Benteng Martelo di Pulau Kelor

Bagian I dari 3 tulisan

Seorang teman mengajak saya bergabung dengan trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir. Wisata yang diselenggarakan oleh Rani Journey ini ditawarkan seharga Rp 95.000 per orang, sudah termasuk donasi untuk sekolah gratis Smart Ekselensia Dompet Dhuafa. Anda bisa melihat informasinya di http://www.ranijourney.com.

Hari Minggu, 24 April 2016 kami ditunggu di Dermaga Kamal Muara, Jakarta Utara pada pukul 08.00 WIB oleh guide kami, Toto. Rombongan saya ada 6 orang, kami berangkat dari Sawangan, Depok dengan mobil sewaan yang mengantar dan menjemput kami. Sewa mobil dihitung-hitung lebih murah dibandingkan dengan naik taksi atau transportasi daring semacam Grab Car dan Uber. Untuk sewa mobil 24 jam, biayanya Rp 600.000. Ini belum termasuk tol dan bensin.

Singkat cerita, kami berhasil sampai tepat waktu di meeting point Dermaga Kamal Muara yang berada di belakang Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Kamal Muara. Ternyata kami harus menunggu beberapa peserta lain yang belum datang sehingga kami baru naik ke perahu sekira pukul 09.00 WIB.

Kamal2
Perahu-perahu tertambat di dermaga penyeberangan Kamal Muara, Jakarta Utara. Ini adalah titik keberangkatan menuju Pulau Kelor, Onrust, dan Cipir.

Sambil menunggu, saya mengamati kegiatan di sekitar Dermaga Kamal Muara, Kampung nelayan yang padat itu berada di tepi laut yang airnya berwarna hitam dan berisi sampah di sana-sini. Kapal-kapal yang menunggu penumpang yang akan menyeberang berjejer, sebagian besar masih kosong.

Di seberang sana, saya melihat pemandangan yang kontras. Gedung-gedung pencakar langit, apartemen mewah, hingga jembatan baru yang menghubungkan kawasan Baywalk Pluit dengan pulau hasil reklamasi. Saya juga bisa melihat beberapa alat berat masih bekerja mengeruk pasir meskipun berita di media menyebutkan moratorium reklamasi Teluk Jakarta.

Akhirnya, rombongan kami lengkap 22 orang. Kami segera naik dan perahu motor perlahan berangkat menuju Pulau Kelor, pulau pertama dari tiga pulau yang kami kunjungi hari itu. Cuaca cukup bersahabat, angin laut membelai para penumpang perahu sehingga kami merasa sedikit mengantuk. 

Kamal5
Rumah terapung tempat nelayan memasang jaring di perairan Teluk Jakarta.

Menurut Toto, perjalanan dari dermaga ke Pulau Kelor memakan waktu 30 menit. Jika Anda ingin membawa rombongan sendiri alias tidak mengikuti tour semacam ini, Anda bisa menyewa perahu dengan tarif Rp 700.000-Rp 800.000 pulang-pergi. Kapasitas perahu antara 25 orang hingga 40 orang.

Dalam perjalanan ke Pulau Kelor, kami juga berpapasan dengan perahu penumpang yang lain. Kami juga melihat aktivitas nelayan di Teluk Jakarta. Kami melewati Pulau Bidadari, salah satu resort di Kepulauan Seribu, sebelum sampai ke Pulau Kelor.

Kelor1

Pulau Kelor dan Benteng Martelo terlihat ketika perahu kami merapat ke dermaga pulau tersebut.

Perahu mulai mendekati Pulau Kelor. Kami bisa melihat Benteng Martelo yang menjadi ikon pulau ini dan hamparan pasir putih yang bersih. Beberapa pengunjung berenang tidak jauh dari pantai. Beberapa petugas yang mengenakan baju safari berwarna hitam, mengingatkan saya pada seragam paspampres dan ajudan menteri, membantu kapal merapat ke dermaga. Para petugas tersebut merupakan para penjaga pulau yang ditugaskan oleh Museum Kebaharian Jakarta.

Kelor2
Pulau Kelor memiliki pantai yang bersih dengan pasir putih.

Rombongan kami segera menuju Benteng Martelo setelah mendarat di Pulau Kelor. Pagi itu pengunjung pulau belum terlalu banyak. Untuk pengunjung yang tidak mengikuti rombongan tour, ada tiket masuk yang harus dibayar seharga Rp 5.000 per orang.

Benteng Martelo adalah benteng yang dibangun Belanda pada abad ke-19. Benteng yang disusun dari batu bata berwarna merah dengan bentuk bundar ini berfungsi sebagai benteng pengawas, untuk memantau lalu-lintas kapal dagang dan mendeteksi kemungkinan mendekatnya kapal musuh. 

Kelor7
Benteng Martelo di Pulau Kelor dibangun pada awal abad ke-19.

Di sekitar kawasan Benteng Martelo ini hanya terdapat warung kecil sehingga lebih baik Anda membawa bekal air minum dan snack dari rumah. Pengunjung tidak boleh mendirikan tenda di sekitar benteng. Ada beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk tempat beristirahat sembari menikmati udara dan pemandangan pantai yang indah. Petugas di Pulau Kelor mengingatkan agar kami tidak naik ke atas bangunan benteng karena bangunan tersebut sudah rapuh dan runtuh di beberapa bagian.

Di pantai Pulau Kelor ini, beberapa orang terlihat memancing ikan, ombak di pantai Pulau Kelor ini juga tidak terlalu besar sehingga cocok untuk yang ingin berenang atau bermain pasir. Di pantai Pulau Kelor ini terdapat banyak tempat sampah sehingga tidak ada alasan bagi pengunjung untuk buang sampah sembarangan.

 

Kelor6
Seorang pengunjung memancing ikan di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Benteng Martelo dan kawasan di sekitarnya menjadi spot yang cocok untuk berfoto atau prewedding. Sayangnya saya tidak mengetahui apakah ada biaya tambahan untuk melakukan pemotretan komersial atau prewedding di Pulau Kelor. Hampir satu jam kami di Pulau Kelor. Pemandu mengingatkan kami untuk bersiap kembali ke perahu dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Onrust. (*)

Advertisements

One thought on “Benteng Martelo di Pulau Kelor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s