Salatiga: Sebuah Esai Foto

Kelenteng
Kelenteng Hok Tek Bio, di Jalan Letjen Sukowati, Salatiga

Salatiga adalah kota yang istimewa buat saya, bukan saja karena kota ini adalah kota kelahiran saya tetapi juga karena kota ini bisa dibilang tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit. Tidak ada mal yang mencolok. Bahkan, tidak ada gedung bioskop karena tiga gedung bioskop yang dahulu pernah dimiliki kota ini, yakni Reksa Theater, Madya Theater, dan Salatiga Theater sudah gulung tikar sejak bertahun-tahun lalu.

 

Salatiga
Salah satu sudut di jalan utama kota Salatiga.

Saya suka melihat kesibukan di pasar tradisional Salatiga meskipun becek, padat, dan terlihat kurang teratur tetapi ada banyak hal menarik yang tidak bisa dilihat di supermarket modern.

Labu
Labu air besar dijajakan oleh pedagang sayuran di pasar tradisional Salatiga.
Bunga
Kios pedagang bunga segar di pasar Salatiga.
Terompet
Pedagang terompet di pasar Salatiga, sehari sebelum Tahun Baru 2016.
Kuthuk
Anak ayam yang diberi berbagai warna untuk menarik perhatian anak-anak.
Los buah
Los pedagang buah di Jalan A Yani, Salatiga.

Semua keistimewaan dan kesederhanaan kota ini membuat saya selalu rindu untuk kembali. (*)

Advertisements

One thought on “Salatiga: Sebuah Esai Foto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s