Kedamaian Situ Gunung dan Curug Sawer

Situ Gunung? Rasa penasaran muncul ketika saya mencari informasi di Google mengenai Situ Gunung, sebuah danau (situ) yang ikonik di Sukabumi. Beberapa foto yang dimunculkan mesin pencari menunjukkan danau ini sangat istimewa, khususnya di kalangan pecinta fotografi.

Makanya, ketika ada tawaran dari salah satu travel untuk mengikuti wisata ke Situ Gunung dan Curug Sawer, saya tertarik ikut serta. Jumat malam, kami berkumpul di salah satu mal di Slipi, Jakarta. Satu mobil ELF terisi penuh oleh peserta dan berangkat sekira jam 20.00 WIB.

Malam itu bulan purnama terlihat jelas dari kendaraan kami yang menembus padatnya tol Jagorawi menuju Ciawi lalu ke Sukabumi. Kemacetan akibat penyempitan jalan membuat perjalanan kami tertahan cukup lama sehingga tengah malam kami baru melewati Ciawi. Masih beberapa jam lagi hingga kami melewati daerah Cibadak hingga memasuki Kecamatan Cisaat, melewati rumah-rumah penduduk hingga tiba di camping ground Tegal Tepus sekira jam 03.00 pagi. Padahal perhitungan sebelumnya memperkirakan kami bisa sampai di kawasan tersebut pada tengah malam.

Peserta yang lelah beristirahat sejenak di salah satu pondok. Udara dingin mulai terasa menusuk tulang. Di kamar mandi yang ada di pondok itu tidak ada air karena aliran air belum dibuka oleh si penjaga pondok (hingga subuh). Jadilah kami harus menggunakan air mineral botol untuk kebutuhan darurat ke toilet.

Baru sebentar rasanya kami memejamkan mata, subuh tiba. Setelah sholat subuh dan menunggu antrean di toilet (setelah aliran air ke kamar mandi dibuka), kami harus bergegas menuju Situ Gunung jika ingin menyaksikan matahari terbit. Kami sudah sampai di pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan membayar tiket masuk Rp 18.500 per orang.

Setelah berjalan melewati jalan tanah yang berbatu-batu, dengan pepohonan yang rapat di kanan dan kiri jalan, kami mulai melihat Situ Gunung. Matahari terbit tidak jelas terlihat karena tertutup pepohonan yang tinggi. Kabut tipis bergerak di atas permukaan air danau. Kesunyian dan kedamaian Situ Gunung pagi itu nyaris terasa magis.

Situ Gunung1
Kabut tipis bergerak di atas permukaan Situ Gunung.

Sayangnya, kami tidak melihat perahu atau getek bambu dan pencari ikan di Situ Gunung, seperti dalam foto-foto yang kami lihat di laman Google Image. Ada lapangan rumput yang luas di pinggir danau yang mulai ramai oleh pengunjung. Ada juga bapak-bapak yang menjajakan mie instant cup dan gorengan.

Menyusuri kawasan danau ini harus berhati-hati karena pada beberapa bagian ada tanah yang becek dan lembek sehingga licin jika dilewati. Ada perahu kosong yang tertambat di pinggir danau. Agak siang sedikit, perahu ini biasanya akan mengantar para pengunjung untuk berkeliling danau dengan biaya Rp 10 ribu per orang.

Situ Gunung2
Perahu yang tertambat di pinggir Situ Gunung.
Situ Gunung3
Pohon-pohon yang rapat dan tumbuh tinggi menjulang di sekeliling Situ Gunung, Sukabumi.

Setelah berkeliling Situ Gunung, kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Sawer dengan berjalan kaki melewati jalan tanah berbatu yang terus menanjak. Track menuju Curug Sawer ini lumayan sulit. Beberapa jalur sempit dan licin sehingga kami harus ekstra hati-hati melewatinya. Lebih dari satu jam kami berjalan, hingga terdengar suara gemuruh air terjun. Curugnya sudah dekat!

Kami melewati jembatan kecil dari bambu dan memasuki kawasan Curug Sawer. Oya, di sini ada biaya tiket masuk Rp 5.000 per orang. Pengunjung curug sudah cukup ramai, ada yang hanya melihat dari pinggir curug di dekat batu-batu kali yang besar, ada juga yang nyemplung dan mandi di dekat air terjun.

Curug Sawer1
Curug Sawer, Sukabumi memiliki aliran air yang deras.

Air terjun dengan ketinggian 25 meter-30 meter ini memiliki debit air yang cukup deras. Pengunjung yang berdiri jauh dari air terjun pun bisa merasakan curahan titik-titik air dari curug tersebut.

Curug Sawer2
Pengunjung mandi di Curug Sawer, Sukabumi.

Perjuangan selanjutnya adalah ketika kami akan turun dari Curug Sawer dan kembali ke camping ground. Beberapa peserta yang sudah kehabisan tenaga (akibat menanjak waktu menuju curug ini), memilih menggunakan jasa ojek untuk turun dengan ongkos Rp 15.000. Saya termasuk yang memilih cara ini 🙂 Wow, ternyata lebih ngeri naik ojek menuruni jalur sempit jalan setapak di kawasan ini. Jantung berdebar keras, adrenalin terpompa karena salah sedikit saja motor bisa terjun ke sawah. Itulah yang membuat perjalanan ke Curug Sawer semakin berkesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s