Trip to Penang (6)

Setelah mengunjungi Khoo Khongsi Temple, saya kembali berjalan menyusuri kawasan Little India. Di sepanjang jalan terdapat banyak toko-toko kebutuhan khas India, seperti toko yang menjual berbagai kain sari hingga toko yang menjual bunga dan perlengkapan untuk sembahyang.

Di Little India, suasana yang berbeda bisa Anda rasakan ketika berjalan di antara toko-toko yang menjual aksesoris India, perlengkapan sembahyang, hingga kain sari yang berwarna-warni.

Keluar dari kawasan Little India, saya masih menyusuri Queen Street hingga Gat Lebuh China. Saya melihat beberapa gedung tua yang menarik, seperti Georgetown Dispensary yang didirikan oleh Dr Thadeus Avetoom pada tahun 1889. Gedung ini dibangun tahun 1923 dan menjadi pusat kegiatan perdagangan para pedagang Eropa di Penang. Georgetown Dispensary bersebelahan dengan gedung Georgetown Chamber yang merupakan markas para pengacara dan dokter.

Gedung ini pada masa jayanya menjadi pusat aktivitas perdagangan para pedagang asal Eropa di Penang.
Pesona gedung tua di Georgetown menjadi daya tarik bagi calon pengantin yang ingin mendapatkan foto Prewedding yang unik.

Selain itu, ada juga Wisma Kastam yang letaknya dekat dengan Pengkalan Weld Quay (terminal ferry dan bus di Pulau Pinang). Wisma Kastam ini sebelumnya adalah gedung Malayan Railway yang dibangun tahun 1907. Pada masa itu, gedung ini dikenal sebagai satu-satunya stasiun kereta api tanpa rel kereta api di dunia. Calon penumpang yang membeli tiket di stasiun ini kemudian akan diangkut dengan ferry ke Penang daratan di mana mereka akan diberangkatkan dari Stasiun Butterworth.

Gedung ini dahulu merupakan gedung Malayan Railway, satu-satunya stasiun kereta api yang tidak memiliki rel kereta.

Kemudian dari Wisma Kastam saya berjalan ke Pengkalan Weld Quay dan menunggu shuttle bus gratis Central Area Transit atau yang dikenal sebagai CAT Bus. Perjalanan menjelajah Georgetown sebenarnya bisa dilakukan dengan bus ini kalau Anda tidak ingin capek berjalan. CAT Bus melewati 19 spot wisata di Georgetown, antara lain Gereja St George, Queen Victoria Memorial Clock, Chowrasta Market, City Hall, dan lain-lain. Busnya nyaman dan ber-AC tetapi pada jam-jam tertentu bus ini juga bisa sangat penuh karena bukan hanya turis yang memanfaatkan bus ini. Warga Penang juga mengantre untuk naik ke bus ini.

St George Church di Georgetown, Penang merupakan gereja anglican tertua di Asia Tenggara.

Perhentian saya selanjutnya adalah Gereja St George (St George Church) yang merupakan gereja Anglican tertua di Asia Tenggara. Gereja ini terletak di Lebuh Farquhar. Pendeta R Hutchings mendapatkan bantuan dari East India Company untuk membangun gereja ini pada tahun 1816.

Octagonal dome yang ada di depan St George Church ini dibangun untuk mengenang kepemimpinan Sir Francis Light di Penang

Di depan gereja ini memiliki bangunan kubah segi delapan (octagonal dome) yang dibangun pada 1886 untuk memperingati pemerintahan Francis Light di Penang. Kubah tersebut saat ini berfungsi sebagai Francis Light Memorial Hall.

Halaman St George Church ini cukup luas, menambah kesan megah bangunan tersebut

Saya meninggalkan gereja tersebut dan menyusuri Lebuh China yang ujungnya bertemu dengan Jalan Masjid Kapitan Keling di mana terdapat Goddess of Mercy Temple. Kuil ini merupakan kuil China pertama di Penang pada tahun 1801. Ternyata, kuil ini dekat sekali dengan hostel tempat saya menginap.

Pada sore hari, pengunjung Goddess of Mercy Temple tidak terlalu ramai. Banyak burung dara berkumpul mencari makan di halaman kuil ini.

Kuil ini juga dikenal dengan nama Kong Hock Keong. Goddess of Mercy dalam kepercayaan China dikenal dengan nama Dewi Kuan Yin. Namun, pada awal kuil ini dibangun sebenarnya bukan didedikasikan untuk Dewi Kuan Yin melainkan untuk Ma Chor Po yang merupakan dewa pelindung para pelaut.

Kuil ini merupakan kuil China pertama di Penang.

Jika dibandingkan dengan kuil-kuil lain yang saya kunjungi, kuil Goddess of Mercy ini terlihat paling sederhana. Halamannya terbuka langsung ke jalan raya, bangunannya terlihat agak kusam dan kurang terurus dibanding kuil-kuil lainnya tetapi kuil ini paling ramai dikunjungi mereka yang ingin berdoa dan memohon berkah baik dari Yang Maha Kuasa.

Asap mengepul dari dupa ukurang besar yang dibakar para pengunjung kuil ini.

Perjalanan saya menjelajah Georgetown berakhir di kuil ini. Matahari sudah terbenam dan memasuki waktu Magrib. Saya pun kembali ke hostel untuk mandi dan beristirahat. (*)

Advertisements

2 thoughts on “Trip to Penang (6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s