Jalan Panjang ke Gunung Padang, Cianjur

Jalan-jalan yuk, ke Cianjur! Emang ada apa di Cianjur? Salah satu objek wisata menarik yang ada di Cianjur adalah Situs Megalitik Gunung Padang. Situs purbakala yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur sekitar 165 kilometer dari Jakarta ini masih menyimpan misteri. Beberapa kalangan menyebut situs ini merupakan situs megalitik tertua di Asia Tenggara dan diperkirakan dibangun pada 5000 tahun sebelum Masehi, bahkan bisa jadi lebih tua dari itu.

Situs megalitik Gunung Padang diperkirakan sebuah piramida, salah satu hasil kebudayaan tingkat tinggi. Ada yang menyebutnya terkait dengan kebudayaan Atlantis yang hilang. Ada juga yang menduga piramida ini dibangun oleh alien. Penelitian mengenai asal-usul dan misteri situs megalitik ini masih terus dipelajari oleh para ahli.

Singkat cerita, kami penasaran dengan cerita-cerita mengenai Gunung Padang. Saya dan sepuluh orang teman menyewa mobil plus sopir untuk mengantar kami ke Gunung Padang. Kebetulan salah satu teman kami sudah beberapa kali ke Gunung Padang dan berjanji menjadi guide.

Perjalanan dimulai pukul 07.00 pagi dari Jakarta. Lalu lintas relatif lancar meskipun saat itu weekend. Dalam perjalanan kali ini, kami berencana berhenti di beberapa tempat: Stasiun Lampegan, Gunung Padang, lalu Curug Kondang.

Laju mobil ELF warna merah yang kami tumpangi  mulai melambat ketika melalui jalan perkampungan yang berbatu-batu mendekati Stasiun Lampegan. Seringkali di jalur yang sempit mobil harus lewat bergantian.

1. Stasiun Lampegan

Matahari tepat di atas kepala ketika kami sampai di Stasiun Lampegan. Di sini terdapat Terowongan Lampegan yang disebut sebagai terowongan pertama di Jawa Barat, yang dibangun di Desa Cibokor pada 1879-1882.

Terowongan Lampegan
Para wisatawan yang akan mengunjungi situs megalitik Gunung Padang biasanya singgah untuk berfoto di Terowongan Lampegan.
Stasiun Lampegang dilewati oleh KA Siliwangi yang melayani rute Sukabumi-Cianjur.
Stasiun Lampegan dilewati oleh KA Siliwangi yang melayani rute Sukabumi-Cianjur.

Nama Stasiun Lampegan berasal dari kata-kata yang sering diucapkan Beckman kepada para pekerja yang tengah membangun terowongan. Dia mengingatkan agar mereka  membawa lampu untuk menghindari bahaya kurangnya oksigen di dalam terowongan. “Lamp…pegang, lamp…pegang.”

2. Gunung Padang

Setelah beristirahat sejenak dan berfoto di depan Stasiun Lampegan, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Padang. Dari Stasiun Lampegan ke Gunung Padang sekitar 8 kilometer.  Akhirnya, sampai juga kami ke Gunung Padang, yeay!

Jika Anda sudah melihat gerbang ini, artinya Anda sudah sampai di Gunung Padang.
Jika Anda sudah melihat gerbang ini, artinya Anda sudah sampai di Gunung Padang.

Hari sudah cukup siang, kami pun mulai lapar. Di sekitar situs ini terdapat banyak warung, pengunjung tidak perlu jauh-jauh mencari makan siang di kawasan ini. Menu makan siang kami waktu itu: nasi putih, sayur asem, sambal, ayam goreng dan ikan asin. Sedap!

Oh, ya harga tiket di Gunung Padang ini Rp 2.000 untuk wisatawan domestik. Adapun biaya guide sebesar Rp 50.000, satu rombongan cukup satu guide. Jika tidak ingin menggunakan jasa guide pun tak apa.

Setelah bahan bakar perut diisi, kami bersiap-siap mendaki. Abah Dadi, guide kami, menyebutkan ada dua jalur menuju puncak Gunung Padang. Jalur pertama berupa undak-undakan batu sepanjang 180 meter tetapi cukup curam. Jalur yang kedua lebih landai, meskipun lebih panjang yakni 300-an meter dan terbuat dari semen.

Sebagian besar anggota rombongan memilih jalur pendek alias jalur pertama. Pilihan ini kemudian saya sesali, karena jalur yang menanjak membuat perjalanan ke atas terasa sangat lama dan menguras tenaga 🙂

Pemandu wisata kami Abah Dadi, sedang menceritakan sejarah situs Gunung Padang.
Pemandu wisata kami Abah Dadi, sedang menceritakan sejarah situs Gunung Padang.

Siang itu cukup banyak pengunjung Gunung Padang. Kami duduk di atas rumput sambil meluruskan otot kaki yang kejang karena dipaksa mendaki. Abah Dadi berpesan agar kami tidak merusak susunan batu-batu menhir yang ada di situs tersebut. Beberapa batu bisa menghasilkan bunyi-bunyian mirip suara gamelan jika ditabuh. Ada juga batu yang berbekas tapak kaki harimau (maung) dan kujang (senjata khas Jawa Barat).

Suasana perbukitan yang asri di sekeliling situs Gunung Padang, dilihat dari atas.
Suasana perbukitan yang asri di sekeliling situs Gunung Padang, dilihat dari atas.

Gunung Padang terdiri atas lima teras. Ini adalah pemandangan di teras teratas alias teras kelima.

Gunung Padang terdiri atas lima teras. Ini adalah pemandangan di teras teratas alias teras kelima.

Hari mulai sore, kami bergegas turun karena kami masih ingin mengunjungi satu tempat lagi di Cianjur.

3. Curug Cikondang

Jarak dari Gunung Padang ke Curug Cikondang diperkirakan sekitar 7 kilometer, tetapi kami harus menempuhnya dalam waktu hampir satu jam melalui jalan aspal hingga jalan tanah yang berbatu-batu dan sempit. Sepanjang perjalanan kami melewati perkebunan teh hingga mencapai Warung Kondang. Cuaca ketika itu mendung sehingga kami sempat ragu-ragu untuk menuju Curug Cikondang. Malah kami asyik bercanda dengan suami-istri pemilik warung.

Kita harus melewati jalan tanah di areal perkebunan/persawahan untuk mencapai Curug Cikondang.
Kita harus melewati jalan tanah di areal perkebunan/persawahan untuk mencapai Curug Cikondang.

Trekking menuju Curug Cikondang berlanjut. Tidak ada pos penjaga atau loket penjual tiket di sini. Tetapi, sebelum memasuki gerbang kami dicegat oleh seorang ibu yang meminta kami membayar retribusi sebesar Rp 5.000 per orang.

Jalan tanah menuju Curug Cikondang tidak terlalu terjal. Kami berjalan santai sambil menengok ke kanan dan ke kiri, eh maksudnya sambil melihat pemandangan kawasan persawahan dan perkebunan di sana. Ada pembangkit mini hidro yang sudah rusak di sungai yang kami lewati.

Melewati persawahan dan perkebunan teh.
Melewati persawahan dan perkebunan teh.

Taraa! Inilah Curug Cikondang.

Debit air Curug Cikondang cukup deras.
Debit air Curug Cikondang cukup deras.

Curug Cikondang dari dekat Sang surya tenggelam, hari menjelang Magrib ketika kami meninggalkan kawasan Curug Cikondang. Tersisa lelah dan kenangan indah yang kami bawa pulang ke Jakarta.

Perjalanan pulang terasa horror. Jalanan sempit berbatu-batu membuat kami terguncang-guncang di dalam mobil. Sepanjang jalan hanya gelap. Rasanya lama sekali sebelum kami kembali melihat perkampungan dan lampu-lampu bercahaya. Ah, mungkin saya saja yang lebay 🙂

Advertisements

10 thoughts on “Jalan Panjang ke Gunung Padang, Cianjur

    1. Ke Curug lebih baik pake mobil yang agak tinggi karena permukaan jalannya tanah berbatu-batu. Kebanyakan yang datang naik mobil ELF, bisa juga numpang mobil sayur (pick up) tetapi jam lewatnya nggak tentu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s