Menikmati Keindahan Alami Sawarna (2): Tanjung Layar

Setelah main-main ke Goa Lalay, kami kembali ke penginapan. Matahari sudah tinggi, panasnya cukup menyengat.

Setelah menyantap makan siang, kami punya waktu beberapa jam untuk beristirahat. Udara di luar cukup panas, kipas angin yang ada di dinding kamar tak mampu mengusir gerah. Tapi siang itu kami sempat tidur sebentar, mungkin karena lelah sehabis tracking ke goa.

Ba’da Ashar, kami bersiap untuk menuju Pantai Tanjung Layar. Seperti yang sudah-sudah, kami berjalan kaki dari penginapan menuju Pantai Tanjung Layar. Sebenarnya bisa saja Anda menyewa ojek untuk ke Pantai Tanjung Layar. Tapi jalan kaki pun tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 30-45 menit. Tiket masuk ke Pantai Tanjung Layar ini seharga Rp 5.000 per orang.

Kami menyusuri jalan tanah yang tidak terlalu lebar menuju Pantai Tanjung Layar.
Kami menyusuri jalan tanah yang tidak terlalu lebar menuju Pantai Tanjung Layar.
Inilah batu karang yang mirip layar sehingga pantai ini dinamai Pantai Tanjung Layar
Inilah batu karang yang mirip layar sehingga pantai ini dinamai Pantai Tanjung Layar

Akhirnya kami sampai juga di Pantai Tanjung Layar, sambil menunggu sunset. Kami bermain air dan berfoto di dekat karang tersebut.

Sesekali ombak memecah di karang yang ada di pantai ini
Sesekali ombak memecah di karang yang ada di pantai ini

Kami terlalu asyik bermain air, sampai tak sadar air mulai pasang. Kami buru-buru ke pinggir pantai. Ups, saya tergelincir dan kamera saya pun masuk ke dalam air. Kisah sedih bermula di sini. Ah, kamera saya pasti rusak kemasukan air.

Ketika sampai di pantai, segera saya keluarkan baterai dari kamera dan mengeringkannya sebisa mungkin. Ah, padahal sebentar lagi sunset…

Maafkan, foto-foto berikutnya mungkin kurang bagus karena diambil dengan kamera Blackberry.

Ombak tinggi menerpa karang
Ombak tinggi menerpa karang

 

Matahari sebentar lagi tenggelam
Matahari sebentar lagi tenggelam

Menunggu sunset memang harus sabar, tapi ketika sunset datang. Wow, benar-benar indah. Sebuah penantian yang berbuah manis.

Sinar matahari keemasan, senja begitu indah di Tanjung Layar
Sinar matahari keemasan, senja begitu indah di Tanjung Layar

 

Ketika senja semakin sempurna, rasanya tak ingin beranjak dari tempatku memandang sang surya tenggelam.
Ketika senja semakin sempurna, rasanya tak ingin beranjak dari tempatku memandang sang surya tenggelam.

Menikmati Keindahan Alami Sawarna (1)

Akhir April lalu, saya mengikuti trip ke Sawarna, Banten. Semua ini berawal dari rasa penasaran karena banyak teman yang sudah lebih dahulu mengunjungi Sawarna bercerita tentang keindahannya.

Semula saya berencana berangkat berdua dengan teman saya, tetapi akhirnya saya harus berangkat sendiri karena teman saya mendadak ada keperluan. Perjalanan dimulai Jumat pukul 22.00 dari Jakarta. Rombongan trip ini cukup banyak, sekitar 40-an orang dan dibagi menjadi dua kelompok dengan mobil ELF dari pihak travel. Kami menggunakan rute Bogor-Pelabuhan Ratu-Sawarna.

Perkiraan awal, rombongan kami akan tiba di Sawarna sekitar pukul 03.00 hari Sabtu. Ternyata, perkiraan ini meleset. Lalu lintas yang cukup padat ditambah driver yang belum terlalu kenal medan, memaksa rombongan beberapa kali berhenti untuk memastikan rute yang dituju benar. Ini alamat agenda pertama untuk menyaksikan sunrise di Pantai Tanjung Layar, Sawarna bisa gagal.

Benarlah, sekitar pulul 05.30 kami baru memasuki Desa Bayah dan pukul 06.00 sampai di gerbang Desa Wisata Sawarna. Setelah memarkir mobil, rombongan turun dan menyeberangi jembatan gantung menuju penginapan. Homestay Widi adalah tempat penginapan kami. Saya satu kamar dengan tiga traveler lainnya. Kamarnya cukup bersih, ada dua kasur busa ukuran besar yang diletakkan di atas lantai. Ada juga kamar mandi di dalam dan kipas angin yang menempel di dinding.

Setelah bebenah dan mandi, kami menikmati sarapan yang disiapkan Ibu Widi.

Ibu ini sedang menanak nasi untuk sarapan penghuni Homestay Widi
Ibu ini sedang menanak nasi untuk sarapan penghuni Homestay Widi
Nasi yang baru ditanak mengepulkan uap, diangin-anginkan dulu supaya pulen
Nasi yang baru ditanak mengepulkan uap, diangin-anginkan dulu supaya pulen
Homestay Widi ini lokasinya di dekat sawah. Dari kejauhan juga terlihat gunung
Homestay Widi ini lokasinya di dekat sawah. Dari kejauhan juga terlihat gunung

Setelah sarapan, kami bersiap untuk jalan kaki menuju Goa Lalay. Dari penginapan kami berjalan kaki sekitar satu jam menuju goa tersebut. Kami juga melewati jembatan gantung (lagi) sebelum sampai di lokasi Goa Lalay.

Desa Sawarna memiliki beberapa jembatan gantung. Salah satunya, jembatan yang menuju Goa Lalay ini.
Desa Sawarna memiliki beberapa jembatan gantung. Salah satunya, jembatan yang menuju Goa Lalay ini.

Lalay dalam bahasa Sunda berarti kelelawar. Ya, goa ini merupakan rumah bagi para kelelawar. Tiket masuk ke goa ini cukup murah, yaitu Rp 2.000 per orang. Kita juga bisa menyewa helm dan alat penerangan (senter) di sini seharga Rp 5.000.

Mulut goa ini cukup besar tetapi atapnya rendah sehingga pengunjung harus berhati-hati ketika masuk ke goa ini. Sepatu atau sandal dan alas kaki lainnya diminta untuk dilepas. Sebaiknya kita mengamankan barang-barang bawaan kita dalam tas atau wadah yang kedap air karena di dalam goa ini terdapat sungai. Ketika masuk ke dalam goa ini, kaki kita akan terendam hingga setinggi paha orang dewasa. Bahkan, jika debit air sedang banyak di musim hujan, ketinggian air di dalam goa bisa sepinggang orang dewasa.

Inilah Goa Lalay. Di dalamnya terdapat stalagtit dan stalagmit. Juga para kelelawar.
Inilah Goa Lalay. Di dalamnya terdapat stalagtit dan stalagmit. Juga para kelelawar.