Trip to Penang (3)

Setelah menyusuri Lebuh Chulia, saya sampai di sudut Lebuh Buckingham di mana terdapat Masjid Kapitan Keling.Masjid ini merupakan masjid yang paling terkenal di Penang. Konon, masjid ini dibangun oleh komunitas India muslim pada tahun 1800.

Di ujung jalan ini terletak Masjid Kapitan Keling

Nama kapitan keling terinspirasi dari Caudeer Mohudeen, pemimpin komunitas India muslim tersebut. Kata ‘keling’ berasal dari nama kerajaan Hindu di pesisir Coromandel, India Selatan. Ada juga yang bilang kalau kata keling itu berasal dari dialek Hokkien yang menyebut orang India dengan sebutan ‘keling-na’

Masjid ini dibangun oleh komunitas India muslim pada tahun 1800.

Kapitan berasal dari bahasa Inggris ‘captain’ yang digunakan untuk menyebut pemimpin komunitas tertentu. Pada masa itu, pemimpin komunitas China juga disebut Kapitan China.

Menara masjid ini terlihat anggun, menjulang di langit biru.

Masjid ini cukup luas dan megah dengan beberapa menara yang menjulang. Di depan kawasan masjid ini saya lihat banyak burung dara dan burung gagak. Memang di depan masjid ini terdapat satu pohon besar yang sepertinya menjadi tempat bersarang burung-burung gagak. Keberadaan burung dara mungkin bisa kita temui di beberapa tempat wisata, di Indonesia maupun di luar negeri. Tetapi, burung gagak? Rasanya jarang.

Burung-burung gagak ini bersarang di sebuah pohon besar di depan Masjid Kapitan Keling.

Di dekat masjid ini juga terdapat Yap Temple. Jadi, di Penang terdapat beberapa klan (keluarga) dari etnis China dan rata-rata setiap klan memiliki kuil tersendiri. Pada tulisan sebelumnya, kuil Teochew dibangun oleh komunitas Teochew dari Guangdong, China. Nah, di Penang klan Yap ini ada dua. Klan yang pertama adalah Tong Eng Siah Kongsi yang sejarahnya dimulai dari akhir abad ke-19. Klan yang kedua adalah Hooi Theik Choon  Ong Yap Kongsi yang sejarahnya dimulai tahun 1910.

Di kawasan ini terdapat Yap Temple.

Kedua klan ini akhirnya bergabung membentuk klan Lum Yeong Tong Yap Kongsi dan membangun kuil ini di daerah Lebuh Armenian. Pembangunan kuil ini selesai sekitar tahun 1924. Menurut saya, bangunan kuil Yap ini tidak terlalu besar tetapi lebih menarik dari sisi ornamen dan warna yang digunakan dominan hijau. Lihat saja hiasan ukiran naga yang ada di atap kuil ini.

Meski mungil, kuil ini memiliki arsitektur yang menarik dan ornamen yang eye catching.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s