, sudah termasuk donasi untuk sekolah gratis Smart Ekselensia Dompet Dhuafa. Anda bisa melihat informasinya di http://www.ranijourney.com.

Hari Minggu, 24 April 2016 kami ditunggu di Dermaga Kamal Muara, Jakarta Utara pada pukul 08.00 WIB oleh guide kami, Toto. Rombongan saya ada 6 orang, kami berangkat dari Sawangan, Depok dengan mobil sewaan yang mengantar dan menjemput kami. Sewa mobil dihitung-hitung lebih murah dibandingkan dengan naik taksi atau transportasi daring semacam Grab Car dan Uber. Untuk sewa mobil 24 jam, biayanya Rp 600.000. Ini belum termasuk tol dan bensin.

Continue reading “Benteng Martelo di Pulau Kelor”

Museum Peranakan di Tengah Pasar Lama, Tangerang

Museum Benteng Heritage yang terletak di Jalan Cilame No 18-20 di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten adalah salah satu bangunan tertua di Tangerang. Uniknya, pengunjung harus rela ‘blusukan’ melewati pasar tradisional yang disebut Pasar Lama sebelum menemukan museum ini.

Museum yang diresmikan pada 11 November 2011 ini merupakan titik nol kota Tangerang di mana terdapat benteng yang dibuat VOC untuk melindungi kota dari serangan Kerajaan Banten.

Benteng 1
Pintu masuk Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum yang disebut sebagai the pearl of Tangerang alias mutiaranya kota Tangerang ini dimiliki oleh Udaya Halim, seorang peranakan Cina Benteng yang tertarik membeli rumah tua yang berada di seberang rumah orang tuanya. Restorasi bangunan kuno ini berlangsung selama 2009-2011 dengan biaya mandiri dari kantong pribadi Udaya.

Benteng 2
Loket tempat penjualan tiket di Museum Benteng Heritage, Tangerang.

Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu pada pukul 10.00-17.00 WIB dan libur pada hari Senin. Harga tiket masuk di museum ini Rp 20.000 untuk umum, Rp 10.000 untuk pelajar/mahasiswa, dan Rp 50.000 untuk English Language Tour.

Ketika tiba di sana, sudah ada guide yang menyambut kita untuk menjelaskan sejarah dan artefak-artefak yang disimpan di museum tersebut. Maksimal peserta untuk setiap tour adalah 20 orang. Di dalam bangunan museum yang kental dengan ornamen ukiran dan pernak-pernik khas peranakan, kita bisa melihat ruangan apa saja yang biasa dimiliki sebuah rumah milik Cina Benteng.

Selain itu, ada replika kapal jung yang digunakan oleh armada Cheng Ho dari Tiongkok ke Nusantara. Armada yang mendarat di Teluk Naga yang menjadi cikal-bakal warga Cina Benteng di Tangerang dipimpin oleh Chen Ci Lung.

Di lantai kedua bangunan ini, disimpan beberapa barang antik, seperti phonograph Edisson buatan tahun 1890 dan beberapa kamera zaman dahulu. Bangunan di lantai kedua masih mempertahankan ciri-ciri arsitektur asli, termasuk pintu kayu dengan pasak pengunci yang besar yang sangat sulit diterobos maling.

Tour berlangsung sekitar 30-45 menit. Di museum ini pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh khas Tangerang, yakni Kecap Nomor Satu yang diproduksi sejak tahun 1882. Setelah puas berkeliling museum, kami juga sempat mengunjungi Kelenteng Boon Tek Bio yang merupakan kelenteng tertua di Tangerang. Kelenteng yang berada di Jl Bhakti No 14, Pasar Lama, Tangerang ini diperkirakan dibangun pada 1684.

Pasar Lama 2
Boon Tek Bio, kelenteng tertua di Tangerang.

 

Ah Poong, ‘Pasar Terapung’ di Sentul & Eco Art Park

Sekali lagi cerita tentang perjalanan singkat ke Sentul. Mungkin tulisan ini akan berguna untuk pembaca yang ingin mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus selain Gunung Pancar atau Jungleland Sentul.

Ah Poong merupakan kawasan wisata kuliner di Sentul City yang menampilkan pemandangan ke sungai Cikeas. Letaknya tidak jauh dari pintu keluar tol Sentul. Di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner lalu mencoba naik perahu yang ada di sungai atau danau buatan di kawasan ini jadi sebenarnya bukan benar-benar pasar terapung seperti di Lok Baintan, Kalimantan Selatan.

Ahpoong5
Pasar Ah Poong, Sentul City.

Pengunjung bisa memilih duduk di bangku-bangku yang menghadap ke sungai atau di bagian lain yang menghadap ke danau buatan. Untuk membeli makanan di Ah Poong, pengunjung harus menukar sejumlah uang dengan kartu yang dikeluarkan oleh pengelola. Kartu inilah yang menjadi alat pembayaran.

Setelah memesan makanan, saldo kartu diserahkan ke kasir dan saldo akan berkurang sesuai harga makanan. Saldo minimum di kartu ini kalau tidak salah Rp 15.000. Jadi, saldo harus di-top up jika sudah menyentuh batas minimum. Setelah selesai makan, pengunjung bisa mengembalikan kartu ke kasir utama dan mendapatkan sisa saldonya. Memang sedikit merepotkan bagi yang belum terbiasa.

Ahpoong7
Berbagai kios makanan yang bisa dipilih pengunjung di Ah Poong.

Ada macam-macam makanan mulai dari mie kocok, bakso Malang, soto mie, gado-gado, sate, hingga sop duren ada di sini. Tinggal pilih sesuai selera. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000.

Ahpoong9
Naik perahu di danau buatan Ah Poong.

Di danau buatan yang ada di Ah Poong, pengunjung bisa memberi makan ikan koi dan ikan mas yang dipelihara di sini. Lalu mengelilingi danau dengan perahu, berikan uang tip yang sekiranya pantas untuk tukang dayung perahu karena mereka tidak menetapkan tarif.

Ahpoong8
Sepeda air bisa disewa untuk mengelilingi danau buatan di Ah Poong.

Jika sudah puas makan-makan dan main air di Ah Poong, mampir juga ke Eco Art Park yang ada di sebelah kawasan kuliner ini. Area Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul dihubungkan oleh jembatan berlantai kayu dengan lengkungan yang cukup ikonik. Jembatan ini sering menjadi arena selfie atau welfie para pengunjung.

Ahpoong6
Menyeberangi jembatan berlantai kayu yang menghubungkan Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul.

Di Eco Art Park yang teduh karena dinaungi pepohonan besar, ada berbagai patung yang menarik. Ada patung Sumo, ada juga patung yang terbuat dari susunan ban bekas mirip robot dalam film Transformer. Anak-anak senang berfoto di dekat patung-patung ini.

Ahpoong4
Transformer ala Eco Art Park, Sentul.

Ada juga peraga alat komunikasi, semacam parabola berwarna-warni dan sepeda yang bisa dijalankan di atas seutas tambang baja.

Ahpoong2
Parabola warna-warni di Eco Art Park.

Nah, sekian dulu cerita tentang Ah Poong dan Eco Art Park. Selamat jalan-jalan ke Sentul!

Agrowisata Hambalang, Citereup

Pintu masuk Agrowisata Villa Bukit Hambalang
Pintu masuk Agrowisata Villa Bukit Hambalang

Mendengar kata Hambalang, mungkin pembaca akan teringat kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet, Hambalang yang beberapa tahun lalu ramai diberitakan. Padahal Hambalang juga memiliki tempat wisata, yakni agrowisata Bukit Hambalang.

Jika berangkat dari Jakarta melalui tol Jagorawi, Anda bisa keluar di exit tol Sentul kemudian ambil yang ke arah Sirkuit Sentul. Setelah melewati kawasan sirkuit, ikuti terus jalan yang ke arah Hambalang.

Anda akan menemukan jalanan beton yang lebar, melalui kompleks Indonesian Defense University alias Universitas Pertahanan Indonesia hingga menemukan jalan kampung yang terus menanjak. Jika sudah melewati bangunan Wisma Atlet yang kini terbengkalai, sekitar 300 meter kemudian akan terlihat gerbang Agrowisata Villa Bukit Hambalang.

Untuk memasuki kawasan ini, pengunjung harus membayar tiket Rp 10.000 per orang. Di kawasan seluas 150 hektare ini terdapat fasilitas kolam renang, outbound, jogging track, dan penginapan. Beberapa bagian kawasan ini masih terlihat belum rimbun karena pohon buah-buahan yang ditanam belum tumbuh tinggi.

Hambalang2
Kolam renang di kawasan agrowisata Villa Bukit Hambalang.

Ada beberapa gazebo yang disediakan sebagai tempat untuk melepas lelah. Dari depan penginapan, kita bisa melihat pemandangan ke arah perbukitan Citereup yang menjadi area penambangan salah satu perusahaan semen.

Hambalang6
Pemandangan ke arah bukit kapur Citereup.

Ketika kami sedang beristirahat, ada beberapa mobil offroad melintasi jalanan di depan kami. Ternyata, untuk pengunjung yang datang dalam group dan mengikuti kegiatan outbound juga disiapkan paket offroad dengan mobil-mobil 4×4 yang gagah.

Hambalang7
Kawasan Villa Bukit Hambalang yang baru ditanami.

Jadi, kalau kebetulan Anda berada di sekitar kawasan Sentul, mungkin Villa Bukit Hambalang bisa jadi alternatif wisata Anda. (*)

Main di Taman Kelinci dan Pecel Mbak Toen, Muncul

Masih liburan bareng keponakan di Salatiga, Jawa Tengah. Kali ini kami pergi ke Taman Kelinci yang berlokasi di kawasan wisata Muncul, tepatnya di jalur alternatif Ambarawa-Salatiga km 11.

Di Taman Kelinci ini ada banyak wahana permainan outbound, seperti flying fox, jembatan tali, meniti bambu, dan lain-lain. Ada juga perosotan, ayunan, kolam renang yang ukurannya tidak terlalu besar, kolam ikan, dan kandang kelinci dengan beberapa jenis kelinci yang lucu.

image

Kawasan wisata Taman Kelinci ini tidak terlalu luas tetapi cukup menantang untuk anak-anak. Udara yang sejuk dan hijaunya pepohonan membuat kami betah bermain di sana. Oya, tiket masuk ke Taman Kelinci Rp 5.000 per orang dan tiket parkir Rp 1.000 per sepeda motor, Rp 3.000 untuk mobil. Jika ingin berenang, pengunjung harus membayar tiket terpisah seharga Rp 5.000 per orang sedangkan untuk flying fox Rp 10.000 per orang.

Untuk paket grup atau rombongan, aktivitas yang ditawarkan lebih banyak lagi, seperti bercocok tanam, membatik, river tubing hingga offroad.

image

Semula keponakan saya agak takut-takut mencoba berbagai permainan outbound di sini. Tapi melihat anak-anak yang lain berani menjajal wahana tersebut, dia mulai tertarik untuk bermain. Anak-anak tetap harus didampingi orang dewasa dalam permainan ini.

Lama-kelamaan keponakan saya sudah berani mencoba wahana outbound yang lain, seperti jembatan yang terbuat dari tong, yang dilewati dengan cara merangkak. Bahkan dia berani mencoba flying fox yang tingginya sekira 20 meter, yay :mrgreen:

image

Permainan outbound yang ada di Taman Kelinci ini melatif fisik sekaligus keberanian dan kepercayaan diri anak.

Flying fox

Pengunjung dewasa yang mendampingi anak-anak bisa duduk-duduk di gazebo atau tempat lesehan yang ada di kawasan wisata ini. Beberapa pengunjung terlihat membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, jadi serasa piknik di taman. Buat yang enggak mau repot, di sini juga ada restoran yang menawarkan berbagai masakan.

Di mana kelincinya? Ketika kami berkunjung ke sana, kandang kelinci belum selesai dibersihkan sehingga kami tidak leluasa melihat kelinci-kelinci yang lucu. Informasi lebih lanjut soal Taman Kelinci bisa dilihat di http://www.taman-kelinci.com

Kelinci

Puas bermain di Taman Kelinci, kami sengaja tidak makan siang di sana. Kami ingin mampir ke Warung Pecel Mbak Toen yang berada tidak jauh dari Taman Kelinci, yakni di depan Pemandian Muncul (kolam renang dengan sumber air alami).

Mbak Toen

Meski bukan hari libur, siang itu Warung Pecel Mba Toen ramai oleh pengunjung. Kami memesan pecel mujair, pecel keong, dan kolak ketan. Pecel (Indonesian vegetables salad with peanut sauce) yang disajikan bersama nasi putih berisi kol, bayam, tauge, dan mie kuning yang disiram bumbu kacang encer. Lauknya ada tumis keong, mujair goreng, dan banyak pilihan lauk lainnya. Di warung ini juga menjual berbagai jenis peyek, keripik bayam, dan wader goreng (crispy baby fish).

image

image

Selepas menyantap pecel dan ikan mujair yang gurih, giliran kolak ketan kami cicipi. Kolak ketan di warung ini adalah kolak pisang yang disajikan dengan beras ketan putih.

image

Waaah, kenyang…alhamdulillah :mrgreen: Untuk tiga porsi nasi pecel, dua ikan mujair goreng yang besar (satu ekor mujair goreng akhirnya kami bungkus dan bawa pulang), dan dua mangkuk kolak ketan, total harganya Rp 75.000 saja. Kapan-kapan jika Anda ke Salatiga, jangan lupa cobain pecel dan kolak Mbak Toen, ya. (*)

Liburan Bersama Si Kecil

Liburan panjang akhir tahun seperti saat ini saya mengajak keponakan bermain di sejumlah ruang terbuka hijau yang ada di Salatiga, kota kecil yang sejuk di kaki Gunung Merbabu. Kota ini berada di antara perlintasan jalur Semarang-Solo.

Sore hari, paling cocok jalan-jalan ke Lapangan Pancasila yang merupakan alun-alun kota Salatiga. Lapangan ini berada tidak jauh dari Kantor Walikota dan Masjid Agung Salatiga. Di sini banyak disewakan otoped, mobil Upin-Ipin, dan mini ATV. Banyak juga penjual makanan dan mainan yang menawarkan dagangannya di pinggir Lapangan Pancasila.

Harga sewa otoped selama 50 menit adalah Rp 10.000 sedangkan untuk mobil-mobilan yang dijalankan dengan cara dikayuh (mobil Upin-Ipin) yang bentuknya mirip VW Kodok ini dibanderol Rp 20 ribu.

image
Bermain otoped di Lapangan Pancasila, Salatiga

Selain di Lapangan Pancasila, ada taman kota yang belum lama ini diresmikan, yakni Taman Kota Tingkir, yang berada di Kecamatan Tingkir, Salatiga. Sebelum menjadi taman kota, lahan tersebut adalah lapangan sepak bola.

Saat ini pepohonan yang ada di Taman Tingkir memang belum rindang karena masih kecil-kecil. Kolam ikan yang disiapkan juga belum diisi air. Namun tempat bermain untuk anak-anak sudah dapat dinikmati, antara lain ayunan, jungkat-jungkit, dan komidi putar manual. Di taman ini juga terdapat lapangan voli dan di bagian tengah ada semacam arena terbuka dengan jalur berbatu untuk refleksi kaki maupun jalur paving block.

image
Taman Tingkir, taman kota yang belum lama ini diresmikan di Salatiga

Pada pagi dan sore hari, taman ini ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Sebagaimana di Lapangan Pancasila, di kawasan taman ini juga bisa ditemui penyewaan otoped, motor trail mini, hingga odong-odong. Jogging track-nya lebar, malah banyak yang memanfaatkannya untuk bersepeda atau bermain sepatu roda dan skateboard.

image
Terdapat jalur berbatu-batu untuk refleksi di Taman Tingkir, Salatiga

Pengunjung taman tidak perlu membayar untuk menikmati fasilitas taman ini. Biaya parkir sepeda motor pun hanya Rp 1.000. Tidak perlu khawatir merasa haus dan lapar, ada banyak penjual makanan dan minuman dari kelas pedagang kaki lima hingga restoran di kawasan ini.

Satu lagi ruang terbuka hijau yang bisa jadi tempat nongkrong yang asyik bersama teman atau keluarga adalah Selasar Kartini yang berada di sepanjang Jl Kartini, Salatiga. Dahulu tempat ini hanya pedestrian biasa. Sejak beberapa tahun lalu, kawasan ini bersolek dan ditata rapi. Pedestriannya lebih lebar, ada banyak tempat untuk duduk-duduk di sepanjang jalan yang teduh karena dinaungi banyak pohon besar.

image
Selasar Kartini, pedestrian yang nyaman

Di salah satu sudut Selasar Kartini, tidak jauh dari gerbang SMU 3 Salatiga, ada kios kecil yang disediakan oleh Perpustakaan dan Arsip Daerah (Persipda) Salatiga agar pengunjung bisa meminjam dan membaca buku secara gratis sembari duduk-duduk di Selasar Kartini. Anak-anak juga bisa bermain dengan sepeda motor mini, sepatu roda, atau otoped yang disewakan di kawasan ini. Boleh juga selfie atau welfie di tempat yang asri ini, biar kekinian 😁
Semoga cerita kali ini bisa menjadi inspirasi untuk mengisi liburan bersama keluarga. (*)