Trip to Penang (4)

Perhentian saya selanjutnya adalah Lebuh Campbell (Campbell Street) yang merupakan bagian dari  Chinatown di Georgetown, Penang. Nama Campbell berasal dari Sir George William Robert Campbell yang menjabat letnan gubernur pada tahun 1866-1891.

Minggu pagi ketika saya berjalan melintasi kawasan ini masih terlihat sepi. Beberapa toko belum buka.

Masyarakat setempat menyebut kawasan ini ‘sin kay’ atau jalan baru. Tetapi pada  akhir abad ke-19 hingga awal abad 20, kawasan ini menjadi red light district karena banyak brothel yang bermunculan di sini. Kata ‘sin kay’ pun menjadi berkonotasi negatif karena banyak yang mengartikan sebagai ‘pelacur baru’ yang kebanyakan didatangkan dari Kanton. Orang Melayu menyebut kawasan ini dengan Jalan Makau, ini mengacu pada pelabuhan tempat para pelacur tersebut didatangkan.

Gedung tua bekas Syarikat Tai Tong di Lebuh Campbell

Pada pertengahan abad ke-20, kawasan ini berkembang sebagai pusat perdagangan. Banyak toko-toko di wilayah ini menjual pakaian, jam tangan, sepatu hingga perhiasan. Saat ini banyak toko di kawasan Lebuh Campbell ini menjadi toko grosir, yah kurang lebih seperti Kawasan Mangga Dua kalau di Jakarta.

Gerbang ini merupakan pintu masuk ke kawasan Lebuh Campbell. Saya baru melihatnya setelah keluar dari Lebuh Campbell karena saya datang dari arah Lebuh Buckingham.

Keluar dari Lebuh Campbell, saya berjalan menuju Chowrasta Market. Pasar ini merupakan salah satu pasar tradisional di Penang. Chowrasta berasal dari bahasa Urdu yang berarti persimpangan empat jalan (pasar di perempatan) karena pasar ini terletak di antara Penang Road, Jalan Chowrasta, Jalan Kuala Langsar, dan Lebuh Tamil.

Di pasar ini banyak kios yang menjual souvenir dan pernak-pernik bertema Penang dan Malaysia dengan harga miring walaupun kualitasnya tidak terlalu bagus.  Souvenir yang dijual mulai dari magnet tempelan kulkas, t-shirt bergambar Penang Bridge atau bertuliskan Penang, gantungan kunci, hingga daster dan baju batik Malaysia. Harganya bervariasi, mulai RM 1 untuk gantungan kunci dan rata-rata RM 6 untuk t-shirt. Kalau Anda membeli dalam jumlah banyak, cobalah menawar untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Di pasar ini juga banyak warung makan, kedai kopi, dan penjual berbagai makanan yang patut dicoba tetapi untuk Anda yang muslim harus lebih berhati-hati karena tidak semua kedai menyebutkan makanannya halal atau non-halal. Jadi, Anda harus bertanya kepada pengelola kedai.

Salah satu jajanan yang harus dicoba adalah Ais Cendhul dan Ais Kachang di Chowrasta Market. Pada siang hari yang cukup terik, semangkuk Ais Cendhul atau Ais Kachang akan menjadi pelepas dahaga yang menyegarkan. Di pasar ini ada dua kios Ais Cendul yang selalu ramai dikunjungi pembeli.

Saat siang tiba, antrean pembeli semakin panjang.

Saya ikut mengantre untuk mencoba mencicipi semangkuk Ais Kachang. Di kios ini sebenarnya ada beberapa jenis minuman yang dijual selain Ais Cendhul (mirip dengan es cendol yang ada di Indonesia), Ais Kachang, Ais Makan, ABC (Air Batu Campur atau es campur), dan Ais Sirap (es sirup). Harga jajanan ini murah saja sekitar RM 2,2 per mangkuk.

Melihat dari dekat macam-macam minuman yang tersedia di kedai ais cendhul dan ais kachang

Sebenarnya saya memesan Ais Kachang tetapi uncle penjual es telanjur membuatkan Ais Makan. Ternyata Ais Makan ini isinya ada cendol, kacang merah, jagung manis, kolang-kaling dan es serut yang kemudian disiram sirup merah dan susu kental manis. Wah, rasanya manis dan yummy!

Dalam mangkuk ini ada macam-macam isinya, ada cendol, jagung manis, kacang merah, kolang-kaling dan es serut.

Setelah jajan es, saya melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Georgetown, Penang. Saya sempat mampir ke Komplek Tun Abdul Razak (KOMTAR) yang merupakan bangunan tertinggi di Penang. Menara KOMTAR ini tingginya mencapai 232 meter.

Di komplek ini terdapat pusat perbelanjaan dan terminal bus jadi menurut saya tidak terlalu menarik. First time traveler hanya perlu tahu kalau di semua bus di Penang melewati terminal KOMTAR. Jadi, kalau merasa tersesat atau hilang arah, cari saja KOMTAR dan dari sana Anda bisa mencari bus yang sesuai dengan tujuan Anda.

Saya kembali berjalan, kali ini menuju Jalan Burma. Di sini terdapat bangunan yang menarik dari asosiasi Saw Khaw Lean (Heah) Kongsi. Klan ini dikenal dengan marga Koh dan Khor. Beberapa tokoh terkemuka dari klan ini adalah Tan Sri Dr Koh Tsu Koon yang merupakan mantan kepala menteri di Penang dan Khaw Sim Bee, Gubernur Ranong dan Phuket pada akhir abad ke-19.

Bangunan milik klan Saw Khaw Lean ini dicat warna-warni. Di sini selain terdapat kuil juga ada semacam gedung pertemuan.
Bangunan yang unik, dengan perpaduan gaya arsitektur oriental dan barat.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s