Bertemu Goku dan Satria Baja Hitam di Little Tokyo

Pada 14-15 Mei 2016 lalu di kawasan Blok M, Jakarta diselenggarakan Ennichisai 2016 dengan tema Miracle, Power of Love. Ennichisai merupakan festival tahunan kuliner, seni, dan kebudayaan Jepang tradisional maupun modern yang diselenggarakan sejak 2010.

Kawasan Blok M disebut sebagai Little Tokyo karena di daerah tersebut terdapat banyak restoran Jepang dan klub malam yang sebagian besar pengunjungnya adalah ekspatriat dari negeri matahari terbit tersebut. Setiap tahun diperkirakan pengunjung festival Ennichisai mencapai 200.000 orang.

Continue reading “Bertemu Goku dan Satria Baja Hitam di Little Tokyo”

Advertisements

Ah Poong, ‘Pasar Terapung’ di Sentul & Eco Art Park

Sekali lagi cerita tentang perjalanan singkat ke Sentul. Mungkin tulisan ini akan berguna untuk pembaca yang ingin mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus selain Gunung Pancar atau Jungleland Sentul.

Ah Poong merupakan kawasan wisata kuliner di Sentul City yang menampilkan pemandangan ke sungai Cikeas. Letaknya tidak jauh dari pintu keluar tol Sentul. Di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner lalu mencoba naik perahu yang ada di sungai atau danau buatan di kawasan ini jadi sebenarnya bukan benar-benar pasar terapung seperti di Lok Baintan, Kalimantan Selatan.

Ahpoong5
Pasar Ah Poong, Sentul City.

Pengunjung bisa memilih duduk di bangku-bangku yang menghadap ke sungai atau di bagian lain yang menghadap ke danau buatan. Untuk membeli makanan di Ah Poong, pengunjung harus menukar sejumlah uang dengan kartu yang dikeluarkan oleh pengelola. Kartu inilah yang menjadi alat pembayaran.

Setelah memesan makanan, saldo kartu diserahkan ke kasir dan saldo akan berkurang sesuai harga makanan. Saldo minimum di kartu ini kalau tidak salah Rp 15.000. Jadi, saldo harus di-top up jika sudah menyentuh batas minimum. Setelah selesai makan, pengunjung bisa mengembalikan kartu ke kasir utama dan mendapatkan sisa saldonya. Memang sedikit merepotkan bagi yang belum terbiasa.

Ahpoong7
Berbagai kios makanan yang bisa dipilih pengunjung di Ah Poong.

Ada macam-macam makanan mulai dari mie kocok, bakso Malang, soto mie, gado-gado, sate, hingga sop duren ada di sini. Tinggal pilih sesuai selera. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000.

Ahpoong9
Naik perahu di danau buatan Ah Poong.

Di danau buatan yang ada di Ah Poong, pengunjung bisa memberi makan ikan koi dan ikan mas yang dipelihara di sini. Lalu mengelilingi danau dengan perahu, berikan uang tip yang sekiranya pantas untuk tukang dayung perahu karena mereka tidak menetapkan tarif.

Ahpoong8
Sepeda air bisa disewa untuk mengelilingi danau buatan di Ah Poong.

Jika sudah puas makan-makan dan main air di Ah Poong, mampir juga ke Eco Art Park yang ada di sebelah kawasan kuliner ini. Area Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul dihubungkan oleh jembatan berlantai kayu dengan lengkungan yang cukup ikonik. Jembatan ini sering menjadi arena selfie atau welfie para pengunjung.

Ahpoong6
Menyeberangi jembatan berlantai kayu yang menghubungkan Ah Poong dan Eco Art Park, Sentul.

Di Eco Art Park yang teduh karena dinaungi pepohonan besar, ada berbagai patung yang menarik. Ada patung Sumo, ada juga patung yang terbuat dari susunan ban bekas mirip robot dalam film Transformer. Anak-anak senang berfoto di dekat patung-patung ini.

Ahpoong4
Transformer ala Eco Art Park, Sentul.

Ada juga peraga alat komunikasi, semacam parabola berwarna-warni dan sepeda yang bisa dijalankan di atas seutas tambang baja.

Ahpoong2
Parabola warna-warni di Eco Art Park.

Nah, sekian dulu cerita tentang Ah Poong dan Eco Art Park. Selamat jalan-jalan ke Sentul!

Mencicipi Kuliner Banyumas di Umaeh Inyong

Belum lama ini di media massa ramai pembicaraan tentang mendoan, salah satu makanan khas Banyumas, yang menjadi hak merk bagi perorangan sehingga menimbulkan banyak protes. Post ini tidak akan banyak menyinggung soal mendoan, tempe yang diiris tipis lalu digoreng dengan lapisan tepung terigu yang biasanya dinikmati dengan dicocol ke sambal kecap itu.

Saya ingin bercerita tentang Umaeh Inyong, salah satu rumah makan di Purwokerto yang menyajikan masakan khas Banyumas. Umaeh Inyong atau dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Saya, berada di Jl A Yani No 47, Purwokerto.

Bangunan restoran ini adalah rumah kuno dengan interior bergaya tempo doloe. Di halaman samping, ada vespa berwarna merah yang menghiasi salah satu sudut restoran ini. Ketika memasuki restoran ini, ternyata halaman belakangnya cukup luas dan asri. Pengunjung bisa memilih makan di area rumah atau di joglo yang ada di halaman belakang.

Menurut teman saya, Umaeh Inyong dimiliki oleh salah satu artis terkenal jaman dulu, Yati Octavia. Rumah tinggal itu diubah menjadi resto beberapa tahun yang lalu.

image
Di halaman belakang Umaeh Inyong ada joglo
image
Ada becak yang menjadi aksen di halaman belakang Umaeh Inyong

Siang itu udara cukup panas tetapi di halaman belakang Umaeh Inyong angin bertiup sepoi-sepoi bikin ngantuk. Saya memesan nasi rames Banyumasan dan es cincau, sedangkan teman saya memesan oseng dage lombok ijo.

image
Nasi rames Banyumas ala Umaeh Inyong

Nasi rames Banyumasan ini cukup lengkap, ada nasi putih, serundeng, telur rebus, suwiran daging ayam, mie goreng, kering kentang, dan potongan timun. Es cincaunya berisi cincau hijau dengan santan dan gula merah yang dimasak dengan daun pandan. Oseng dage lombok ijo terbuat dari tempe gembus yang ditumis dengan bumbu kecap dan cabai hijau besar, rasanya cukup pedas dan khas. Menu lain yang tersedia di resto ini tentu saja ada mendoan, sega bandem, pepes bandeng, dan lain-lain. Harga makanan dan minuman mulai Rp 4.000- Rp 160 ribu untuk paket.

image
Es cincau dengan santan dan gula merah

Di rumah makan ini juga dijual oleh-oleh Banyumas seperti soklat (cokelat) khas Banyumas, sayangnya saya belum sempat mencicipi. Ada juga batik dengan motif Banyumasan.

image
Batik dengan motif Banyumasan di Omaeh Inyong

Menurut informasi, resto ini juga menawarkan kelas membuat cokelat ala Banyumas untuk anak-anak pada hari tertentu. Sekian dulu laporan saya tentang Umaeh Inyong. Kalau suatu saat Anda berkunjung ke Purwokerto, Jawa Tengah, mungkin Anda bisa mampir ke Umaeh Inyong :mrgreen:

Hunting Kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango

Festival Jajanan Bango (FJB) 2015 merupakan salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta kuliner Nusantara. Event tahun ini genap sepuluh tahun FJB diselenggarakan. Minggu (14/6) sore, saya menuju Plaza Barat Senayan untuk icip-icip berbagai kuliner yang dijajakan di sana. Kabarnya, ada sekitar 50 jenis makanan yang hadir di FJB 2015 ini.

Kawasan Gelora Bung Karno hari itu sangat ramai. Maklum, beberapa event diselenggarakan bersamaan, antara lain Pasar Rakyat Syariah-OJK, Burtok (Bursa Toyota Kita), Indonesia Cellular Show (ICS) 2015, dan FJB 2015.

Ketika sampai di Plaza Barat Senayan sekitar pukul 17.00 WIB, pengunjung FJB 2015 sudah ramai. Beberapa outlet dipadati antrean panjang, misalnya Sate Klathak, Ketan Susu, Nasi Goreng Rempah Mafia, dan lain-lain.

Pengunjung rela antre untuk mencicipi kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2015
Pengunjung rela antre untuk mencicipi kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2015

Sebenarnya saya penasaran dengan sate klathak Jogja dan nasi goreng rempah mafia tetapi melihat antrean yang sangat panjang, saya memilih outlet yang antreannya tidak terlalu panjang. Semua makanan di outlet yang ada di FJB 2015 ini dibanderol Rp 20 ribu per porsi, langsung bayar cash di outlet. Untuk pengunjung yang mengundung aplikasi FJB 2015 di Google Store, diberikan voucher senilai Rp 5 ribu yang bisa ditukarkan di bagian informasi. Jadi, lumayan bisa lebih murah sedikit untuk porsi pertama cicip-mencicip 🙂

Thengkleng Klewer Bu Edi, kuliner yang khas dari Solo
Thengkleng Klewer Bu Edi, kuliner yang khas dari Solo

Ini dia makanan yang pertama saya cicip, thengkleng Klewer Bu Edi dari Solo, Jawa Tengah. Thengkleng adalah makanan semacam gule dengan isi potongan daging sapi tetapi kuahnya tidak terlalu pekat. Menurut saya, thengkleng ini kurang nendang bumbunya, mungkin karena mangkuk saya ini adalah porsi kesekian ratus hehe.

Semakin sore, pengunjung terus bertambah. Ruang gerak semakin sempit, kadang-kadang kami harus berdesak-desakan untuk bergerak dari satu outlet ke outlet yang lain. Dari Indonesia Tengah, saya ingin mencoba masakan Indonesia Barat atau Timur. Pilihan jatuh pada Roti Cane Kuah Kari dari Resto Seulawah (Bendungan Hilir, Jakarta Pusat).

Roti cane kuah kari dari Resto Seulawah yang rasanya mantap
Roti cane kuah kari dari Resto Seulawah yang rasanya mantap

Hari mulai gelap. Antrean pengunjung semakin menyemut. Pilihan saya rupanya tepat. Saya menjadi salah satu dari enam pengantre yang mendapatkan porsi terakhir roti cane kuah kari Seulawah. Roti canenya mantap, terasa manis dan gurih margarine, tidak terlalu tebal, dan pinggirannya renyah. Ketika roti dicelup ke dalam kuah kental kari khas Aceh, mantap benar rasa gurih, manis, dan rempah-rempah kari beradu.

Malam hari, pengunjung FJB 2015 semakin banyak.
Malam hari, pengunjung FJB 2015 semakin banyak.

Sayang sekali, saya tidak sempat mencicip kuliner lainnya. Jumlah pengunjung yang semakin banyak membuat lokasi FJB 2015 semakin padat. Udara panas membuat saya kegerahan.

Sebelum pulang, mampir dulu ke lokasi foto-foto dan pajangan makanan yang ada di salah satu sudut FJB 2015.

Pengunjung melihat dari dekat display makanan 'palsu' yang terbuat dari lilin.
Pengunjung melihat dari dekat display makanan ‘palsu’ yang terbuat dari lilin.
Ini dia 'makanan' yang menggoda, tapi awas tertipu :)
Ini dia ‘makanan’ yang menggoda, tapi awas tertipu 🙂

Display makanan dari berbagai daerah di Nusantara terlihat menggoda dan sangat mirip dengan aslinya. Padahal, ‘makanan’ itu terbuat dari lilin. Meskipun ada peringatan agar pengunjung tidak menyentuh display makanan tersebut, masih ada beberapa pengunjung yang mungkin tidak sengaja menyentuh karena penasaran.

Pengunjung berfoto di salah satu diorama Kecap Bango
Pengunjung berfoto di salah satu diorama Kecap Bango

Rasanya, satu hari tidak cukup untuk mencoba semua kuliner Nusantara yang ada di FJB 2015. Mungkin penyelenggara bisa mempertimbangkan untuk memperpanjang waktu festival untuk tahun-tahun berikutnya agar pengunjung bisa lebih puas menikmati jajanan yang ada.