Kuliner Bogor: Toge Goreng dan Lumpia Basah

Bogor yang terkenal sebagai Kota Hujan dan Kota Seribu Angkot punya berbagai kuliner khas yang memikat. Selain asinan sayur dan asinan buah, ada banyak pilihan bagi wisatawan yang ingin menggoyang lidah.

Seperti Rabu lalu ketika saya singgah di Bogor. Perjalanan dengan commuter line dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Bogor memakan waktu sekira 1,5 jam. Tengah hari benar saya sampai di Stasiun Bogor yang sibuk. Perut keroncongan. Ketika keluar dari stasiun, berjejer-jejer angkot yang ingin menarik penumpang. Saya menyeberang jalan, lalu berjalan mencari bakal makan siang.

Di sebelah SMP 1 Bogor, ada banyak penjual makanan, semacam kantin kaki lima. Saya tertarik mencoba Toge Goreng yang dijajakan di salah satu warung. Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya pesan es kelapa muda dari warung di sebelahnya.

image
Satu porsi toge goreng siap disantap

Es kelapa yang saya pesan, biasa saja bahkan cenderung terlalu manis untuk lidah saya. Nah, akhirnya toge goreng yang ditunggu-tunggu datang juga. Porsinya cukup besar. Di dalam piring ada toge, mie, tahu goreng yang dipotong kecil-kecil, dan potongan ketupat yang kemudian disiram dengan bumbu tauco, cabe, dan kecap. Hmm…rasanya mantap dan pedasnya pas. Harga seporsi toge goreng ini cukup ditebus Rp 10 ribu saja, murah kan…

Sebenarnya toge goreng ini dijual di banyak tempat di Bogor, tidak terlalu sulit mencarinya. Di Jakarta, kadang-kadang bisa kita jumpai penjual toge goreng dengan pikulannya yang khas tapi itupun jarang sekali.

Setelah kenyang makan siang dan menyelesaikan urusan di Bogor, saya harus kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju Stasiun Bogor, ada penjual jajanan yang cukup ramai pelanggannya di trotoar yang berada di depan Gereja Bethlehem, di Jalan Suryakencana, Bogor.

Di situ ada Soto Mie, Siomay, dan yang menarik perhatian saya adalah Lumpia Basah. Saya memesan satu porsi lumpia basah yang pedas. Semula saya pikir lumpia basah ala Bogor ini sama seperti lumpia basah Semarang. Ternyata penampakannya berbeda.

image
Lumpia basah yang ini berbeda dengan lumpia basah ala Semarang.

Ketika pesanan saya datang, ada campuran telur, toge (tauge), dan semacam kwetiau yang ditutup dengan selimut kulit lumpia, disajikan di atas piring kecil beralas daun pisang. Untuk menikmatinya, gunakan sumpit.

Ketika dibuka kulit lumpianya, terlihat toge, telur, dan kwetiaunya berpadu dengan bumbu yang pedas dari cabe, bawang putih, dan kecap manis. Orang Bogor itu kreatif, ya. Nyatanya dari toge saja bisa diolah menjadi toge goreng dan lumpia basah. Oya, kalau lumpia basah versi Semarang, isinya adalah tumisan rebung yang dikombinasikan dengan daging ayam, sapi atau udang. Jadi, kedua versi lumpia basah ini benar-benar berbeda meskipun memiliki julukan yang sama.

image
Abang tukang lumpianya terima pesanan juga lho

Satu porsi lumpia basah ini harganya murah saja, cuma Rp 6 ribu. Ehm…wisata kuliner singkat di Bogor kali ini sangat menyenangkan dan mengenyangkan. Kapan-kapan saya akan jalan-jalan lagi ke Bogor dan mencoba makanan khas yang lain. (*)

Advertisements

2 thoughts on “Kuliner Bogor: Toge Goreng dan Lumpia Basah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s