Ekspedisi Maritim GMT 2016 ke Belitung

Pada 8-10 Maret lalu saya mengikuti Ekspedisi Maritim Gerhana Matahari Total 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya Republik Indonesia. Event ini diikuti oleh 1.100 pelajar, mahasiswa, dan mitra maritim termasuk beberapa instansi lain, seperti BMKG, LAPAN, dan Bosscha. Ekspedisi ini memiliki misi edukasi selain untuk memperkenalkan kekayaan maritim dan pariwisata Indonesia.

image

Selasa, 8 Maret 2016 pukul 07.00 WIB kami sudah berkumpul di Terminal Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam ekspedisi ini, kami menggunakan KM Kelud, kapal milik PT Pelni yang berkapasitas 2.000 penumpang, menuju Pelabuhan Tanjung Batu di Belitung.

GMT3
KM Kelud yang membawa peserta Ekspedisi Maritim GMT 2016.

Setelah registrasi ulang selesai, kami naik ke kapal untuk menyimpan barang bawaan ke kamar. Kami mendapatkan kamar kelas 2A di dek 5. Kamar ini memiliki tiga ranjang susun (bunk bed) dan enam loker, mirip kamar hostel. Di kelas dua, kamar mandi berada di luar kamar.

image

Selesai menyimpan barang, kami kembali turun dan menunggu upacara pelepasan. Sekira pukul 10.00 WIB upacara dimulai. Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli bertindak selaku inspektur upacara. Dalam sambutannya, Pak Rizal menyatakan sebuah negara yang mampu menguasai laut akan menguasai dunia, seperti Kerajaan Sriwijaya yang memiliki pengaruh hingga ke Kerajaan Campa (Thailand) dan Kerajaan Majapahit yang menguasai Malaka (Malaysia). Abad ke-21 merupakan abad kebangkitan negara-negara Asia, termasuk Indonesia untuk berjaya di bidang maritim.

Setelah upacara, rombongan berbaris memasuki kapal. KM Kelud belum membuang sauh hingga selepas makan siang. Kami memanfaatkan waktu untuk berkeliling melihat-lihat apa saja yang ada di KM Kelud. Di dek 5 terdapat gym, common room dengan fasilitas bermain untuk anak-anak, dan mini theater. Di dek 6 adalah dek untuk kamar penumpang kelas 1, di sini juga terdapat restoran, toko, dan pemancar wifi. Di dek 7, terdapat poliklinik, mushola, minimarket, dan anjungan di mana penumpang bisa duduk-duduk menikmati pemandangan laut.

Sore harinya, kami mengikuti sesi materi Dasar-dasar Fotografi dari Agustinus Tri Mulyadi. Dia memberikan tips untuk memotret gerhana matahari. Kamera standar harus menggunakan filter khusus untuk menurunkan intensitas cahaya matahari. Filter yang disarankan adalah ND 1000 untuk menurunkan intensitas cahaya hingga 10 stop. Bisa juga menggunakan kaca film atau slide. Kecepatan kamera juga harus diatur pada kecepatan tinggi agar tidak blur karena fokus objeknya berada pada jarak yang jauh.

Materi berikutnya dari Prof Dr Suhardja D Wiramihardja, Astronomy Research Group dari ITB/Bosscha. Gerhana matahari total merupakan peristiwa langka yang terjadi 350 tahun sekali. Proses gerhana matahari terjadi karena posisi bulan berada di antara matahari dan bumi sehingga matahari tertutup bayangan bulan. Gerhana matahari total dalam prosesnya akan membentuk cincin yang mirip cincin dengan batu permata, yang disebut sebagai Merjan Bailey. Ketika gerhana matahari sudah mencapai proses sempurna dan terlihat korona, proses ini bisa dilihat tanpa alat bantu. Namun tahap-tahap sebelum dan sesudahnya harus disaksikan dengan bantuan kacamata khusus agar kornea mata tidak rusak.

Tak terasa waktu berlalu, senja telah tiba. Kami menuju anjungan untuk menyaksikan matahari terbenam. Hanya rasa syukur yang bisa saya ungkapkan, menyaksikan keindahan milik-Nya dalam pelayaran perdana dalam hidup saya ketika kumandang adzan magrib terdengar dari pengeras suara.

GMT10
Sunset terlihat dari KM Kelud.

Selepas makan malam, kami kembali mengikuti materi yang diberikan oleh Satgas Gerakan Bersih Senyum dari Kemenko Maritim dan Sumber Daya. Suasana menjadi riuh ketika Ibu Ara melontarkan pertanyaan kepada peserta pelajar dan mahasiswa. Setiap peserta yang berhasil menjawab dengan benar mendapatkan hadiah berupa buku bertanda-tangan Rizal Ramli maupun bingkisan lainnya.

Salah satu pertanyaannya adalah tentang berapa jumlah pulau yang dimiliki Indonesia. Para pelajar berebut menjawab dengan antusias tetapi jawaban yang diberikan hanya nyaris benar. Jawabannya adalah 17.499 pulau. Ini adalah data terbaru dari TNI. Data sebelumnya pada 2004 menyebutkan Indonesia memiliki 17.504 pulau. Lima pulau telah hilang karena tenggelam.  Sekira pukul 22.00 kami kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Menjelang subuh, Rabu (9/3), kesibukan kembali terlihat. Sebagian peserta mengantri di kamar mandi, bersiap untuk shalat subuh lalu menunggu matahari terbit. Dari anjungan di dek 7, sunrise tidak terlihat cemerlang karena tertutup awan. Dari kejauhan sudah terlihat mercusuar Pulau Lengkuas, Belitung. Kami sedikit khawatir proses gerhana matahari total tidak bisa kami saksikan karena tertutup awan.

GMT14
Mercusuar Pulau Lengkuas, Belitung pada saat matahari terbit.

Hampir pukul 07.00 ketika terdengar pengumuman dari pengeras suara mushola agar jamaah shalat sunnah gerhana segera berkumpul. Perlahan-lahan kapal bergerak, mencari posisi yang lebih baik untuk menyaksikan gerhana matahari. Kami sempat turun untuk sarapan. Tidak lama kemudian, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa proses gerhana matahari sudah dimulai.

Anjungan di dek 7 dan top deck sudah penuh terisi oleh para peserta dan fotografer yang ingin mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Seorang awak kapal mengatakan kami bisa menyaksikan gerhana matahari dari buritan. Kacamata gerhana sudah kami siapkan, ternyata separo matahari sudah tertutup bayangan bulan dan berangsur-angsur terlihat seperti bulan sabit. Langit yang terang mulai redup, perlahan gelap pun datang. Subhanallah, kami menyaksikan bayangan bulan menutup matahari dengan sempurna hingga terbentuk cincin. Merjan Bailey!

GMT15
Mengabadikan gerhana matahari total dari buritan kapal.

Momen yang hanya berlangsung selama beberapa menit itu sangat berharga. Takbir dan sorak kekaguman terdengar dari para penumpang KM Kelud.

Ketika langit kembali terang, nahkoda mengarahkan kapal ke Pelabuhan Tanjung Batu. Ini adalah perhentian kami sebelum menuju Pantai Tanjung Kelayang, Belitung yang menjadi lokasi puncak Gerhana Matahari Total 2016.

Sejumlah bus dan minibus sudah menunggu kami di Pelabuhan Tanjung Batu. Jarak dari Tanjung Batu ke Tanjung Kelayang sekitar 120 km ditempuh dalam waktu 2 jam. Iring-iringan mobil rombongan terasa berjalan lambat meskipun jalanan kosong. Ketika kami tiba di Pantai Tanjung Kelayang, acara sudah dimulai. Acara ini dihadiri oleh Gubernur Bangka Belitung Rustam Effendi, Deputi Menko Maritim dan Sumber Daya, serta Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Dalam sambutannya, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan Belitung adalah salah satu dari 10 destinasi wisata unggulan di Indonesia. “Belitung akan menjadi Maldives-nya Indonesia. Pendapatan Maldives dari sektor pariwisata mencapai US$ 2 miliar sedangkan PAD Belitung saat ini hanya Rp 200 miliar,” ujar Arief.

Peristiwa Gerhana Matahari Total 2016  menarik 50 ribu wisatawan ke Tanjung Kelayang, naik 10 kali lipat dibandingkan dengan kunjungan pada hari biasa yang sebanyak 5 ribu wisatawan. Belitung juga menjadi trending topic dunia pada hari itu.

GMT19
Pantai Tanjung Kelayang, Belitung.

Setelah istirahat makan siang, kami menuju Pantai Tanjung Tinggi, Belitung. Pantai berpasir putih dengan batu-batu raksasa ini merupakan lokasi shooting film Laskar Pelangi sehingga disebut juga sebagai Pantai Laskar Pelangi. Ini adalah kunjungan kedua saya ke Belitung, tetapi rasanya setiap kunjungan memberikan kesan yang berbeda sehingga saya tidak pernah bosan.

GMT25
Pelajar peserta Ekspedisi Maritim GMT 2016 menyusuri Pantai Tanjung Tinggi.

Puas berfoto-foto di Pantai Laskar Pelangi, kami segera kembali ke mobil yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Tanjung Batu. Sekira pukul 16.00 waktu setempat, kami tiba di Tanjung Batu dan kembali ke kamar. Setelah checking peserta tuntas dan dipastikan tidak ada penumpang yang tertinggal, kapal melego jangkar meninggalkan pelabuhan menuju Tanjung Priok, Jakarta.

GMT26
Sunset ketika kami meninggalkan Pelabuhan Tanjung Batu.

Malam harinya kami beristirahat dengan nyenyak. Ketika subuh tiba, Kamis (10/3), kami segera bersiap-siap untuk membereskan barang bawaan sebelum check out dari kapal. Pengumuman dari pengeras suara menyebutkan kapal segera merapat ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada pukul 05.30 WIB.

Pelayaran singkat dari Jakarta ke Belitung kali ini menjadi pengalaman yang mengesankan bagi kami. Mengenal laut, belajar tentang gerhana matahari, dan potensi pariwisata Indonesia. Terima kasih kepada Kemenko Maritim dan Sumber Daya RI yang sudah mengajak saya dalam ekspedisi ini. Semoga maritim kita semakin jaya!

Advertisements

One thought on “Ekspedisi Maritim GMT 2016 ke Belitung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s