Menikmati Gangan dan Kopi

Berkunjung ke Belitung belum lengkap jika belum mencoba kuliner khasnya, sop ikan yang dikenal dengan nama Gangan. Salah satu masakan Gangan yang direkomendasikan adalah Gangan ala Ruma Makan Belitong Timpo Duluk, di Jalan Mas Daud, Kampung Parit, Tanjung Pandan.

Ornamen antik di dinding Ruma Makan Belitong Timpo Duluk
Ornamen antik di dinding Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Bangunan rumah makan ini merupakan rumah kayu tradisional Belitung yang disebut Simpor Bedulang. Interior di rumah makan ini terkesan jadul. Di salah satu dindingnya terpasang sepeda dengan keranjang bambu, ada juga jam dinding antik dan peralatan untuk menangkap ikan. Di sisi lain, ada cetakan kue jaman dulu hingga bakiak yang terpajang apik di dalam pigura raksasa.

Berbagai kuliner Belitong, sup gangan disajikan di dalam batok kelapa
Berbagai kuliner Belitong, sup gangan disajikan di dalam batok kelapa

Ikan yang digunakan dalam Gangan biasanya ikan kakap merah, ikan ketarap atau ikan bulat. Bumbu kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, lengkuas, sereh dan asam berpadu dengan potongan buah nenas yang memberi sensasi manis-asam. Sup ikan dengan kuah berwarna kuning itu semakin istimewa karena disajikan di dalam batok kelapa muda. Nasi hangat yang dibungkus daun simpor segera kami buka dan diguyur kuah gangan, segar disantap di siang yang panas.

Nasi putih yang dibungkus daun simpor
Nasi putih yang dibungkus daun simpor

Kopi Ake

Selain mencoba makanan khas, kami juga sempat mencicipi kopi racikan khas di Kedai Kopi Ake yang merupakan kedai kopi tertua di Tanjung Pandan. Lokasi kedai kopi ini agak tersembunyi, di dalam gang sempit di belakang ruko kawasan Kafe Senang yang tidak jauh dari Tugu Satam di pusat kota Tanjung Pandan.

Tempatnya tidak istimewa, malah mirip rumah biasa. Akiong, pemilik Kedai Kopi Ake, menyambut kami dengan ramah. Di bercerita, lokasi kedainya ini hanya sementara, karena kedai kopi yang berada di kawasan Kafe Senang sedang direnovasi.

Kedai Kopi Ake sudah berjalan selama tiga generasi, sejak tahun 1922. Abok, kakek Akiong, yang memulai bisnis itu di era penambangan timah zaman kolonial Belanda.

Anda bisa memesan kopi hitam, kopi susu, es kopi atau teh susu (teh tarik) jika Anda tidak terbiasa minum kopi. Beberapa teman memesan telur ayam kampung setengah matang sebagai pendamping minum kopi. Kedai kopi ini tidak menyediakan makanan lain atau kue-kue sebagai pendamping kopi, jadi kunjungan ini hanya benar-benar untuk menikmati kopi.

Akiong terlihat sangat terampil menyeduh bubuk kopi, kemudian memasukkannya ke dalam saringan yang terbuat dari kain tipis yang elastis. Kopi berpindah beberapa kali ke cangkir lalu ke dalam saringan, seperti yang dilakukan di warung-warung kopi di Aceh.

Kopi disaring dengan saringan yang terbuat dari kain
Kopi disaring dengan saringan yang terbuat dari kain

Kopi robusta produk Tanjung Pandan itu akhirnya dituang ke dalam gelas-gelas sederhana. Segelas kopi dengan aroma yang harum khas bau tanah, membentuk lapisan di atas susu kental manis, menunggu untuk diaduk. Itu kopi susu pesanan saya. Rasanya mantap dan tidak asam, tidak ada ampas kopi di dasar gelas karena kopi sudah melalui proses penyaringan.

Tak terasa kami harus segera kembali ke Jakarta. Ketika kami berpamitan, Akiong meminta kami untuk datang lagi suatu saat nanti. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s