Trip to Penang (5): Khoo Kongsi

Matahari semakin tinggi. Tanpa terasa saya sudah berjalan 4-5 kilometer berkeliling Georgetown.

Panas matahari yang cukup menyengat, membuat saya kehausan. Bekal air minum yang dibawa dari hostel sudah kosong. Perut pun mulai keroncongan. Saya mulai mencari warung makan untuk makan siang. Saya kembali ke Lebuh Chulia di mana terdapat warung nasi kandar Kassim Mustafa. Di kedai ini makanannya halal dan ada bermacam pilihan mulai dari nasi kandar dengan berbagai lauk, kwetiau dan mie goreng, hingga rojak Penang.

Restoran ini menyebut dirinya salah satu restoran nasi kandar yang terkenal di Penang. Pada waktu makan siang, restoran ini sangat ramai dengan pengunjung.

Saya memilih nasi kandar dengan lauk kari burung puyuh. Ternyata porsinya besar, seperti nasi Padang 🙂 Lalu untuk minumnya saya pesan tea ais (saya pikir es teh biasa), eh yang datang adalah teh tarik yang disajikan dingin dengan es. Makan siang saya sebenarnya cukup istimewa tapi bumbu karinya terlalu tajam untuk selera saya dan porsinya yang besar tidak mampu saya habiskan. Total pengeluaran saya untuk menu makan siang ini RM 7,8.

Kari burung puyuh ini cukup kental dan spicy
Ini teh tarik yang disajikan dingin. Cocok diminum waktu udara panas.

Capek setelah berjalan kaki di bawah terik matahari, saya putuskan untuk kembali ke hostel dulu untuk beristirahat dan menunggu matahari tidak terlalu galak. Ada baiknya traveler ke Penang ini selalu sedia topi atau payung dan sunblock supaya kulit tidak terbakar.

Inilah kuil termegah di Penang yang dibangun pada masa kejayaan klan Khoo.

Setelah beristirahat sekitar satu jam, saya melanjutkan trip jalan kaki keliling Georgetown. Tujuan berikutnya adalah Leong San Tong Khoo Kongsi Clan House atau yang lebih dikenal sebagai Khoo Kongsi Temple. Kuil ini terletak Cannon Street tetapi tidak terlihat begitu saja dari jalan karena posisinya agak masuk ke dalam. Kuil yang termegah di Penang ini dibangun oleh para imigran dari desa Sin Kang, di Provinsi Hokkien, China.

Tangga menuju bagian dalam Khoo Kongsi Temple

Jam buka kuil ini adalah pukul 09.00 – 17.00 waktu setempat. Pengunjung harus membeli tiket masuk seharga RM 10 dan mendapatkan bonus berupa kartu pos bergambar kuil ini.

Altar di kuil ini terlihat megah dengan warna emas yang dominan.

Menurut sejarah, pada abad ke-17 para anggota klan Khoo termasuk golongan pedagang kaya dari China yang datang ke Malaka dan Penang. Komplek kuil ini pada awal abad ke-19 menjadi semacam miniatur desa dari klan Khoo. Desa tersebut memiliki sistem pemerintahan sendiri, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.

Dinding ini dipenuhi nama-nama anggota klan yang memiliki jabatan penting.

Namun, pada tahun 1894 kawasan ini terbakar karena dianggap menyaingi istana kaisar China.  Kuil ini dibangun kembali pada tahun 1906 ketika para anggota klan Khoo memasuki masa kejayaannya.

Ruang museum ditata artistik dengan layar besar di dinding yang menampilkan gambar Khoo Kongsi Temple dengan hiasan lampion-lampion cantik.

Di bagian bawah kuil ini terdapat semacam museum yang menyimpan beberapa buku kuno milik leluhur klan ini. Kemudian, terdapat mini theather di mana pengunjung bisa menyaksikan sejarah klan Khoo Kongsi.

Yang menarik, di museum ini juga terdapat sejumlah diorama yang menggambarkan kegiatan penghuni komplek ini pada masa lalu.

Ini pintu menuju diorama situasi dapur di Khoo Kongsi Clan House
Di sini digambarkan suasana dapur tempo dulu yang menggunakan gerabah tanah liat sebagai alat masak.
Diorama yang menunjukkan satu keluarga tengah menikmati saat makan bersama.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s