Kampung Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa

Dirgahayu Jakarta! Usia Jakarta menginjak 487 tahun pada 22 Juni lalu. Kampung Betawi ini sudah menjadi megapolitan, melting pot dari berbagai etnis. Jakarta adalah cermin Indonesia mini.

Untuk yang kangen dengan suasana kampung Betawi, mungkin bisa menyambangi Kampung Betawi yang ada di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selain bisa menikmati pertunjukan budaya Betawi pada hari-hari tertentu, wisata kuliner dan wisata keluarga di sekitar Setu Babakan juga boleh dilirik.

Di pinggir Setu Babakan terdapat banyak warung penjual makanan tradisional Indonesia, dari ketoprak, toge goreng, gado-gado, laksa, hingga kerak telor.
Di pinggir Setu Babakan terdapat banyak warung penjual makanan tradisional Indonesia, dari ketoprak, toge goreng, gado-gado, laksa, hingga kerak telor.
Setu Babakan
Pemandangan dari pinggir danau atau setu pada siang hari
Naik perahu naga seperti ini untuk mengelilingi Setu Babakan, biayanya Rp 10 ribu per orang.
Naik perahu naga seperti ini untuk mengelilingi Setu Babakan, biayanya Rp 10 ribu per orang.
Sepeda air
Berwisata bersama keluarga di Setu Babakan juga bisa dilakukan dengan menyewa sepeda air untuk mengelilingi setu.
Rumah tradisional Betawi yang ada di Kampung Betawi Setu Babakan, Jagakarsa
Rumah tradisional Betawi yang ada di Kampung Betawi Setu Babakan, Jagakarsa
Panggung pertunjukan tarian atau lenong atau kesenian Betawi lainnya. Biasanya ditampilkan di hari Minggu atau hari libur nasional.
Panggung pertunjukan tarian atau lenong atau kesenian Betawi lainnya. Biasanya ditampilkan di hari Minggu atau hari libur nasional.
Di kampung ini juga dijual berbagai cenderamata, seperti baju dari kain batik corak khas Betawi
Di kampung ini juga dijual berbagai cenderamata, seperti baju dari kain batik corak khas Betawi
Penjual kerak telor di Setu Babakan, Jagakarsa. Pembeli bisa memilih telur ayam atau telur bebek untuk kerak telornya.
Penjual kerak telor di Setu Babakan, Jagakarsa. Pembeli bisa memilih telur ayam atau telur bebek untuk kerak telornya.
Advertisements

Menikmati Gangan dan Kopi

Berkunjung ke Belitung belum lengkap jika belum mencoba kuliner khasnya, sop ikan yang dikenal dengan nama Gangan. Salah satu masakan Gangan yang direkomendasikan adalah Gangan ala Ruma Makan Belitong Timpo Duluk, di Jalan Mas Daud, Kampung Parit, Tanjung Pandan.

Ornamen antik di dinding Ruma Makan Belitong Timpo Duluk
Ornamen antik di dinding Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Bangunan rumah makan ini merupakan rumah kayu tradisional Belitung yang disebut Simpor Bedulang. Interior di rumah makan ini terkesan jadul. Di salah satu dindingnya terpasang sepeda dengan keranjang bambu, ada juga jam dinding antik dan peralatan untuk menangkap ikan. Di sisi lain, ada cetakan kue jaman dulu hingga bakiak yang terpajang apik di dalam pigura raksasa.

Berbagai kuliner Belitong, sup gangan disajikan di dalam batok kelapa
Berbagai kuliner Belitong, sup gangan disajikan di dalam batok kelapa

Ikan yang digunakan dalam Gangan biasanya ikan kakap merah, ikan ketarap atau ikan bulat. Bumbu kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, lengkuas, sereh dan asam berpadu dengan potongan buah nenas yang memberi sensasi manis-asam. Sup ikan dengan kuah berwarna kuning itu semakin istimewa karena disajikan di dalam batok kelapa muda. Nasi hangat yang dibungkus daun simpor segera kami buka dan diguyur kuah gangan, segar disantap di siang yang panas.

Nasi putih yang dibungkus daun simpor
Nasi putih yang dibungkus daun simpor

Kopi Ake

Selain mencoba makanan khas, kami juga sempat mencicipi kopi racikan khas di Kedai Kopi Ake yang merupakan kedai kopi tertua di Tanjung Pandan. Lokasi kedai kopi ini agak tersembunyi, di dalam gang sempit di belakang ruko kawasan Kafe Senang yang tidak jauh dari Tugu Satam di pusat kota Tanjung Pandan.

Tempatnya tidak istimewa, malah mirip rumah biasa. Akiong, pemilik Kedai Kopi Ake, menyambut kami dengan ramah. Di bercerita, lokasi kedainya ini hanya sementara, karena kedai kopi yang berada di kawasan Kafe Senang sedang direnovasi.

Kedai Kopi Ake sudah berjalan selama tiga generasi, sejak tahun 1922. Abok, kakek Akiong, yang memulai bisnis itu di era penambangan timah zaman kolonial Belanda.

Anda bisa memesan kopi hitam, kopi susu, es kopi atau teh susu (teh tarik) jika Anda tidak terbiasa minum kopi. Beberapa teman memesan telur ayam kampung setengah matang sebagai pendamping minum kopi. Kedai kopi ini tidak menyediakan makanan lain atau kue-kue sebagai pendamping kopi, jadi kunjungan ini hanya benar-benar untuk menikmati kopi.

Akiong terlihat sangat terampil menyeduh bubuk kopi, kemudian memasukkannya ke dalam saringan yang terbuat dari kain tipis yang elastis. Kopi berpindah beberapa kali ke cangkir lalu ke dalam saringan, seperti yang dilakukan di warung-warung kopi di Aceh.

Kopi disaring dengan saringan yang terbuat dari kain
Kopi disaring dengan saringan yang terbuat dari kain

Kopi robusta produk Tanjung Pandan itu akhirnya dituang ke dalam gelas-gelas sederhana. Segelas kopi dengan aroma yang harum khas bau tanah, membentuk lapisan di atas susu kental manis, menunggu untuk diaduk. Itu kopi susu pesanan saya. Rasanya mantap dan tidak asam, tidak ada ampas kopi di dasar gelas karena kopi sudah melalui proses penyaringan.

Tak terasa kami harus segera kembali ke Jakarta. Ketika kami berpamitan, Akiong meminta kami untuk datang lagi suatu saat nanti. (*)

Pesona Pantai Batu Granit Belitung

Penerbangan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta ke Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung hari itu cukup ramai. Setelah terbang sekitar satu jam, pesawat mendarat di bandara yang tidak seberapa besar.

Udara siang itu panas. Tidak ada bagasi yang harus saya tunggu. Di luar, ada rombongan yang menjemput keluarga atau teman yang datang. Ada juga para pengelola paket perjalanan (travel) yang menawarkan sewa kendaraan dengan mobil minibus atau ELF, siap membawa Anda berkeliling Pulau Belitung.

Rombongan kami sekitar 25 orang, disambut oleh Dewi, seorang pemandu wisata yang kemudian menggiring kami ke bus pariwisata yang telah menunggu. Belitung menjadi salah satu destinasi wisata domestik favorit seiring popularitas novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang kemudian diangkat ke layar lebar.

Kami menuju Pantai Tanjung Tinggi, sekitar 30 kilometer dari Tanjung Pandan. Pantai ini juga disebut sebagai Pantai Laskar Pelangi karena menjadi lokasi syuting film tersebut. Udara panas ditingkahi angin sepoi-sepoi ketika bus memasuki tempat parkir di pantai ini. Banyak pohon besar yang menahan terik matahari, ada juga pohon yang usianya terlihat cukup tua, akar-akarnya menjulur memeluk batu-batu granit besar yang ada di sekitarnya.

Pantai Tanjung Tinggi, lokasi syuting film Laskar Pelangi
Pantai Tanjung Tinggi, lokasi syuting film Laskar Pelangi

Batu granit dalam ukuran raksasa bertebaran di pantai ini. Dewi bilang batu-batu itu muncul dari dalam tanah. Ada juga teori yang menyatakan batu-batu itu merupakan hasil erupsi vulkanis Gunung Krakatau.

Gagahnya granit bersanding dengan pasir putih yang lembut, hampir mirip tepung.  Air laut berwarna biru kehijauan dan jernih, ombak di pantai ini pun bersahabat, cocok untuk bermain air, snorkeling atau mencoba perahu kayak. Pantai Tanjung Tinggi ini relatif sepi jika Anda datang bukan di hari libur.

Batu-batu granit menghiasi pantai ini
Batu-batu granit menghiasi pantai ini

Setelah puas menyusuri Pantai Tanjung Tinggi, kami menuju Bukit Berahu. Ini adalah salah satu spot favorit bagi warga Tanjung Pandan untuk menghabiskan sore, menunggu matahari terbenam.

Di Bukit Berahu sudah ada semacam resort, Anda bisa menginap di cottage atau pondok-pondok kayu yang ada di pinggir pantai ini. Dari atas bukit, setelah menuruni hampir seratus anak tangga, Anda akan sampai di bibir pantai. Batu-batu granit masih terlihat di pantai ini, namun tidak sebanyak di Pantai Tanjung Tinggi.

Pondok kayu yang berada di tepi pantai
Pondok kayu yang berada di tepi pantai

 

Pasir Pantai Bukit Berahu juga putih dan lembut. Dari kejauhan, terlihat kapal-kapal nelayan maupun kapal yang lebih besar. Saya menyusuri sisi lain dari pantai ini, yang pasirnya lebih pekat, untuk melihat perahu-perahu nelayan lebih dekat. Ada peringatan yang tertempel di pohon agar pengunjung berhati-hati berenang di pantai ini karena banyak ubur-ubur, sengatnya bisa menimbulkan rasa gatal dan panas seperti terbakar. Sayang, sore itu kurang sempurna karena mendung menutup semburat merah senja.

Pasir putih juga terlihat di Pantai Bukit Berahu
Pasir putih juga terlihat di Pantai Bukit Berahu
Senja di Bukit Berahu diliputi mendung
Senja di Bukit Berahu diliputi mendung

Pergi ke Pulau

Hari kedua di Tanjung Pandan. Destinasi berikutnya adalah Pantai Tanjung Kelayang. Pantai ini lebih ramai dibanding Tanjung Tinggi atau Bukit Berahu. Dari pantai ini, kami akan menuju Pulau Lengkuas, di sana terdapat mercusuar.

Perahu berjajar di tepi pantai
Perahu berjajar di tepi pantai

Perahu-perahu bermotor berjajar di tepi pantai. Biasanya pemilik atau operator perahu bekerja sama dengan pengelola paket perjalanan. Sewa perahu kecil mulai dari Rp 450 ribu sedangkan untuk perahu besar Rp 750 ribu, harga ini sudah termasuk sewa pelampung (life jacket) untuk masing-masing penumpang. Perahu yang besar bisa mengangkut hingga 12 orang penumpang.

Udara yang cerah mendukung aktivitas island hopping kami. Sepanjang perjalanan, kami melewati beberapa spot yang menarik. Batu Garuda adalah salah satu ikon Pantai Tanjung Kelayang. Susunan batu granit dari jauh terlihat seperti burung dengan paruhnya yang lancip, sejenis tanaman semak yang tumbuh di atas batu membuat burung itu seolah-olah berjambul.

Ikon Pantai Tanjung Kelayang
Ikon Pantai Tanjung Kelayang

Selain batu Garuda, ada juga Pulau Pasir atau Pulau Gosong. Ini adalah pulau pasir putih yang kecil, tidak ada vegetasi, bebatuan atau bangunan di atasnya.

Perahu motor melaju cepat di tengah ombak, dari perairan dangkal yang biru jernih dan terlihat dasar lautnya, kami menuju perairan yang lebih dalam. Warna air laut berubah lebih gelap, ombak yang lebih besar mulai terasa. Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di Pulau Lengkuas.

Pantai di Pulau Lengkuas, Desa Tanjung Binga, Belitung ini sama seperti pantai-pantai sebelumnya, dihiasi pasir putih dan batu-batu granit. Satu sisi pantai yang landai menjadi tempat perahu-perahu bermotor merapat. Sisi lainnya yang berbatu-batu jadi sasaran pengunjung yang ingin berfoto di atas batu granit.

Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang merupakan kembaran mercusuar yang ada di Pantai Anyer, Banten
Di Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang merupakan kembaran mercusuar yang ada di Pantai Anyer, Banten

Saya merasa seperti deja vu. Ini kali pertama saya ke Belitung, tetapi mercusuar itu seperti pernah saya kunjungi. Seorang petugas penjaga mercusuar mengatakan, mercusuar ini adalah kembaran dari mercusuar yang ada di Anyer, Banten. Pantas saja saya merasa seperti pernah berkunjung ke mercusuar ini.

Mercusuar ini dibangun pada tahun 1882. Itu bisa Anda baca pada plakat yang ditempel di badan mercusuar ini: Veervaardicd door LI Enthoven & Co, Fabrikanten te Gravenhage 1882.

Penjaga akan meminta Anda melepas alas kaki dan mencuci kaki sebelum mendaki 18 lantai menuju puncak mercusuar. Ini dilakukan untuk menjaga kelestarian mercusuar yang usianya sudah 132 tahun.

Siapkan nafas dan tenaga yang cukup untuk mendaki tangga menuju puncak mercusuar. Pemandangan 360 derajat yang terlihat dari puncak mercusuar memang luar biasa. Gugusan pulau-pulau, putihnya pasir pantai dan gradasi warna air laut, serta kapal-kapal kayu yang berlayar memang memukau. Tetaplah berhati-hati karena hembusan angin cukup kuat di puncak mercusuar.

Bagi pecinta snorkeling, laut dangkal di sekitar Pulau Lengkuas ini juga bisa jadi spot menarik. Namun jika ombak mulai tinggi, sebaiknya tunda aktivitas snorkeling  Anda karena banyak bulu babi (sea urchin) berkeliaran. Jangan sampai duri yang beracun dari si bulu babi melukai kulit Anda, karena bisa menimbulkan bengkak granuloma. Segera tuangkan amonia cair pada kulit yang tersengat duri bulu babi. Untuk mengurangi nyeri, luka bisa dikompres dengan air hangat. Mintalah suntikan anti tetanus untuk mencegah infeksi.

Masih betah rasanya berlama-lama di Pulau Lengkuas, tapi perahu sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke Tanjung Kelayang. Selamat tinggal Belitung, suatu saat kami akan kembali. (*)

Rancabali, Kedamaian Kebun Teh di Pinggir Danau

Warga Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah bosan berlibur ke Bandung, tetapi cobalah tengok Rancabali di Bandung Selatan, sekitar 50 kilometer dari Kota Bandung. Perkebunan teh yang berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII ini menawarkan nuansa yang berbeda. Image

Di lahan seluas 1.530,25 hektare yang berada di lereng Gunung Patuha ini Anda bisa menikmati suasana alam yang asri, dan fasilitas wisata yang cukup memadai. Di ketinggian 1.628 meter di atas permukaan laut ini teh Walini yang sudah diekspor ke berbagai negara diproduksi. Udara sejuk dan hijaunya tanaman teh yang membuai mata mampu membuat kita melupakan hiruk-pikuk kota.

Di Rancabali ada beberapa jenis penginapan yang ditawarkan. Villa Kidang Kencana yang berupa bangunan unik berbentuk segitiga yang terdiri dari dua lantai. Lantai atas untuk dua kamar, masing-masing dengan lima dan tiga tempat tidur. Lantai bawah yang dilengkapi dengan perapian menjadi tempat berkumpul, kemudian ada ruang makan, dapur dan kamar mandi dengan air panas alami. Vila ini mampu menampung 25 orang.

Villa Ciung Wanara yang mampu menampung 15 orang dan memiliki private swimming pool. Kemudian, Cottage Rancabali yang memiliki kapasitas enam orang. Ada empat unit cottage dan lokasinya berada di sebelah kolam renang umum Walini. Ada juga delapan unit rumah kayu kelapa dengan kapasitas tujuh orang per unit yang juga berada di dekat kolam renang umum Walini. Yang terakhir, Villa Patengan yang dibangun tepat di pinggir Situ Patengan (Situ Patenggang) mampu menampung 25 orang. Harga sewa vila maupun cottage di Rancabali ini berkisar Rp 385 ribu hingga Rp 1,25 juta untuk weekdays dan Rp 450 ribu hingga Rp 1,5 juta untuk weekend.

Ketika berkunjung ke Rancabali, akhir Mei lalu, rombongan kami yang terdiri dari sembilan orang memilih menginap di Villa Patengan (Wisma Sasaka). Lokasi vila yang berada di pinggir danau benar-benar strategis, kebun teh bisa disambangi dengan berjalan kaki, begitu pula jika ingin berkeliling danau atau situ tersebut. Dari lantai dua vila, terlihat pemandangan Situ Patengan yang dikelilingi perbukitan hijau dan Gunung Patuha.

Image

Kisah Batu Cinta  

Situ Patengan yang menjadi daya tarik utama lokasi vila kami, berada di bawah pengelolaan PT Perhutani. Nama situ atau danau ini berasal dari kata pateang-teangan yang artinya saling mencari. Alkisah pada zaman dahulu ada dua sejoli bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis. Ki Santang, yang merupakan keponakan dari Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) sedangkan Dewi Rengganis adalah putri Kerajaan Majapahit. Perang Bubat membuat kedua sejoli ini terpisah.

Setelah sekian lama mencari, pasangan kekasih ini bertemu kembali di Batu Cinta yang terdapat di dekat Pulau Asmara yang berada di tengah Situ Patengan. Konon, jika Anda menyentuh Batu Cinta bersama pasangan kita, maka hubungan Anda bakal langgeng.

Image

Untuk mencapai Batu Cinta, Anda bisa mengayuh sepeda air yang berbentuk angsa maupun naik perahu kayu yang sudah diparkir berjejer di tepi danau. Ongkos naik perahu pulang pergi dari pinggir danau ke Batu Cinta sebesar Rp 25 ribu per orang. Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk menuju Batu Cinta jika Anda menumpang perahu, kalau naik sepeda air tentu tergantung seberapa cepat Anda mengayuhnya.

Waktu terbaik untuk menjelajah Situ Patengan atau sekadar tea walk di kebun teh Rancabali adalah pagi hari, ketika matahari baru saja terbit. Anda akan mendapatkan pemandangan yang mempesona, air danau yang tenang menjadi cermin bagi birunya langit dan hijaunya pegunungan. Sinar mentari yang hangat menelusup di sela-sela dedaunan, menimbulkan uap bergerak pelan di atas permukaan danau. Inilah kenang-kenangan indah yang akan membuat Anda susah melupakannya. (*)

Tulisan dimuat di harian Indonesia Finance Today, 13 Juni 2014