Main di Taman Kelinci dan Pecel Mbak Toen, Muncul

Masih liburan bareng keponakan di Salatiga, Jawa Tengah. Kali ini kami pergi ke Taman Kelinci yang berlokasi di kawasan wisata Muncul, tepatnya di jalur alternatif Ambarawa-Salatiga km 11.

Di Taman Kelinci ini ada banyak wahana permainan outbound, seperti flying fox, jembatan tali, meniti bambu, dan lain-lain. Ada juga perosotan, ayunan, kolam renang yang ukurannya tidak terlalu besar, kolam ikan, dan kandang kelinci dengan beberapa jenis kelinci yang lucu.

image

Kawasan wisata Taman Kelinci ini tidak terlalu luas tetapi cukup menantang untuk anak-anak. Udara yang sejuk dan hijaunya pepohonan membuat kami betah bermain di sana. Oya, tiket masuk ke Taman Kelinci Rp 5.000 per orang dan tiket parkir Rp 1.000 per sepeda motor, Rp 3.000 untuk mobil. Jika ingin berenang, pengunjung harus membayar tiket terpisah seharga Rp 5.000 per orang sedangkan untuk flying fox Rp 10.000 per orang.

Untuk paket grup atau rombongan, aktivitas yang ditawarkan lebih banyak lagi, seperti bercocok tanam, membatik, river tubing hingga offroad.

image

Semula keponakan saya agak takut-takut mencoba berbagai permainan outbound di sini. Tapi melihat anak-anak yang lain berani menjajal wahana tersebut, dia mulai tertarik untuk bermain. Anak-anak tetap harus didampingi orang dewasa dalam permainan ini.

Lama-kelamaan keponakan saya sudah berani mencoba wahana outbound yang lain, seperti jembatan yang terbuat dari tong, yang dilewati dengan cara merangkak. Bahkan dia berani mencoba flying fox yang tingginya sekira 20 meter, yay :mrgreen:

image

Permainan outbound yang ada di Taman Kelinci ini melatif fisik sekaligus keberanian dan kepercayaan diri anak.

Flying fox

Pengunjung dewasa yang mendampingi anak-anak bisa duduk-duduk di gazebo atau tempat lesehan yang ada di kawasan wisata ini. Beberapa pengunjung terlihat membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, jadi serasa piknik di taman. Buat yang enggak mau repot, di sini juga ada restoran yang menawarkan berbagai masakan.

Di mana kelincinya? Ketika kami berkunjung ke sana, kandang kelinci belum selesai dibersihkan sehingga kami tidak leluasa melihat kelinci-kelinci yang lucu. Informasi lebih lanjut soal Taman Kelinci bisa dilihat di http://www.taman-kelinci.com

Kelinci

Puas bermain di Taman Kelinci, kami sengaja tidak makan siang di sana. Kami ingin mampir ke Warung Pecel Mbak Toen yang berada tidak jauh dari Taman Kelinci, yakni di depan Pemandian Muncul (kolam renang dengan sumber air alami).

Mbak Toen

Meski bukan hari libur, siang itu Warung Pecel Mba Toen ramai oleh pengunjung. Kami memesan pecel mujair, pecel keong, dan kolak ketan. Pecel (Indonesian vegetables salad with peanut sauce) yang disajikan bersama nasi putih berisi kol, bayam, tauge, dan mie kuning yang disiram bumbu kacang encer. Lauknya ada tumis keong, mujair goreng, dan banyak pilihan lauk lainnya. Di warung ini juga menjual berbagai jenis peyek, keripik bayam, dan wader goreng (crispy baby fish).

image

image

Selepas menyantap pecel dan ikan mujair yang gurih, giliran kolak ketan kami cicipi. Kolak ketan di warung ini adalah kolak pisang yang disajikan dengan beras ketan putih.

image

Waaah, kenyang…alhamdulillah :mrgreen: Untuk tiga porsi nasi pecel, dua ikan mujair goreng yang besar (satu ekor mujair goreng akhirnya kami bungkus dan bawa pulang), dan dua mangkuk kolak ketan, total harganya Rp 75.000 saja. Kapan-kapan jika Anda ke Salatiga, jangan lupa cobain pecel dan kolak Mbak Toen, ya. (*)

Liburan Bersama Si Kecil

Liburan panjang akhir tahun seperti saat ini saya mengajak keponakan bermain di sejumlah ruang terbuka hijau yang ada di Salatiga, kota kecil yang sejuk di kaki Gunung Merbabu. Kota ini berada di antara perlintasan jalur Semarang-Solo.

Sore hari, paling cocok jalan-jalan ke Lapangan Pancasila yang merupakan alun-alun kota Salatiga. Lapangan ini berada tidak jauh dari Kantor Walikota dan Masjid Agung Salatiga. Di sini banyak disewakan otoped, mobil Upin-Ipin, dan mini ATV. Banyak juga penjual makanan dan mainan yang menawarkan dagangannya di pinggir Lapangan Pancasila.

Harga sewa otoped selama 50 menit adalah Rp 10.000 sedangkan untuk mobil-mobilan yang dijalankan dengan cara dikayuh (mobil Upin-Ipin) yang bentuknya mirip VW Kodok ini dibanderol Rp 20 ribu.

image
Bermain otoped di Lapangan Pancasila, Salatiga

Selain di Lapangan Pancasila, ada taman kota yang belum lama ini diresmikan, yakni Taman Kota Tingkir, yang berada di Kecamatan Tingkir, Salatiga. Sebelum menjadi taman kota, lahan tersebut adalah lapangan sepak bola.

Saat ini pepohonan yang ada di Taman Tingkir memang belum rindang karena masih kecil-kecil. Kolam ikan yang disiapkan juga belum diisi air. Namun tempat bermain untuk anak-anak sudah dapat dinikmati, antara lain ayunan, jungkat-jungkit, dan komidi putar manual. Di taman ini juga terdapat lapangan voli dan di bagian tengah ada semacam arena terbuka dengan jalur berbatu untuk refleksi kaki maupun jalur paving block.

image
Taman Tingkir, taman kota yang belum lama ini diresmikan di Salatiga

Pada pagi dan sore hari, taman ini ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Sebagaimana di Lapangan Pancasila, di kawasan taman ini juga bisa ditemui penyewaan otoped, motor trail mini, hingga odong-odong. Jogging track-nya lebar, malah banyak yang memanfaatkannya untuk bersepeda atau bermain sepatu roda dan skateboard.

image
Terdapat jalur berbatu-batu untuk refleksi di Taman Tingkir, Salatiga

Pengunjung taman tidak perlu membayar untuk menikmati fasilitas taman ini. Biaya parkir sepeda motor pun hanya Rp 1.000. Tidak perlu khawatir merasa haus dan lapar, ada banyak penjual makanan dan minuman dari kelas pedagang kaki lima hingga restoran di kawasan ini.

Satu lagi ruang terbuka hijau yang bisa jadi tempat nongkrong yang asyik bersama teman atau keluarga adalah Selasar Kartini yang berada di sepanjang Jl Kartini, Salatiga. Dahulu tempat ini hanya pedestrian biasa. Sejak beberapa tahun lalu, kawasan ini bersolek dan ditata rapi. Pedestriannya lebih lebar, ada banyak tempat untuk duduk-duduk di sepanjang jalan yang teduh karena dinaungi banyak pohon besar.

image
Selasar Kartini, pedestrian yang nyaman

Di salah satu sudut Selasar Kartini, tidak jauh dari gerbang SMU 3 Salatiga, ada kios kecil yang disediakan oleh Perpustakaan dan Arsip Daerah (Persipda) Salatiga agar pengunjung bisa meminjam dan membaca buku secara gratis sembari duduk-duduk di Selasar Kartini. Anak-anak juga bisa bermain dengan sepeda motor mini, sepatu roda, atau otoped yang disewakan di kawasan ini. Boleh juga selfie atau welfie di tempat yang asri ini, biar kekinian 😁
Semoga cerita kali ini bisa menjadi inspirasi untuk mengisi liburan bersama keluarga. (*)

Jogging dan Sepedaan di Situ Gintung

Situ Gintung merupakan salah satu danau buatan untuk resapan air yang ada di Kota Tangerang Selatan, tepatnya di Kelurahan Ciputat Timur. Jika berkendara dari arah Lebak Bulus, lurus saja sekitar 6,2 kilometer ke arah Ciputat. Situ Gintung letaknya agak tersembunyi di sebelah kiri jalan, nanti akan ditemui gang menurun yang berada di sebelah TK Tunas Mentari dan Kampung Jajan.

Waduk yang dibuat pada 1932-1933 dengan luas awal 31 hectare ini menimbulkan bencana besar ketika bobol pada 2009 silam, dengan korban jiwa sekitar 99 orang. Sejak saat itu, waduk ini dibangun kembali oleh pemerintah dan pada 2011 berubah nama menjadi Bendungan Gintung.

Gintung1
Monumen Situ Gintung

 

Ketika saya berkunjung ke sana sekitar pukul 14.00 WIB beberapa hari yang lalu, suasana bendungan ini terlihat sepi. Beberapa pekerja terlihat melakukan perbaikan di sekitar Monumen Situ Gintung. Biasanya, bendungan ini ramai dikunjungi masyarakat sekitar pada akhir pekan.

Tidak perlu membayar biaya atau tiket masuk untuk menikmati suasana bendungan ini. Kawasan ini cocok untuk olah raga jalan kaki, jogging atau bersepeda pada pagi dan sore hari. Ada jalan yang cukup lebar dan sudah dipaving block dengan kontur yang naik turun, cukup menantang untuk berolahraga.

Gintung2
Jalur yang mulus untuk pejalan kaki, jogging atau bersepeda di kawasan Bendungan Gintung.

 

Di kawasan ini Anda juga bisa menyewa sepeda dengan harga sewa Rp 5.000 jika tidak ingin repot membawa sepeda sendiri. Di kanan-kiri jalan yang dinaungi pepohonan juga terdapat bangku-bangku dari semen, cocok untuk sekadar beristirahat atau ngobrol bersama teman.

Gintung6
Pemandangan di Bendungan Gintung (Situ Gintung).
Gintung5
Bantaran Situ Gintung.

Piknik di kawasan ini rasanya cukup menyenangkan. Jika enggan membawa bekal dari rumah, di sini juga banyak warung makan atau pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman. Aktivitas memancing bisa juga dicoba. Di beberapa sudut waduk ini bisa kita lihat penduduk sekitar yang tengah mencari ikan dengan joran maupun jala.

Sayangnya, masih terlihat sampah di pinggiran waduk maupun di beberapa sudut kawasan ini. Semoga ke depannya masyarakat sekitar dan pengunjung Situ Gintung mau menjaga kebersihan di kawasan waduk ini. (*)

Mencicipi Kuliner Banyumas di Umaeh Inyong

Belum lama ini di media massa ramai pembicaraan tentang mendoan, salah satu makanan khas Banyumas, yang menjadi hak merk bagi perorangan sehingga menimbulkan banyak protes. Post ini tidak akan banyak menyinggung soal mendoan, tempe yang diiris tipis lalu digoreng dengan lapisan tepung terigu yang biasanya dinikmati dengan dicocol ke sambal kecap itu.

Saya ingin bercerita tentang Umaeh Inyong, salah satu rumah makan di Purwokerto yang menyajikan masakan khas Banyumas. Umaeh Inyong atau dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Saya, berada di Jl A Yani No 47, Purwokerto.

Bangunan restoran ini adalah rumah kuno dengan interior bergaya tempo doloe. Di halaman samping, ada vespa berwarna merah yang menghiasi salah satu sudut restoran ini. Ketika memasuki restoran ini, ternyata halaman belakangnya cukup luas dan asri. Pengunjung bisa memilih makan di area rumah atau di joglo yang ada di halaman belakang.

Menurut teman saya, Umaeh Inyong dimiliki oleh salah satu artis terkenal jaman dulu, Yati Octavia. Rumah tinggal itu diubah menjadi resto beberapa tahun yang lalu.

image
Di halaman belakang Umaeh Inyong ada joglo
image
Ada becak yang menjadi aksen di halaman belakang Umaeh Inyong

Siang itu udara cukup panas tetapi di halaman belakang Umaeh Inyong angin bertiup sepoi-sepoi bikin ngantuk. Saya memesan nasi rames Banyumasan dan es cincau, sedangkan teman saya memesan oseng dage lombok ijo.

image
Nasi rames Banyumas ala Umaeh Inyong

Nasi rames Banyumasan ini cukup lengkap, ada nasi putih, serundeng, telur rebus, suwiran daging ayam, mie goreng, kering kentang, dan potongan timun. Es cincaunya berisi cincau hijau dengan santan dan gula merah yang dimasak dengan daun pandan. Oseng dage lombok ijo terbuat dari tempe gembus yang ditumis dengan bumbu kecap dan cabai hijau besar, rasanya cukup pedas dan khas. Menu lain yang tersedia di resto ini tentu saja ada mendoan, sega bandem, pepes bandeng, dan lain-lain. Harga makanan dan minuman mulai Rp 4.000- Rp 160 ribu untuk paket.

image
Es cincau dengan santan dan gula merah

Di rumah makan ini juga dijual oleh-oleh Banyumas seperti soklat (cokelat) khas Banyumas, sayangnya saya belum sempat mencicipi. Ada juga batik dengan motif Banyumasan.

image
Batik dengan motif Banyumasan di Omaeh Inyong

Menurut informasi, resto ini juga menawarkan kelas membuat cokelat ala Banyumas untuk anak-anak pada hari tertentu. Sekian dulu laporan saya tentang Umaeh Inyong. Kalau suatu saat Anda berkunjung ke Purwokerto, Jawa Tengah, mungkin Anda bisa mampir ke Umaeh Inyong :mrgreen:

Seru-seruan di De Arca dan De Mata Jogja

Lagi di Jogja tapi pengen mencoba wisata yang baru? Coba saja main ke De Arca statue museum dan De Mata trick eye museum yang ada di XT Square, Jalan Veteran, Jogja (Yogyakarta).

Museum yang buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00 WIB ini terbilang unik. Ketika masuk ke De Arca atau De Mata, kita bisa memilih tiket terpisah Rp 50 ribu per orang untuk mengunjungi salah satu museum tersebut atau tiket terusan seharga Rp 75 ribu untuk masuk ke kedua museum tersebut.

De Arca adalah museum patung lilin (wax museum) yang menampilkan replika dari tokoh-tokoh dunia. Tinggal pilih tokoh mana yang mau kamu ajak berfoto. Ada Pak Harto dan Ibu Tien yang memakai beskap dan kebaya berwarna biru. Ada patung Hitler, Ratu Elizabeth II, Dalai Lama, Katy Perry, Mr Bean, hingga David Beckham. Ada juga patung Gus Dur, Jokowi, Ahok, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Mau foto dengan replika superhero dari Captain America hingga Hulk si raksasa hijau juga ada.

image
Berfoto dengan patung Mr Bean, lebih ganteng daripada aslinya.
image
Berbincang akrab dengan Gus Dur

Setelah berkeliling melihat-lihat patung tokoh-tokoh dunia, kami lanjut ke De Mata trick eye museum. Oya, kami memilih tiket terusan karena lebih hemat dibandingkan tiket terpisah.

Lokasi De Mata trick eye museum agak jauh dari De Arca statue museum meskipun masih berada di satu komplek XT Square. Di De Mata, pengunjung bisa berfoto dengan berbagai gaya yang seru pada lukisan 3D (tiga dimensi) yang ada di sana.

Petugas yang ada di sana akan membantu memotret pengunjung dan memberikan instruksi agar hasil fotonya lebih meyakinkan. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Anda bisa berfoto dengan latar belakang Tembok Besar China, piramida di Mesir, dan kincir angin di Belanda.

Ada juga pose ala surfer, pemanjat tebing, atau berpetualang seperti Aladin di atas karpet terbang. Tentu saja semuanya hanya tipuan mata :mrgreen:

image
Meniti jembatan sempit di atas sungai yang bergolak
image
Pura-pura berebut makanan dengan simpanse

Nah, apakah kamu terinspirasi untuk seru-seruan juga di De Arca dan De Mata jika berkunjung ke Jogja? And camera, action!

Kuliner Bogor: Toge Goreng dan Lumpia Basah

Bogor yang terkenal sebagai Kota Hujan dan Kota Seribu Angkot punya berbagai kuliner khas yang memikat. Selain asinan sayur dan asinan buah, ada banyak pilihan bagi wisatawan yang ingin menggoyang lidah.

Seperti Rabu lalu ketika saya singgah di Bogor. Perjalanan dengan commuter line dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Bogor memakan waktu sekira 1,5 jam. Tengah hari benar saya sampai di Stasiun Bogor yang sibuk. Perut keroncongan. Ketika keluar dari stasiun, berjejer-jejer angkot yang ingin menarik penumpang. Saya menyeberang jalan, lalu berjalan mencari bakal makan siang.

Di sebelah SMP 1 Bogor, ada banyak penjual makanan, semacam kantin kaki lima. Saya tertarik mencoba Toge Goreng yang dijajakan di salah satu warung. Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya pesan es kelapa muda dari warung di sebelahnya.

image
Satu porsi toge goreng siap disantap

Es kelapa yang saya pesan, biasa saja bahkan cenderung terlalu manis untuk lidah saya. Nah, akhirnya toge goreng yang ditunggu-tunggu datang juga. Porsinya cukup besar. Di dalam piring ada toge, mie, tahu goreng yang dipotong kecil-kecil, dan potongan ketupat yang kemudian disiram dengan bumbu tauco, cabe, dan kecap. Hmm…rasanya mantap dan pedasnya pas. Harga seporsi toge goreng ini cukup ditebus Rp 10 ribu saja, murah kan…

Sebenarnya toge goreng ini dijual di banyak tempat di Bogor, tidak terlalu sulit mencarinya. Di Jakarta, kadang-kadang bisa kita jumpai penjual toge goreng dengan pikulannya yang khas tapi itupun jarang sekali.

Setelah kenyang makan siang dan menyelesaikan urusan di Bogor, saya harus kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju Stasiun Bogor, ada penjual jajanan yang cukup ramai pelanggannya di trotoar yang berada di depan Gereja Bethlehem, di Jalan Suryakencana, Bogor.

Di situ ada Soto Mie, Siomay, dan yang menarik perhatian saya adalah Lumpia Basah. Saya memesan satu porsi lumpia basah yang pedas. Semula saya pikir lumpia basah ala Bogor ini sama seperti lumpia basah Semarang. Ternyata penampakannya berbeda.

image
Lumpia basah yang ini berbeda dengan lumpia basah ala Semarang.

Ketika pesanan saya datang, ada campuran telur, toge (tauge), dan semacam kwetiau yang ditutup dengan selimut kulit lumpia, disajikan di atas piring kecil beralas daun pisang. Untuk menikmatinya, gunakan sumpit.

Ketika dibuka kulit lumpianya, terlihat toge, telur, dan kwetiaunya berpadu dengan bumbu yang pedas dari cabe, bawang putih, dan kecap manis. Orang Bogor itu kreatif, ya. Nyatanya dari toge saja bisa diolah menjadi toge goreng dan lumpia basah. Oya, kalau lumpia basah versi Semarang, isinya adalah tumisan rebung yang dikombinasikan dengan daging ayam, sapi atau udang. Jadi, kedua versi lumpia basah ini benar-benar berbeda meskipun memiliki julukan yang sama.

image
Abang tukang lumpianya terima pesanan juga lho

Satu porsi lumpia basah ini harganya murah saja, cuma Rp 6 ribu. Ehm…wisata kuliner singkat di Bogor kali ini sangat menyenangkan dan mengenyangkan. Kapan-kapan saya akan jalan-jalan lagi ke Bogor dan mencoba makanan khas yang lain. (*)