Melongok Gua Jepang dan Belanda di Tahura

Akhir Agustus lalu, ada seorang teman yang berbaik hati menawarkan voucher hotel di Bandung. Akhirnya berdua dengan seorang teman, kami berangkat Sabtu pagi dengan kereta Argo Parahyangan pukul 06.45 WIB.

Kami sampai di Stasiun Bandung sekitar pukul 10.30 WIB lalu istirahat sejenak dan mampir ke minimarket untuk membeli air minum dan makanan kecil. Karena liburan kali ini spontan, kami ingin pergi ke Tebing Karaton yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Dari depan stasiun, kami naik angkot yang menuju Dago. Setelah kami turun di Simpang Dago, seharusnya kami naik angkot Ciroyom-Ciburial yang ke arah Dago Pakar. Eh, kami salah naik angkot Ciroyom yang lain dan akhirnya harus balik lagi ke Simpang Dago hehehe

Setelah menemukan angkot yang dimaksud, kami bilang ke Pak Sopir untuk diturunkan di Dago Pakar tepatnya di jalan masuk menuju Taman Hutan Raya Juanda (Tahura). Dari situ, kami naik ojek Rp 5.000 sampai ke depan loket Tahura. Pengunjung membeli tiket masuk Rp 11.000 per orang. Untuk wisatawan asing, harga tiket masuk Rp 75 ribu per orang. Adapun untuk kegiatan foto komersial, seperti prewedding dikenai biaya Rp 200 ribu.

Di sini pengunjung yang membawa sepeda motor bisa membawa masuk motornya ke kawasan Tahura tapi bukan lewat Pintu I, sepertinya lewat Pintu II dan harga tiket masuknya berbeda. Kalau tidak salah, Rp 25 ribu atau Rp 30 ribu. (Belakangan kami menyesal tidak naik motor saja ke sana, karena bisa lebih leluasa menjangkau kawasan wisata Tahura dan lebih hemat). Oya, Tahura buka dari jam 08.00-16.00 WIB setiap hari. Info lebih lengkap di sini http://tahuradjuanda.jabarprov.go.id/

Ketika masuk ke kawasan ini, ada prasasti bertuliskan Wilujeng Sumping ke Taman Hutan Raya Juanda Bandung.
Ketika masuk ke kawasan ini, ada prasasti bertuliskan Wilujeng Sumping ke Taman Hutan Raya Juanda Bandung.

Udara sejuk semakin terasa di kawasan hutan lindung seluas 526,98 hektare ini. Nanti kita akan melihat papan penunjuk arah yang menunjukkan letak Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay, dan fasilitas lain yang ada di kawasan ini.

Papan petunjuk arah. Yang terdekat dari Pintu Pos I adalah Goa Jepang.
Papan petunjuk arah. Yang terdekat dari Pintu Pos I adalah Goa Jepang.

Jalur trekking atau jogging di Tahura ini cukup lebar dan rapi karena sudah memakai paving block. Untuk kenyamanan menyusuri kawasan ini dengan berjalan kaki, sebaiknya kita menggunakan sepatu olahraga atau sandal gunung agar tidak mudah capek. Di kawasan ini ada juga kuda tunggangan yang disewakan tetapi saya tidak sempat menanyakan berapa tarifnya.

Di depan Gua Jepang, banyak orang yang menawarkan sewa lampu senter dengan harga Rp 5 ribu karena di dalam gua memang gelap sekali. Namun hati-hati teman, ada tukang senter yang merangkap guide dadakan. Seperti yang kami alami waktu itu. Setelah menyewa senter, si tukang senter itu mengatakan akan menunjukkan bagian dalam Goa Jepang.

Salah satu pintu masuk di Goa Jepang
Salah satu pintu masuk di Goa Jepang

Ketika memasuki goa, selain gelap udara juga terasa lembab. Si akang tukang senter terus bercerita bahwa goa itu dibangun oleh para romusha dengan peralatan seadanya. Menakjubkan memikirkan bagaimana peralatan sederhana itu bisa membuat goa yang besar dengan lorong-lorong dan ruang-ruang berbeda dan lantainya yang tersusun rapi dari batu-batu bundar.

Yang terlihat dari dalam goa.
Yang terlihat dari dalam goa.

Ketika keluar dari goa, kami hendak membayar sewa senter. Lho, si akang kok minta bayaran lebih? Katanya dia sudah jadi guide di dalam goa, tarifnya Rp 30 ribu! Wah, enak saja dia minta bayaran padahal kami tidak pernah meminta dia menjadi guide. Akhirnya dengan terpaksa kami bayar Rp 20 ribu. Hal seperti ini mungkin bisa dikategorikan tourist scam, ya. Alangkah lebih baik jika si akang menawarkan jasanya dengan jujur kepada para wisatawan yang datang ke Tahura.

Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan. Dari Goa Jepang menuju Goa Belanda, jaraknya sekitar 1 km. Cobalah tengok ke kanan dan ke kiri, lihat ke atas rimbun pepohonan. Barangkali kamu beruntung melihat beberapa kera ekor panjang (Macaca Fascicularis). Di sini kita juga bisa melihat pohon sosis (sausage tree atau nama latinnya Kigelia Pinnata).

Pohon yang asalnya dari Afrika ini memiliki buah berbentuk panjang mirip sosis dan di habitat aslinya, buah ini disukai oleh kera babon, gajah, hingga kuda nil. Berat buah sosis ini bisa mencapai 15 kg. Kabarnya, buah ini juga bisa menjadi obat rematik dan penawar bisa ular.

Memandang kawasan hutan, lahan kebun, dan sungai yang mengalir di bawah dari gardu pandang yang ada di Taman Hutan Raya Juanda.
Memandang kawasan hutan, lahan kebun, dan sungai yang mengalir di bawah dari gardu pandang yang ada di Taman Hutan Raya Juanda.

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang kakek penjual minuman tradisional dari pohon aren atau nira (Jawa: legen). Segelas nira yang rasanya manis mengobati dahaga, harganya hanya Rp 3 ribu. Si kakek yang ramah kami ajak ngobrol, tetapi beliau cuma bisa menjawab dalam bahasa Sunda yang saya tidak begitu paham :))

Kakek penjual nira
Kakek penjual nira

Kami melanjutkan perjalanan menuju Goa Belanda. Oya, di sepanjang jalur trekking terdapat banyak warung kecil yang menjual makanan dan minuman jadi tak perlu khawatir jika tidak membawa bekal makanan. Ada warung yang menjual jagung bakar dan colenak juga lho.

Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kami sampai juga di Goa Belanda. Berbeda dengan Goa Jepang yang merupakan tempat persembunyian dan tempat tinggal sementara, Goa Belanda ini digunakan sebagai penjara. Tidak mengherankan jika ada pintu besi di goa ini. Di depan goa ini juga disewakan senter, untungnya tidak ada guide nakal seperti di Goa Jepang.

Pintu masuk Goa Belanda di Tahura.
Pintu masuk Goa Belanda di Tahura.

Setelah puas melihat-lihat, sebenarnya saya ingin melanjutkan perjalanan ke air terjun (curug) yang berada di kawasan tersebut. Menurut penunjuk arah, Curug Kidang sekitar 2 km dari Goa Belanda, Curug Lalay 3 km, dan Curug Omas 5 km. Namun, mengingat hari sudah mulai sore dan kami harus berjalan keluar kawasan Tahura dengan berjalan kaki (yang berarti akan semakin jauh jika dimulai dari curug), maka kami putuskan untuk pulang. Di sini kami menyesal tidak mengunjungi tempat ini dengan sepeda motor. Walaupun ada jasa ojek di kawasan ini, tetapi kami harus pandai-pandai menawar jika ingin merogoh kocek terlalu dalam.

Perjalanan ke Tahura kami sudahi hari itu. Kami batal mengunjungi Tebing Karaton karena keterbatasan waktu dan doku hehe… Maklum, untuk menyewa ojek sampai ke kawasan tersebut pulang-pergi (PP) dikenakan tarif Rp 100 ribu (ini efek popularitas Tebing Karaton di socmed). Kapan-kapan, kami akan kembali ke sini dan menjelajahi kawasan ini dengan sepeda motor…sampai tuntas!

Advertisements